You are here

Jejaring Gizi Indonesia

Subscribe to Jejaring Gizi Indonesia feed
Jejaring Gizi Indonesia
Updated: 2 hours 59 min ago

Waspada Es Batu dari Air Mentah

Mon, 11/24/2014 - 22:55

Jakarta – REPUBLIKA.CO.ID — Saat cuaca panas terik, memang nikmat minum segelas minuman dingin lengkap dengan es batu. Jika kita minum air dingin dengan es batu di rumah, sudah pasti akan terjamin kesehatannya karena kita membuat es batu sendiri dengan air matang yang sudah dimasak.  Tapi, apabila Anda membelinya di luar rumah, di jalan atau di restoran apakah sudah terjamin keamanannya? Apakah air yang digunakan untuk membuat es batu adalah air matang? Jawabannya belum pasti air matang. Menurut Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Dr Roy A. Sparringa, M.App.Sc, bahan baku untuk membuat es batu itu bervariasi.

Tapi, penggunaan es batu dengan air mentah memang masih memprihatinkan. Salah satu sumber cemaran kuman utama dari yang kita konsumsi berasal dari es batu tersebut.

“Untuk itu kami sangat concern dengan keamanan dari es batu,” ujarnya kepada Republika melalui pesan singkatnya, Senin (24/11).

Jika bahan yang digunakan untuk membuat es batu adalah air mentah, lanjut Roy, dampaknya tentu bisa berisiko bagi kesehatan. Jika air tersebut mengandung patogen, tentu berdampak buruk bagi yang mengkonsumsinya. “Patogen justru dapat bertahan lama dalam es batu,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Roy juga pernah mengingatkan ada beberapa pangan jajan anak sekolah (PJAS) yang tidak memenuhi syarat dan mengandung bahan berbahaya.

Ada pula yang menggunakan bahan tambahan pangan melebihi batas yang diizinkan. Sejumlah kudapan bahkan memiliki kualitas mikrobiologi yang buruk. Data BPOM hingga semester satu tahun 2013 menunjukkan kudapan yang angka mikrobiologinya buruk masih sangat tinggi yakni 76 persen.

Tingginya permasalahan kualitas mikro biologi PJAS tersebut berasal dari rendahnya kesadaran higiene dan sanitasi penjual. Terbatasnya akses air bersih serta terbatasnya sarana dan prasarana yang memenuhi persyaratan kebersihan juga turut memengaruhi buruknya potret PJAS.

“Beberapa makanan dan minuman yang tidak memenuhi syarat di antaranya es, minuman berwarna dan sirup, jelly atau agar, bakso, dan mi,” ungkap Roy. Hasil uji coba BPOM menunjukkan jenis pangan yang paling tidak memenuhi syarat adalah produk es.

Kualitas mikrobiologinya terburuk karena terbuat dari air yang tidak memenuhi persyaratan kualitas air minum, tanpa klorinasi, dan tidak dimasak terlebih dahulu.

“Es balok sebenarnya digunakan untuk pendingin ikan, bukan untuk dikonsumsi,” jelas Roy kala itu.  Dengan mengkonsumsi es balok dan jajanan yang tak memenuhi syarat lainnya, anak akan mudah terpapar penyakit. Baik penyakit jangka pendek maupun jangka panjang. Penyakit yang paling sering dijumpai adalah diare, tipus, dan keracunan makanan.

Anak yang mengkonsumsi es balok juga ikut mengkonsumsi bakteri yang ada di dalam es balok yang terbuat dari air mentah.  “Bakteri tidak dapat mati dengan pembekuan, justru malah awet,” papar Roy mengingatkan.

Sumber: Republika Online – Senin, 24 November 2014

 Reporter : desy susilawati

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

Modul dan Kurikulum Pelatihan Surveilans Gizi Hampir Final

Thu, 11/20/2014 - 22:17

Jakarta, GIZINET (20/11). “Draft Modul dan Kurikulum sudah hampir final, jadi pada pertemuan nasional tanggal 7-9 Desember sudah bisa disosialisasikan,” demikian Kasubdit Bina Kewaspadaan Gizi (BKG), Galopong Sianturi SKM, MPH,  mengatakan di Bogor hari ini.

“Sudah sejak lama ditengarai pelaksanaan surveilans gizi tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, dan dengan terbitnya Buku Surveilans Gizi yang lebih bersifat pegangan umum, mendasari pemikiran perlunya suatu pelatihan bagi petugas gizi.” Lanjut Sianturi.

“Untuk melatih surveilans gizi yang sesuai dengan buku pegangan tersebut, diperlukan Module dan Kurikulum Pelatihan. Sejak bulan Agustus lalu kami telah meminta Tim Khusus yang terdiri dari DR Abas B. Jahari MPH (Badan Litbangkes), Ir Tatang S. Falah MSc dan Ir Eman Sumarna MSc (PERSAGI), dibantu oleh Poltekkes Jakarta II, Poltekkes Bandung, dan Pusdiklat Aparatur Kesehatan, untuk menyusunnya.” Sianturi menambahkan.

Pada kesempatan berdialog, Kasubdit BKG juga menjelaskan bahwa mulai tahun 2015 akan disiapkan tenaga Pelatih melalui Pelatihan bagi Pelatih (TOT), sehingga dapat disebar ke beberapa wilayah untuk melatih petugas pelaksana gizi daerah.  “Dengan demikian, kegiatan surveilans gizi nantinya diharapkan tidak hanya sekedar normatif atau dikerjakan hanya di atas meja saja, tapi dapat benar-benar berjalan sehingga upaya preventif masalah gizi dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, tanggal 7-9 Desember akan diselenggarakan sebuah pertemuan nasional program gizi yang akan menyajikan selain kebijakan program lima tahunan, juga tentang Pedoman Gizi Seimbang serta Modul dan Kurikulum Pelatihan Surveilans Gizi. (tim gizinet).

Ingin ASI Banyak? Makan Makanan Ini

Tue, 11/04/2014 - 09:37

Selain untuk kesehatan ibu setelah melahirkan, nutrisi yang mencukupi juga dibutuhkan bayi sebab akan memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI. Misalnya, makanan yang kaya zat besi karena ibu kehilangan banyak darah saat melahirkan dan asupan berkalsium agar produksi ASI tetap lancar.

Nah, berikut ini adalah pilihan makanan yang tepat usai melahirkan:

Menyusui Saat Berpuasa itu Menyehatkan, Asal…

 

1. Produk susu rendah lemak
Beberapa produk susu rendah lemak seperti yoghurt, susu, atau keju  dapat membuat produksi ASI lebih banyak. Makanan ini juga mengandung protein, vitamin B, dan vitamin D serta sumber kalsium terbaik yang dapat membantu perkembangan dan pertumbuhan tulang bayi.

2. Telur
Telur adalah kombinasi sempurna dari lemak dan protein yang diperlukan wanita dalam diet sehat setelah melahirkan. Telur bisa membantu menjaga tubuh tetap kuat dan baik untuk perkembangan otak bayi.

3. Ikan salmon
Ikan salmon bagus untuk otak dan saraf bayi karena mengandung asam lemak Omega-3. Ikan salmon juga baik untuk kesehatan jantung.

4. Daging sapi
Daging sapi memiliki kandungan protein, zat besi, dan vitamin B12. Nutrisi-nutrisi tersebut baik untuk mengembalikan energi setelah melahirkan dan meningkatkan kualitas ASI.

5. Kacang-kacangan
Kacang hitam dan kacang merah kaya akan zat besi dan mengandung banyak protein nabati sehingga bisa  memperbanyak produksi ASI.

Selamat mencoba!

Ditinjau oleh dr. Fransisca Alvionita
Sumber: www.meetdoctor.com, https://id.she.yahoo.com/ingin-asi-banyak–makan-makanan-ini-042214991.html

Lomba pembuatan jingle HUT emas Kemenkes RI

Thu, 10/30/2014 - 13:53
Ikuti Lomba Pembuatan Jingle Menyambut Hari Ulang Tahun Emas Kementerian Kesehatan RI

 

TEMA JINGLE :

STOP MEROKOK

PERSYARATAN PESERTA:

  1. Terbuka untuk umum
  2. 1 peserta dapat mengirim 2 jingle
  3. Jingle dapat dikirim dalam bentuk CD dengan Format MP3 berdurasi 1 – 2 menit

KRITERIA

  1. Jingle yang dibuat mewakili musik ringan dan mudah diterima oleh seluruh masyarakat, berbahasa Indonesia
  2. Jingle adalah karya asli Penulis dan bukan mengambil/memindahkan karya orang lain
  3. Lirik, melodi, aransemen dan genre music bebas (etnik, pop, rock, reggae, blues dll)
  4. Jingle dinyanyikan dan diiringi minimal dengan 1(satu) alat music

KRITERIA PENILAIAN

  1. Original
  2. Kreatifitas
  3. Kesesuaian

HADIAH

  1. JUARA I    è  Trophy + Rp. 3.000.000,-
  2. JUARA II   è  Trophy + Rp. 2.000.000,-
  3. JUARA III   è  Trophy + Rp. 1.000.000,-

 

CD dapat diserahkan ke Panitia Lomba Jingle paling lambat tanggal 30 Oktober 2014

Contact Person : Aggriany Aprillia Sampe, ST (081318889379)

Email: aprillia_sampe@yahoo.com

 

 

 

 

Piranti Lunak NutriClin Bisa Diunduh

Wed, 10/22/2014 - 11:36

Jakarta, 22-10-14/Gizinet. Piranti lunak NutriClin versi 3.0 sekarang sudah dapat Anda unduh melalui panel menu pada situs jaringan GIZINET. Memang masih ada beberapa kekurangan, yang mudah-mudahan pada tahun 2014 ini bisa diperbaiki. Namun demikian, untuk proses pembelajaran dapat digunakan, karena kemungkinan panel menu tidak akan banyak berubah.  Gambar dibawah ini langkah-langkah untuk mengunduh melalui situs jaringan GIZINET.

NutriClin versi 3.0 masih berbasis 32 bit tetapi sudah dapat dioperasikan pada OS Windows berbasis system 64 bit, dengan mengaktifkan file pendukungnya yang sudah disediakan. Saran-saran dari para pengguna situs GIZINET sangat berarti bagi kami, dan sebagian sudah dimasukkan dalam rancangan perbaikan tahun ini.

Piranti lunak NutriClin pada dasarnya adalah alat bantu konseling gizi, yang diharapkan dapat membantu proses konseling gizi di poliklinik gizi. Jika pengguna adalah Ahli Gizi dan sudah mahir dan menguasai menu-menu dalam NutriClin, ada beberapa manfaat yang dapat  diperoleh. Diantara manfaat itu adalah : 1) Efisiensi waktu karena tidak perlu lagi membuka Buku Daftar Komposisi Bahan Makanan dan tidak perlu lagi kalkulator untuk menghitung hasil anamnesis diet, 2) Saat anamnesis Ahli Gizi bisa lebih fokus menggali (probing) informasi dari klien sambil melakukan umpan balik sekaligus, karena hasil hitungan sudah langsung terlihat di layar monitor, 3) Akurasi perhitungan lebih tepat dan proses bisa lebih cepat, karena kalkulasi dilakukan oleh komputer. (eman/Tim Gizinet)

 

Kualitas Balita Tak Semata Diukur Dari Kesehatannya

Sun, 10/19/2014 - 13:38

REPUBLIKA.CO.ID, Anak terutama balita berkualitas tak hanya diukur dari kesehatannya. Tetapi, pertumbuhan, perkembangan, perilaku, emosi, spiritual, kognitif dan perkembangan spiritualnya harus berkembang sesuai usianya.

“Lingkungan berperan besar dalam tumbuh kembang anak. Pada fungsi kognitif anak usia 2-4 tahun, sebanyak 20 persen ditentukan faktor genetik sedangkan 70 persen ditentukan lingkungan asuhan bersama,” ujar konsultan tumbuh kembang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Bernie Endyarni Medise, SpA (K), MPH, dalam seminar media di Jakarta, Kamis (16/10).

Bernie mengatakan, ciri khas anak tumbuh optimal dapat diukur dari berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Sementara anak dikatakan berkembang ditandai dengan kematangan fungsi organ tubuhnya.

Perkembangan ini diantaranya ditandai dengan berbagai hal, yakni motor kasar yang mencakup tengkurap, duduk, berdiri dan berlari. Lalu, motor halus yang dicirikan dengan kemampuan meraih mainan dan memegang sendok. Tanda lainnya ialah kemampuan berbahasa, kemandirian atau personal sosial.

Bernie mengungkapkan, agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal, maka orang tua harus memperhatikan sejumlah hal, yakni, faktor biologis yang mencakup nutrisi, imunisasi, kebersihan badan, lingkungan, pengobatan, olahraga dan bermain.

Dia melanjutkan, kebutuhan lainnya ialah stimulasi, yang mencakup sensorik, motorik, emosi, kognitif, mandiri dan kepemimpinan. Kemudian, orang tua juga harus memenuhi kebutuhan anak soal kasih sayang. Orang tua, kata dia, layaknya memberikan rasa aman dan nyaman pada anak.

“Orang tua perlu memperhatikan pola pengasuhan anak yang tepat. Pola pengasuhan terbaik adalah demokratik. Di sini, anak diberikan kesempatan untuk berbicara dan berpendapat,” kata Bernie.

Selain itu, Bernie menyebutkan, sejumlah hal lain agar proses tumbuh dan berkembang seorang anak dapat optimal, yakni orang tua perlu melibatkan diri dalam kegiatan anak, jangan terlalu memanjakan anak, membuat aturan dan memastikan anak untuk mematuhinya.

Kemudian, lanjut dia, orang tua juga harus konsisten dengan aturan yang telah dibuat, sebisa mungkin memberikan pujian atas usaha yang telah dilakukan anak, memberikan kesempatan anak untuk mengeksplorasi lingkungan serta mengajarkan anak mandiri sesuai tahapan perkembangannya. Prayogi/Republika

Sumber : Republika Online – Gaya Hidup/ Kamis, 16 Oktober 2014

28 Ahli Gizi Puskesmas se-Sultra Ikuti Sosialisasi NutriClin

Sat, 10/11/2014 - 11:42

Kendari, 10/10 – GIZINET. Sebanyak 28 orang Ahli Gizi yang bertugas di 14 puskesmas rawat inap se-Provinsi Sulawesi Tenggara hadir dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Petugas Gizi Puskesmas Perawatan Dalam Penggunaan Software NutriClin bertempat di Hotel Grand Putri Wisata, Kota Kendari. Kegiatan tsb diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sultra sejak tanggal 7 s/d 10 Oktober 2014, dengan menghadirkan Konsultan NutriClin dari DPP Persagi yang ditugaskan oleh Direktorat Bina Gizi Kementerian Kesehatan.

Antusiasme yang tinggi mewarnai proses pembelajaran yang diberikan sejak awal sampai akhir. Seluruh peserta menyatakan bahwa penggunaan piranti lunak konseling gizi NutriClin merupakan sesuatu yang baru, dan dirasakan bermanfaat bagi proses konseling di tempat kerja masing-masing. Suhu udara yang amat panas di luar tempat pertemuan, tidak mempengaruhi keseriusan dan motivasi yang tinggi dari peserta untuk mempelajari dan mempraktekkan penggunaan NutriClin, yang saat ini sudah memasuki versi 3.  Meski demikian, sesuai dengan arahan Pemateri, Ir Eman Sumarna MSc, kemahiran menggunakan NutriClin tidaklah mungkin dapat dicapai dalam waktu dua atau tiga hari. Diperlukan waktu yang berkesinambungan tiap hari untuk mendalaminya dan menggunakannya sehingga benar-benar dirasakan sebagai alat bantu konseling gizi.

Kamarullah SKM MKes, Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Sultra, dalam suatu kesempatan dialog, menyatakan bahwa NutriClin ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kapasitas dan kompetensi Ahli Gizi terutamaKonselor Gizi, yang bertugas di Puskesmas Perawatan se-Provinsi Sultra. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan fasilitas komputer, baik jenis desktop maupun jenis laptop di setiap puskesmas. Diharapkannya kemampuan petugas dengan tersedianya piranti lunak NutriClin, dapat menjadi pertimbangan para pengambil kebijakan untuk melengkapi fasilitas pendukung berupa pengadaan komputer tambahan untuk konseling gizi. Demikian Kamarullah.

Sebelum Pemateri kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan proses pembelajaran selama tiga hari, seluruh peserta dan panitia berfoto dilanjutkan dengan bersama makan siang bersama. (Tim GIZINET)

NutriClin versi 3

Wed, 10/08/2014 - 23:13

Software PSG

Fri, 10/03/2014 - 10:38

Pemberitahuan

 

Bagi dinas kesehatan kabupaten/kota dan Provinsi, silahkan download aplikasi PSG di http://gizi.depkes.go.id/download_gizinet

 

red GIZINET

 

Undangan Acara Puncak Pekan Asi Sedunia

Tue, 09/09/2014 - 12:19

UNDANGAN ACARA PUNCAK PAS TAHUN 2014

 

 

Nomor      :  TU.05.01/B.II/2514-1 /2014                            29 Agustus  2014

Lampiran :  1 (satu) berkas

Hal            :  Undangan Acara Puncak PAS 2014

 

 

Yang terhormat,

Kepala Dinas Kesehatan Propinsi di seluruh Indonesia, beserta

Ketua Tim Penggerak PKK Propinsi di seluruh Indonesia

 

Dalam rangka memperingati Pekan ASI Sedunia (PAS) tahun 2014 dengan tema global  Breastfeeding: A Winning Goal for life , yang diadaptasi dengan tema nasional Menyusui: Kemenangan untuk kehidupan Direktorat Jenderal Bina Gizi  dan KIA akan menyelenggarakan Acara Puncak Pekan ASI Sedunia Tahun 2014 yang akan diselenggarakan pada :

 

Hari/ Tanggal : Senin, 15 September 2014

Waktu             : 08.30 WIB s.d 16.00 WIB.

Tempat             : Balai Kartini, Jl. Gatot Subroto  No.37 ,  Jakarta Selatan

Peserta diharapkan sudah hadir pada hari Minggu, 14 September 2014 pukul 16.00 WIB di Hotel Pomelotel, Jl. Dukuh Patra Raya  No. 28, Kuningan Jakarta Selatan dengan membawa Surat Tugas. Biaya transportasi dan uang harian berasal dari dana DIPA masing-masing propinsi yang sudah di dekonkan. Panitia penyelenggara hanya menanggung biaya akomodasi dan penyelenggaraan di Balai Kartini ( Fullboard Meeting) untuk dua orang Undangan tersebut diatas.

 

Bagi propinsi yang telah mengadakan lomba Baduta Sehat Ibu Cerdas di wilayahnya, agar membawa serta Ibu dan Anak pemenang Lomba tersebut ke acara puncak ini atas  biaya swadaya dari masing-masing propinsi.

 

Atas perhatian dan  kerjasama Saudara, kami ucapkan terima kasih.

 

Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA,

Ttd.

 

dr. Anung  Sugihantono, M.Kes

NIP. 19603201985021002

 

NB: Undangan ini sudah kami kirim melalui email masing2, mohon bagi yg belum menerima, agar menghubungi panitia di Subdit Bina Konsumsi Makanan, ( Sdr. Satrio, hp 082141884484). Bagi daerah yg belum mengirimkan berkas lomba baduta sehat dapat mengirimkan ke email subditbkm@yahoo.com  karena seleksi tk pusat akan dilaksanakan 11 Agustus 2014 yad. Terima kasih

Permenkes Tentang Angka Kecukupan Gizi

Mon, 09/08/2014 - 15:07

Angka Kecukupan Gizi (AKG) atau Recommended Dietary Allowances (DRA) merupakan kecukupan rata-rata zat gizi sehari bagi hampir semua orang sehat (97,5%) menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh aktifitas fisik, genetik dan keadaan fisiologis untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Di Indonesia, Angka Kecukupan Gizi (AKG) disusun dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) setiap 5 tahun sekali sejak tahun 1978. AKG ini mencerminkan asupan rata-rata sehari yang dikonsumsi oleh populasi dan bukan merupakan perorangan/individu. Berbeda dengan kebutuhan gizi ( requirement), menggambarkan banyaknya zat gizi minimal yang diperlukan oleh masing-masing individu sehingga ada yang rendah dan tinggi yang dipengaruhi oleh faktor genetik. Kegunaan AKG yang dianjurkan adalah 1) untuk menilai kecukupan gizi yang telah dicapai melalui konsumsi makanan bagi penduduk. 2) untuk perencanaan dalam pemberian makanan tambahan maupun perencanaan makanan institusi. 3) untuk perencanaan penyediaan pangan tingkat regional maupun nasional. 4) Acuan pendidikan gizi; dan 5) Acuan label pangan yang mencantumkan informasi nilai gizi.

Rata-rata kecukupan energi dan protein bagi penduduk Indonesia tahun 2013 masing-masing sebesar 2150 Kilo kalori dan 57 gram protein perorang perhari pada tingkat konsumsi.  Sedemikian besarnya kegunaan AKG sehingga telah ditetapkan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia. Permenkes tersebut  ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 November 2014 dan dapat diunggah melalui internet. Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini, maka Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1593/MENKES/SK/XI/2005 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

ACARA PUNCAK PEKAN ASI SEDUNIA TAHUN 2014.

Mon, 09/08/2014 - 15:00

ASI adalah makanan bayi ciptaan Tuhan yang tak tergantikan dengan makanan dan minuman yang lain. Hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI  dan hak ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya. . Oleh karena itu WHO/UNICEF telah  merekomendasikan standar emas  pemberian makan pada bayi  yaitu  menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan didahului dengan Inisiasi Menyusu Dini segera setelah lahir, mulai umur 6 bulan berikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dan teruskan menyusu hingga anak berumur 2 tahun.

Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0–6 bulan di Indonesia menunjukkan sedikit penurunan dari 61,5 % tahun 2010 menjadi 61,1% pada tahun 2011. Namun cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai 6 bulan meningkat dari 33,6 % pada tahun 2010 menjadi 38,5 % pada tahun 2011. Cakupan pemberian ASI eksklusif sangat dipengaruhi beberapa hal, terutama masih terbatasnya tenaga konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan,  belum tersosialisasi secara merata Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, belum maksimalnya kegiatan edukasi, advokasi dan kampanye terkait pemberian ASI maupun MP-ASI,

Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week) diperingati setiap bulan Agustus, kegiatan ini  merupakan salah satu moment penting dalam meningkatkan kepedulian dan kesadaran  pemerintah maupun masyarakat terhadap pentingnya pemberian ASI kepada bayi hingga 2 tahun dan memberikan dukungan kepada ibu dalam mencapai keberhasilan menyusui bayinya.  Pekan ASI Sedunia tahun 2014 mengangkat tema global “ Breastfeeding: A Winning Goal for life”. dalam tema nasional Menyusui: Kemenangan untuk kehidupan serta Slogannya “Menyusui: Lindungi, dukung dan promosikan. Tujuan PAS 2014 adalah 1) menyediakan informasi tentang Millennium Development Goals (MDGs) 2015, bagaimana cara menghubungkan antara menyusui dan Pemberian Makanan Bayi Anak, 2) memperlihatkan kemajuan yang sudah ada dan sejauhmana kendala dalam menyusui dan Pemberian Makanan Bayi dan Anak, 3) memperhatikan pentingnya 10 langkah menuju keberhasilan menyusui sebagai kunci pokok untuk mencapai MDGs 2015, 4) menstimulasi perhatian generasi muda wanita dan pria untuk melihat relevansi pemberian Air Susu Ibu (ASI) terhadap perubahan dunia.  Beberapa hal perlu dilakukan semua pihak dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI Eksklusif. Salah satunya adalah  Penerapan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) bagi Fasilitas Kesehatan Sayang Bayi, LMKM merupakan bagian yang sangat penting dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI.

Salah satu  kegiatan PAS  tahun 2014 antara lain adalah Lomba Baduta Sehat Ibu Cerdas, dimana yang menjadi fokus penilaian adalah anak, ibu bagaimana pengasuhan dan cara pemberian makanan terhadap anak yang akan berdampak terhadap pertumbuhan serta perkembangan anaknya. Lomba diharapkan dilaksanakan oleh 34 propinsi  tergantung dengan situasi dan kondisi keuangan masing-masing daerah. Pemenang terbaik lomba tersebut akan dibawa serta pada acara Puncak PAS tahun 2014 atas biaya swadaya masing-masing daerah. Pemenang lomba akan mendapat penghargaan dari Ibu Menteri Kesehatan.

Sebagai akhir dari rangkaian kegiatan  PAS 2014 akan diselenggarakan Acara Puncak Pekan ASI tahun 2014 pada tanggal 15 September 2014 di Balai Kartini, Jl. Gatot Subroto 37, Jakarta Selatan .  Peserta  yang akan hadir pada acara puncak PAS lebih kurang  250 orang yaitu para Eselon 1, 2 Kementerian Kesehatan, para Eselon 1,2, Kemenko Kesra, Bappenas, Kemendagri, Kemeneg Pemberdayaan Perempuan dan Kementerian Tenaga Kerja. Lintas Program dan Lintas sektor terkait, Organisasi Profesi terkait program pemberian ASI, Tim Penggerak PKK Pusat , Penggiat ASI: IKMI, AIMI, SELASI, dll, LSM/ NGO, WHO, UNICEF.  Peserta Daerah dari 34 propinsi yakni Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Ketua TP-PKK Provinsi.

Bagaimana Penerapan Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Balita pada TPG Terlatih?

Tue, 09/02/2014 - 14:10

Jakarta, 25/8-GIZINET. Pada tahun 2010, Indonesia mengadopsi Standar Baru WHO 2005 sebagai pengganti rujukan WHO/NCHS melalui Kepmenkes RI No.1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang penerapan Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Sebagai konsekuensinya maka seluruh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) harus mendapatkan Pelatihan Penilaian Pertumbuhan Balita agar mampu melakukan penilaian pertumbuhan balita menggunakan minimal 3 indikator yaitu TB/U, BB/U, dan BB/TB. Hingga  saat ini pelatihan tersebut masih terus dilaksanakan dengan harapan setelah dilatih mereka segera mengaplikasikannya di wilayah masing-masing.

Pelatihan Penilaian Pertumbuhan Balita dititikberatkan pada kemampuan TPG untuk melakukan penilaian terhadap status gizi balita dan bagaimana memantau pola pertumbuhan balita serta tindak lanjut yang dilakukan bila terjadi masalah atau gangguan pertumbuhan dengan standard dan prosedur yang tepat yaitu (a) menghitung umur balita; (b) melihat bila terdapat tanda klinis marasmus, kwashiorkor, atau gabungan keduanya; (c) melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran panjang/tinggi badan dengan benar; (d) melakukan interpretasi terhadap status gizi balita minimal menggunakan 3 indikator serta melihat trend perkembangannya; (d) melakukan konseling pemberian makan sesuai masalah atau gangguan pertumbuhan yang dialami balita.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan melalui evaluasi pasca pelatihan penilaian pertumbuhan balita akhir tahun 2013 pada beberapa wilayah di Provinsi Jawa Barat, Lampung, NTB, dan Sulawesi Tengah, diketahui bahwa penerapan penilaian pertumbuhan balita secara umum masih banyak yang belum sesuai standar dan prosedur sebagaimana yang diajarkan pada pelatihan. Namun hal ini bukan semata-mata karena TPG, tetapi juga dikarenakan minimnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana di tempat kerja.

Menindaklanjuti hal tersebut, di tahun 2014 upaya peningkatan kapasitas TPG dalam penilaian pertumbuhan balita disertai dengan upaya melengkapi sarana dan prasarananya semakin ditingkatkan, tidak hanya mengandalkan dana pusat tetapi juga dana pemerintah daerah masing-masing. Untuk melihat kembali bagaimana penerapannya di tahun 2014 maka dilaksanakan kembali evaluasi pasca pelatihan penilaian pertumbuhan balita dengan target 8 provinsi, dan model kuesioner evaluasi yang lebih dikembangkan meliputi tidak hanya keterampilan TPG saja tetapi juga pengetahuannya tentang penilaan pertumbuhan balita, kelengkapan sarana dan prasarana di tempat kerja, serta bagaimana dukungan dari Kabupaten/Kota hingga Provinsi terkait. Evaluasi baru dilaksanakan di 3 Provinsi (Gorontalo, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Utara) pada akhir bulan Juli 2014. Rencananya di bulan September 2014 akan dilanjutkan kembali di 5 Provinsi. Hasil keseluruhan dari evaluasi ini nantinya akan dirilis kembali pada berita berikutnya. (yuniz)

Rotasi Pejabat Eselon IV di Lingkungan Direktorat Bina Gizi

Wed, 08/27/2014 - 15:47

Pada Tanggal 26 Agustus 2014 pukul 14.00 WIB telah dilakukan upacara pelantikan pejabat eselon IV di Lingkungan Ditjen Bina Gizi dan KIA. Pelantikan dipimpin oleh Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA, Dr. Anung Sugihantono, MKes.

Sebanyak 8 orang dari Direktorat Bina Gizi diminta sumpahnya untuk menjabat sebagai pejabat eselon IV, yaitu: Iwan Hawani, SKM, MSi sebagai Kasi Standardisasi Bina Konsumsi Makanan, sebelumnya menjabat sebagai Kasi  Standardisasi Bina Kewaspadaan Gizi, menggantikan Ir. Mursalim, MPH yang sekarang menjabat sebagai Kasi Standardisasi Bina Gizi Klinik. Posisi Pak Iwan sebelumnya digantikan oleh Ir Andry Harmany, MKes yang sebelumnya sebagai Kasi Standardisasi Bina Gizi Klinik. Eko Prihastono SKM, MA sebagai Kepala Seksi Standardisasi Bina Kewaspadaan Gizi, sebelumnya menjabat sebagai Kasi Bimbingan dan Evaluasi Bina Kewaspadaan Gizi. Ir.Titin Hartini, MSc yang sebelumnya menjadi Kasi  Standardisasi Bina Konsumsi Makanan dilantik sebagai Kasi  Bimbingan dan Evaluasi Bina Konsumsi Makanan.

Posisi Kasi Standardisasi Bina Gizi Makro yang semula kosong kini diisi oleh Suroto, SKM,MKM yang sebelumnya menjabat sebagai Kasi Standardisasi Bina Gizi Mikro. Sementara itu Muhammad Adil, SKM,MPH mendapat promosi jabatan menggantikan posisi Pak Suroto. Satu orang lagi yang dilantik menjadi pejabat eselon IV adalah Priatmo Triwibowo, SKM. Namun beliau tidak menajabat di Direktorat Bina Gizi, akan tetapi menjadi Kasubag TU di Direktorat Kesehatan Tradisional.

Dengan adanya rotasi dan pengangkatan pejabat baru eselon IV dilingkungan Direktorat Bina Gizi diharapkan dapat memberikan semangat baru dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan meningkatkan kinerja Direktorat Bina Gizi.

Kepada  seluruh pejabat eselon IV yang dilantik, diucapkan selamat bertugas dan kepada Pak Priatmo Triwibowo, selamat bekerja di tempat yang baru. Semoga silaturahim tetap dapat terjalin dengan baik (SM).

PERTEMUAN PENINGKATAN KAPASITAS TENAGA PELAKSANA PEMANTAUAN STATUS GIZI (PSG) PROVINSI KALIMANTAN TENGAH.

Mon, 08/25/2014 - 17:48

Bertempat di Swiss-belhotel danum – Kota Palangkaraya, Propinsi. Kalimantan Tengah, dilaksanakan pertemuan Peningkatan Kapasitas Tenaga pelaksana pemantauan Status Gizi pada tanggal 11 – 13 Juni 2014. Pertemuan dimaksudkan untuk persiapan pelaksanaan Pemantauan Status Gizi yang akan dilaksanakan di 4 Kabupaten di Propinsi Kalimantan Tengah yang terpilih sebagai sampel untuk pelaksanaan Pemantauan Status Gizi Tahun 2014 adalah Kab. Gunung Mas, Kab. Kotawaringin Timur, Kab. Seruyan dan Kab. Barito Utara.

Peserta pertemuan terdiri dari  perwakilan 14 Kabupaten/Kota, di Provinsi Kalimantan Tengah, Poltekkes Palangkaraya, 8 orang mahasiswa Poltekkes Palangkaraya yang nantinya akan bertugas sebagai enumerator dan dari Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Tengah.

Pertemuan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah yaitu dr.Suprastija Budi, selanjutnya disampaikan materi oleh Nara sumber dari Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Bina Gizi Ibu Elisa, SKM dan dari Poltekkes Kemenkes Jakarta II Bapak Nils Aria Zulfianto, MPS. Materi yang disampaikan meliputi: Kebijakan Program Pembinaan Gizi tahun 2014, Konsep Surveilans Gizi, Pemantauan Status Gizi ,Cara Pengambilan sampel, Teknik Wawancara, Manajemen data, latihan pengambilan sampel dan penentuan kluster di masing masing Kabupaten (Kab. Gunung Mas, Kab. Kotawaringin Timur, Kab. Seruyan dan Kab. Barito Utara). Disamping itu juga dilakukan Praktek pengumpulan data di Posyandu Dahlia, yang beralamat di Jl. Kalimantan Kota Palangkaraya

Praktek dilakukan dalam rangka meng uji coba alat, cara pengukuran antropometri dan teknik wawancara, Praktek ini juga dilakukan untuk mengukur lama waktu pengumpulan data baik wawancara maupun pengukuran antropometri , disamping itu juga untuk melihat masalah dan tingkat kesulitan yang dihadapi dalam pengumpulan data serta rekomendasi pemecahan masalahnya.

 

 

 

Sekilas dari Pertemuan Perencanaan Program Bina Gizi dan KIA

Mon, 08/25/2014 - 17:33

Pada tanggal 20-23 Agustus 2014 Ditjen Bina Gizi dan KIA menyelenggarakan pertemuan  perencanaan program Bina Gizi dan KIA – Penyusunan Pagu Anggaran  TA 2015 di hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur Bali. Pertemuan dihadiri oleh peserta dari 34 Provinsi yang menangani program Gizi dan KIA. Pada kesempatan tersebut, Direktur Bina Gizi menyampaikan menu dekonsentrasi TA 2015 bidang gizi. Perencanaan program Bina Gizi dan KIA melalui dana dekonsentrasi kali ini lebih menitik beratkan pada keterkaitan dan kesinambungan kegiatan di pusat dan daerah. Yang berbeda pada menu kali ini adalah, pengadaan MP ASI dan PMT bumil KEK boleh diadakan dengan menggunakan dana dekon.

Semua kegiatan bersumber dana dekon harus mengacu pada Indikator Kinerja Program (IKP) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) berdasarkan Peraturan Presiden No 43 Tahun 2014. Berikut ini adalah, sasaran, indikator  dan target dalam RKP TA 2015 terkait kegiatan pembinaan gizi masyarakat.

Secara umum, kegiatan di pusat dan daerah dibagi menjadi 5 kegiatan pokok, yaitu:

  1. Pertemuan (sosialisasi)–>Knowledge: digabung jadi satu kegiatan.
  2. Pertemuan (NSPK)
  3. Peningkatan kapasitas SDM
  4. Perjadin/ Bimtek/ Monev
  5. Pengadaan Barang/ Jasa

Semua kegiatan yang dilakukan di daerah harus ada keterkaitanya dengan kegiatan di pusat. Hal ini sesuai dengan arahan Dirjen Bina GIKIA, Dr. Anung Sugihantono, MKes. Misalnya, jika pusat melaksanakan pelatihan teknis (TOT), maka  Provinsi harus melaksanakan pelatihan bagi petugas Kab/Kota dan selanjutnya Kab/Kota melatih di tingkat Puskesmas. Demikian pula dengan penyusunan NSPK, pusat hanya  mencetak pedoman sebagai master, selanjutnya Provinsi yang harus mengadakan cetakan sampai dengan end user (puskesmas).

Selain menu wajib, daerah juga diperkenankan melakukan kegiatan insiatif yang memang benar-benar dibutuhkan berdasarkan analisas situasi dan permasalahan di daerah masing-masing. Kegiatan yang diusulkan tersebut antara lain adalah:

  1. Kegiatan Intensifikasi Konsumsi TTD Mandiri dan Makanan Sumber Fe Bagi Suami Siaga di Kab. Gunung Kidul
  2. Sosialisasi dan Pembentukan Outlet TTD Mandiri di 15 Kab/Kota (Provinsi Jawa Tengah)
  3. Tatalaksana Kretin (Prov. Kalsel dan Kaltim)

Output dari kegiatan ini menghasilkan usulan pagu dekonsentrasi TA 2015 setiap provinsi yang disusun berdasarkan rambu-rambu perencanaan yang ditetapkan. Sebagai tindaklanjut dari kegiatan ini, Direktorat Bina Gizi akan melaksanakan kegiatan pertemuan pemantapan rencana aksi pembinaan gizi masyarakat untuk menyempurnakan usulan perencanaan dekonsentrasi dari seluruh Provinsi pada bulan Oktober 2014 (SM).

Lomba Bayi ASI, Ibu Cerdas…dalam rangkaian kegiatan Pekan ASI Sedunia 2014….

Mon, 08/25/2014 - 17:25

Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0–6 bulan di Indonesia terjadi penurunan dari 63,4% pada tahun 2012 menjadi 54,3% di tahun 2013 (Susenas 2012, 2013).  Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih terbatasnya tenaga konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan, belum tersosialisasi secara merata Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif.  masih gencarnya promosi susu formula yang dilakukan secara terselubung serta belum maksimalnya kegiatan edukasi, advokasi dan kampanye terkait pemberian ASI maupun MP-ASI,  kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE ASI dan MP-ASI serta belum optimalnya pembinaan kelompok pendukung ASI dan MP-ASI.

Dalam rangka Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week) diperingati setiap tahun. Tahun 2014 mengangkat tema global “ Breastfeeding: A Winning Goal for life”. Thema dalam bahasa Indonesia Menyusui: Kemenangan untuk kehidupan serta Slogannya “Menyusui: Lindungi, dukung dan promosikan.

Tujuan PAS 2014 adalah 1) menyediakan informasi tentang Millennium Development Goals (MDGs) 2015, bagaimana cara menghubungkan antara menyusui dan Pemberian Makanan Bayi Anak, 2) memperlihatkan kemajuan yang sudah ada dan sejauhmana kendala dalam menyusui dan Pemberian Makanan Bayi dan Anak, 3) memperhatikan pentingnya 10 langkah menuju keberhasilan menyusui sebagai kunci pokok untuk mencapai MDGs 2015, 4) menstimulasi perhatian generasi muda wanita dan pria untuk melihat relevansi pemberian Air Susu Ibu (ASI) terhadap perubahan dunia.

Memperhatikan hal tersebut dan dalam rangka meningkatkan cakupan pemberian ASI Eksklusif  dikaitkan dengan Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA), serta  rangkaian kegiatan Pekan ASI Sedunia Tahun 2014 Kementerian Kesehatan RI menghimbau agar Dinas Kesehatan Propinsi menyelenggarakan Lomba Anak ASI Sehat Orang tua Cerdas yang akan diikuti oleh 34 propinsi, dan dilaksanakan di masing-masing propinsi, dengan kriteria Peserta lomba adalah  anak berusia  9 –  24 bulan dengan  kriteria:

1.  Bayi diberi hanya ASI saja sejak lahir sampai berusia 6 bulan (ASI Eksklusif)

2. Sejak usia 6 bulan  sudah diberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).

3.Tidak pernah mengonsumsi susu formul

4.Saat ini masih diberikan ASI.

5.Mempunyai Buku KIA/ KMS

6.Anak mendapatkan Imunisasi lengkap sesuai umurnya

7.Umur Ibu 21-35 tahun.

8. Jumlah anak maksimal 2 orang

9. Orang tua ikut program KB

10. Ibu Sehat.

Ketentuan Penilaian

  •  Pelaksanaan seleksi lomba untuk menentukan  1 (satu) orang pemenang terbaik tingkat propinsi yang dilakukan di masing-masing Dinas Kesehatan Propinsi  di seluruh Indonesia sesuai petunjuk penilaian.
  • Tim penilai disarankan terdiri dari berbagai komponen terkait yang pro ASI :  dokter Spesialis Anak, Psikolog, Dokter Gigi,  Fasilitator/ Konselor Menyusui, Penggiat ASI seperti Ikatan Ibu Menyusui Indonesia (IKMI), Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia ( AIMI ), Perinasia, Sentra Laktasi (Selasi)  dan LSM/NGO yang ada di wilayah  masing-masing propinsi.
  • Setiap propinsi hanya menentukan 1 (satu) orang pemenang yang akan dihadirkan ke Jakarta pada acara puncak PAS 2014 tanggal 15 September 2014 atas biaya swadaya masing-masing propinsi
  • Dinas Kesehatan Propinsi mengirimkan identitas pemenang tingkat propinsi (nama anak dan orang tuanya) beserta foto terbaik sedang menyusui atau memberikan makan kepada anaknya.
  • Identities pemenang dikirim kepada Direktorat Bina Gizi, Lantai 7 Blok A, Ruang 701, Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jl. H.R. Rasuna Said, Blok X5, Kavling 4-9, Jakarta Selatan atau  melalui email subditbkm@yahoo.com
  • Identitas tersebut sudah diterima di Direktorat Bina Gizi paling lambat pada minggu ke 1 (satu) bulan September 2014

Ayoo…kita meriahkan Pekan ASI Sedunia dengan peduli dan mendukung program menyusui dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar kita.. ASI ……YES ….

 

 

 

 

Pelatihan PMBA bekerjasama dengan MCC

Mon, 08/25/2014 - 16:57

Standar Emas Makanan Bayi dan Anak yaitu :

• ASI Eksklusif  0-6 bulan, didahului inisiasi menyusui dini segera setelah lahir.

• Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) mulai usia 6 bulan, tepat jumlah, kualitas dan tepat waktu pemberian serta aman. Meneruskan menyusui sampai usia anak 2 tahun

Pemberian makan yang terlalu dini dan tidak tepat mengakibatkan banyak anak yang menderita kurang gizi. Untuk itu perlu dilakukan pemantauan pertumbuhan sejak lahir secara rutin dan berkesinambungan. Fenomena “gagal tumbuh” atau growth faltering pada anak Indonesia mulai terjadi pada usia 4-6 bulan ketika bayi diberi makanan selain ASI dan terus memburuk hingga usia 18-24 bulan. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan 19,6% balita di Indonesia yang menderita gizi kurang (BB/U <-2 Z-Score) dan 37,2% termasuk kategori pendek (TB/U <- 2 Z-Score).

Lancet “Maternal and Child Nutrition”  Series tahun 2004 memuat satu konsep model  bahwa kekurangan gizi kronis atau pendek lebih dipengaruhi oleh faktor gangguan pertumbuhan pada masa janin, kekurangan asupan zat gizi mikro dan kekurangan asupan energy dan protein yang dapat menyebabkan kekurangan gizi, kecacatan atau disability serta kematian.

Stunting, merupakan gangguan pertumbuhan fisik, kognitif, kecerdasan, produktivitas . Prevalensi “stunting” di Indonesia masih tinggi, 36,2 % (2007),  35.6% (2010), dan 37.2% (2013). Pemerintah Indonesia bertujuan menurunkan prevalensi stunting menjadi 32 % pada tahun 2014 (mungkin tidak tercapai), dan  40 % lebih rendah dari data terakhir pada tahun 2025.

Setiap keluarga yang mempunyai bayi dan anak usia 6-24 bulan hendaknya mempunyai pengetahuan tentang Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), agar mampu memberikan ASI ekslusif dan menyiapkan MP-ASI yang sesuai di masing-masing keluarga. Pendampingan oleh orang yang terdekat dalam hal ini termasuk kader posyandu sangat dibutuhkan Untuk itu kader posyandu perlu dilatih agar mempunyai pengetahuan tentang  ASI ekslusif dan MP-ASI serta ketrampilan pemantauan pertumbuhan dan ketrampilan memberikan konseling.

Peranan tenaga kader posyandu terampil sangat besar terhadap keberhasilan Pemberian makan bayi dan Anak (PMBA), peningkatan pemberdayaan ibu, peningkatan dukungan anggota keluarga serta peningkatan kualitas makanan bayi dan anak  yang pada gilirannya akan meningkatkan status gizi balita. Oleh karena itu keberadaan kader posyandu perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

Untuk melatih kader yang tersebar diseluruh desa di Indonesia agar menjadi seorang konselor PMBA yang baik, maka perlu dilakukan pelatihan berjenjang. Dimulai dari melatih pelatih Konseling PMBA kader tingkat Propinsi/Kabupaten dilanjutkan dengan melatih pelatih  PMBA kader tingkat Puskesmas yang diharapkan dapat melatih bidan desa dan kader posyandu didaerahnya.

Pelatihan pelatih Konseling PMBA kader diperoleh melalui suatu proses pelatihan menggunakan standar kurikulum dengan modul pelatihan Konseling pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) yang dikeluarkan oleh Direktorat Bina Gizi Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA tahun 2014 selama 6 hari (48 jam) dengan materi pelatihan yang telah diakui secara internasional.

Memperhatikan hal tersebut untuk membantu menanggulangi stunting di Indonesia Bappenas, Kemenkokesra, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri bekerjasama  dengan Proyek Millenium Challenge Corporate, yaitu Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKBM)

Tujuan Proyek:

  1. , Mengurangi  anak lahir dengan berat badan kurang (low birth weight) dan anak pendek (stunting); dan
  2. Meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui pengurangan pengeluaran (cost savings), peningkatan produktifitas (productivity growth), dan higher lifetime earning.

Tujuan Khusus:

• Meningkatnya pemberdayaan masyarakat untuk meidentifikasi masalah, merumuskan kegiatan, melakukan kegiatan termasuk monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan

• Meningkatkan kemampuan petugas, cakupan dan kualitas layanan kesehatan dan  gizi

• Mengembangkan sistem insentif penyelenggara pelayanan

Kriteria Pemilihan lokasi:

  • · Pemilihan Propinsi dengan angka stunting diatas rata-rata nasional.
  • · Kabupaten, dipilih apabila lebih dari  40 %  kecamatan fasilitas kesehatan dan pendidikan rendah
  • · Kecamatan dipilih adalah semua kecamatan dengan fasilitas  kesehatan dan pendidikan rendah
  • · Desa adalah semua desa di kecamatan terpilih, diharapkan mencapai 6000 desa

Memperhatikan hal tersebut pelatihan PMBA akan dilakukan di 11 propinsi,  64 kabupaten dan 499 kecamatan serta 6000 desa di Indonesia.

 

 

 

 

Penyusunan Buku Info Pangan dan Gizi dan Lembar Berita

Mon, 08/25/2014 - 13:17

Informasi pangan dan Gizi sangat diperlukan guna perumusan kebijakan perencanaan dan pengelolaan program dalam rangka antisipasi meningkatnya masalah gizi kurang dan gizi buruk. Informasi dalam program gizi perlu dikumpulkan sebagai bahan kajian penanggulangan masalah gizi di indonesia. Upaya perbaikan gizi merupakan salah satu langkah strategis dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penanganan masalah gizi memerlukan pendekatan terpadu yang mengarah pada pemberdayaan ekonomi keluarga, peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan serta perluasan jaringan info pangan dan gizi.

Dalam rangka penyediaan informasi tersebut, setiap tahun telah diterbitkan Lembar Berita (2 volume) dan Info Pangan dan Gizi (2 volume).  Sehubungan dengan hal tersebut, telah dilaksanakan pertemuan pada tanggal 14-16 Agustus dan 21-23 Agustus 2014  di Bogor, Jawa Barat untuk menyusun  lembar berita dan buku info pangan dan gizi edisi ke 2 tahun 2014. Pertemuan dihadiri oleh 25 orang peserta yang berasal dari perwakilan lintas program terkait di lingkup Kementerian Kesehatan (Pusat Komunikasi Publik, Badan Litbagkes, Direktorat Bina Gizi) dan Linsek sektor terkait (Badan POM, Badan Ketahanan Pangan Kementan), serta Perguruan Tinggi (Poltekes Jurusan Gizi Jakarta II, Fema IPB, FKM-UI, SEAMEO Recfon UI). Kegiatan penyusunan Lembar Berita edisi ke 2 ini mengangkat  berbagai topik yang sedang hangat dibicarakan yaitu:  “Perbandingan ASI dan Susu Formula, Gizi dan perkembangan otak”,  “Waspada ebola dan pencegahannya, “Sayangi jantung anda, “Pemanis buatan”  dan “Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan bagi bangsa Indonesia”. Sedangkan untuk buku info pangan dan gizi adalah mengumpulkan abstrak dari berbagai penelitian  di bidang pangan dan gizi dari  universitas/ perguruan tinggi (IPB, FKM-UI, Poltekes Gizi, SEAMEO-UI).

 

Tes Latihann

Sun, 08/24/2014 - 15:54

Coba -coba 

Pages

E-MAIL LOGIN


@litbang.depkes.go.id

  


APLIKASI









E-Journal Berlangganan




U L P



PENGUNJUNG

hit counter