fixedbanner
fixedbanner

You are here

Jejaring Gizi Indonesia

Subscribe to Jejaring Gizi Indonesia feed
Jejaring Gizi Indonesia
Updated: 1 hour 34 min ago

Workshop Hari Gizi Nasional (HGN) ke-55 “Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi”

Tue, 02/24/2015 - 18:55

Jakarta, GIZINET (24/2). Rangkaian peringatan Hari Gizi Nasional masih terus berlanjut. Hari ini di selenggarakan sebuah workshop di Balai Kartini, Jakarta dengan Direktorat Bina Gizi sebagai penyelenggara didukung oleh lintas kementerian, mitra pembangunan, serta dunia usaha.

Workshop ini mengambil tema HGN ke-55 “Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi” dengan mengedepankan peran intervensi penanggulangan masalah gizi dari luar sisi kesehatan dan gizi (dikenal dengan intervensi sensitif). Narasumber yang didatangkan berasal dari lintas kementerian (Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian) serta pengalaman penerapan intervensi secara langsung dari wilayah Depok (One Day No Rice) serta  NTT dan Papua (Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah).

Dari berbagai paparan yang disampaikan tentang intervensi spesifik tersebut, terlihat bahwa peran sektor di luar kesehatan memang sangat penting dan nyatanya secara tidak langsung berkontribusi cukup besar   terhadap penanggulangan masalah gizi di Indonesia. Dari sisi perikanan misalnya, kampanye gemar makan ikan yang makin digalakkan akan berkontribusi besar terhadap pemenuhan asupan protein masyarakat, begitupula bila program pemanfaatan pekarangan yang digalakkan oleh bidang pertanian dilaksanakan secara optimal dibarengi dengan pendidikan gizi untuk kesadaran konsumsi gizi seimbang termasuk makan cukup sayur dan buah, maka kualitas asupan konsumsi masyarakat kita akan semakin baik dan cukup gizi. Terlebih diperkuat dengan peningkatan kesadaran terhadap sanitasi lingkungan serta perlindungan terhadap masyarakat sebagai konsumen dari makanan berbahaya.

Penekanan pada koordinasi yang berkelanjutan dari sektor kesehatan dan non kesehatan membutuhkan komitmen kuat dan kesungguhan untuk menciptakan keberlangsungan upaya percepatan perbaikan gizi. Kedepannya, diharapkan percepatan perbaikan gizi mampu mendongkrak kualitas sumber daya anak bangsa untuk lebih maju dan berdaya saing di era globalisasi dengan produktivitas yang maksimal. (YuniZ/redaksiGiziNet).

GLOBAL NUTRITION REPORT, Dimana Posisi Indonesia?

Thu, 02/12/2015 - 17:35

Jakarta, GIZINET (12/2). Penyebarluasan informasi tentang Global Nutrition Report (GNR) dilaksanakan tanggal 9 Februari 2015 lalu di Bappenas dalam puncak peringatan Hari Gizi Nasional ke-55. Dalam acara ini selain para undangan dari pemerintahan, dunia usaha, akademisi, organisasi profesi, LSM dan NGO serta mitra pembangunan, hadir pula Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas.

Paparan GNR disampaikan secara langsung oleh Dr. Lawrence Hadad dan Prof. Dr. Endang L. Achadi yang merupakan bagian dari tim pakar penyusun. GNR sendiri telah di launching secara resmi November 2014 lalu pada International Conference on Nutrition (ICN) ke 2 di Roma-Italia, yang merupakan seri pertama laporan tahunan yang menjelaskan kemajuan perbaikan gizi di seluruh dunia. Dalam GNR 2014 yang dapat diunduh langsung di www.globalnutritionreport.org digambarkan data dan informasi terkait gizi secara global, dan berisikan pengalaman, best practices, serta dilengkapi dengan country profile dari 193 negara anggota PBB.

Membahas secara khusus tentang posisi Indonesia dalam GNR, Prof. Dr. Endang L. Achadi dalam paparannya menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia diantaranya: Indonesia termasuk dalam 17 negara diantara 117 negara yang saat ini memiliki 3 masalah gizi (stunting, wasting, dan overweight); Indonesia termasuk dalam 47 negara dari 122 negara yang mempunyai masalah stunting pada balita dan anemia pada WUS; dan cakupan 3 intervensi (IMD, ASI Eksklusif, TTD bumil) di Indonesia masih terbilang rendah.

Menilik potensi yang kita punya, peluang besar untuk penanggulangan masalah gizi diatas sebetulnya sangat besar dan bahkan beberapa intervensi spesifik dan sensitif yang direkomendasikan sudah dilakukan, namun cakupannya belum optimal. Dikatakan bahwa untuk mendongkraknya diperlukan kesatuan visi dan platform semua stakeholders terkait melalui penguatan koordinasi dan sinergi berbagai pemangku kepentingan untuk intervensi spesifik gizi, serta lingkungan yang mendukung dari semua stakeholders untuk intervensi sensitive gizi yaitu sektor pemerintah terkait (pertanian, perikanan, dikbud, BKKBN, agama, perdagangan, perindustrian, dsb), swasta, LSM, masyarakat, serta mitra pembangunan internasional. (YuniZ/redaksiGiziNet)

Tulisan merujuk pada paparan yang disampaikan pada diseminasi GNR, dan dapat diunduh secara lengkap disini:

FINAL Keynote Speech Menteri PPN -Ppt

GNR Presentation 8 Februari 2015_2mlm rev1

Jakarta roundtable

LAPORAN DEPUTI PPT

FINAL-KEYNOTE MK- DISEMINASI GNR – 9 FEB 2105 bag I

FINAL-KEYNOTE MK- DISEMINASI GNR – 9 FEB 2105 bag II

FINAL-KEYNOTE MK- DISEMINASI GNR – 9 FEB 2105 bag III

Momentum Peringatan Hari Gizi Nasional 25 Januari dan Hari Patriotik 23 Januari Tahun 2015

Fri, 01/30/2015 - 10:06

GIZINET – Bulan Januari merupakan momentum yang sangat berharga bagi ahli Gizi terutama di Indonesia dan lebih khusus lagi di Provinsi Gorontalo. Mengapa demikian?, karena pada bulan Januari ini tepat pada tanggal 25 Januari diperingati Hari Gizi Nasional, dan tanggal 23 Januari diperingati Hari Patriotik untuk daerah Gorontalo.

Saat ini, tengah dibahas Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo oleh Tim Pansus DPRD Provinsi Gorontalo. Perda tersebut bertujuan untuk 1) Meningkatkan perilaku masyarakat secara berjenjang tentang gizi dan kesehatan meliputi pengetahuan, sikap dan praktik konsumsi makanan khas daerah Gorontalo; 2) Sebagai upaya memutus mata rantai permasalahan gizi dan kesehatan yang disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi setiap hari; 3) Sebagai upaya pengembangan budaya makanan khas daerah Gorontalo dalam melaksanakan ketahanan pangan berbasis pangan lokal; dan 4) Sebagai upaya transformasi hasil-hasil riset kepada seluruh jenjang pendidikan dasar, menengah dan lapisan masyarakat tentang makanan tradisional oleh perguruan tinggi atau lembaga riset lainnya guna melaksanakan ketahanan pangan berbasis pangan lokal.

Ruang lingkup yang diatur dalam Ranperda adalah : 1) Penerapan ilmu gizi berbasis makanan khas daerah Gorontalo diintegrasikan dalam muatan lokal pada satuan pendidikan; 2) Peningkatan penganekaragaman bahan makanan menuju ketahanan pangan berbasis bahan pangan lokal; 3) Peningkatan status kesehatan masyarakat; 4) Pengembangan penganekaragaman makanan khas daerah Gorontalo; 5) Informasi dan Edukasi; 6) Pembinaan; 7) Pengawasan, Pembiayaan;dan 9) Sanksi administratif.

Dukungan atas kebijakan Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo mendapat respon yang baik dari berbagai kalangan, seperti halnya dari instansi terkait (Dinas/Kementerian Pendidikan) termasuk dari legislatif, budayawan, satuan pendidikan, serta dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan dan pemerhati Gizi, kesehatan dan pendidikan. Hal ini terlihat pada saat pembahasan yang dilakukan oleh tim Pansus Ranperda Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo DPRD Provinsi Gorontalo serta kunjungan ke Sekolah, Dinas Kesehatan, dan Kementerian Pendidikan serta Kementerian Kesehatan.  Hal ini tidak luput dari kesiapan dari Seksi Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, yang sejak tahun 2008 telah menerapkan Muatan Lokal Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo di satuan pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK), telah menyusun bahan ajar dan kurikulum, serta telah menyusun Naskah Akademik yang melibatkan unsur Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Perguruan Tinggi, dan Organisasi Profesi yakni Persatuan Ahli Gizi Indonesia Provinsi Gorontalo, atas kerjasamanya dengan Yayasan Nutrition, Sport and HIV-ADIS Education (NUSAHAE) Provinsi Gorontalo.

Kebijakan Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo tersebut sudah pasti membuka peluang dan kesempatan, namun juga menjadi tantangan yang besar bagi tenaga gizi.

Peluang ahli gizi, dari implementasi kebijakan publik tersebut adalah :

  1. Tenaga gizi dapat menjadi tenaga edukasi (guru) dari satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK, yang dapat tersertifikasi sesuai kompetensi.
  2. Pemerintah daerah (dalam Ranperda tersebut) akan membentuk Pusat Kajian Gizi, Kesehatan dan Makanan Khas Daerah Gorontalo.
  3. Promosi dan Pengawasan terhadap makanan jajanan, termasuk restoran dan hotel sebagai penyedia makanan.
  4. Upaya untuk memutus mata rantai permasalahan gizi dan kesehatan.

Tantangan bagi ahli gizi, dari implementasi kebijakan publik tersebut adalah :

  1. Kompetensi ahli gizi yang memahami tentang makanan khas daerah dan kaitannya dengan penyelenggaraan/pelaksanaan budaya atau tradisi-tradisi khususnya yang berhubungan dengan makanan.
  2. Komitmen bersama untuk mendukung dan mengawal kebijakan tersebut.
  3. Kemampuan dalam memberikan promosi dan pengawasan terhadap makanan jajanan.
  4. Pemahaman tentang makanan khas daerah yang memiliki nilai gizi yang aman, serta menjamurnya makanan siap saji yang tingkat keamanannya tidak terjamin.

Sebagai catatan akhir dari tulisan ini, momentum peringatan Hari Gizi Nasional 25 Januari dan Hari Patriotik 23 Januari tahun 2015. berikut 13 hal yang terkait dengan HGN ke-55 dan hari Patriotik 23 Januari :

  1. Lima rukun dalam rukun islam
  2. Lima orang rasul yang diberi gelar ulul azmi (nuh, ibrahim, musa, isa, muhammad)
  3. Lima dasar negara republik indonesia (yakni pancasila)
  4. Lima pulau terbesar di indonesia (sumatera, jawa, kalimantan, sulawesi dan papua)
  5. Lima pancaindra manusia (mata, telinga, hidung, lidah, kulit)
  6. Lima-lima (tahun 1955) pedoman gizi seimbang yang telah diimplementasikan di indonesia
  7. Lima kelompok makanan dalam pgs (makanan pokok, lauk pauk sumber nabati, lauk pauk sumber hewani, sayuran, dan buah-buahan)
  8. Lima zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral) ditambah dengan air sebagai sumber kehidupan manusia
  9. Lima kelompok rawan yang menjadi prioritas perbaikan gizi dalam uu kesehatan (bayi, balita, remaja perempuan ibu hamil, ibu menyusui)

10. Lima indikator kadarzi (menimbang berat badan, memberikan asi eksklusif, makan beraneka ragam makanan, menggunakan garam beriodium, memberikan suplemen gizi sesuai anjuran)

11. Limo lo pohalaa atau lima bersaudara dalam lokus bumi dan akar kebudayaan yang sama (Gorontalo, Limboto, Suwawa, Boalemo, Atinggola)

12. Lima merupakan hasil kurang dari tujuh dan dua (72 tahun gorontalo merdeka)

13. Lima angka akhir tahun 2015

Selamat memperingati hari gizi nasional ke- 55 dan hari patriotik 23 januari

Mari : bersama membangun gizi menuju bangsa sehat berprestasi.

Dengan adanya Peraturan Daerah Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo, maka upaya-upaya perbaikan gizi akan semakin membaik, sehingga berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang berprestasi.

Akhirnya, selamat memperingati Hari Gizi Nasional ke- 55 dan Hari Patriotik 23 Januari ke-72 tahun 2015, mari : bersama membangun gizi menuju bangsa sehat berprestasi.

Demikian, semoga bermanfaat.

Penulis : Sofyan Tambipi, Dinkes Provinsi Gorontalo 

Bahaya Mie Instant bagi kesehatan

Tue, 01/27/2015 - 10:15

 

REPUBLIKA.CO.ID, Mi instan merupakan makanan populer yang dapat dimakan siang dan malam, terutama bagi mahasiswa di akhir bulan. Murah dan mengenyangkan menjadi faktor mi instan populer.

Namun, penelitian yang dilakukan oleh Dr Braden Kuo dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, dapat membuat para penikmat mi instan berpikir ulang untuk kembali memakan mi. Dilansir dari laman Mercola, Ahad (25/1), berikut hasil yang mencengangkan dari penelitian Dr Kuo yang menggunakan kamera berukuran sangat mini untuk melihat apa yang terjadi dengan mi instan di dalam saluran pencernaan.

Mi instan tidak hancur dalam proses pencernaan berjam-jam
Mi instan, termasuk juga mie ramen asal Jepang, tidak hancur selama dua jam proses pencernaan di dalam tubuh. Bentuk mi yang masih utuh memaksa saluran pencernaan manusia bekerja ekstra keras untuk memecah makanan tersebut.

Jika mi instan tetap ada di dalam saluran pencernaan untuk waktu yang lama, akan sangat berdampak pada penyerapan nutrisi makanan lain. Selain itu, di dalam mi itu sendiri, tidak ada nutrisi yang bisa diserap tubuh. Sebaliknya, tubuh akan menyerap zat-zat aditif, termasuk zat beracun dari bahan pengawet, seperti tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ).

Pengawet TBHQ sangat berbahaya bagi tubuh
TBHQ merupakan bahan kimia yang sering disebut memiliki fungsi sebagai antioksidan. Hanya saja, TBHQ merupakan antioksidan yang berasal dari bahan kimia sintetis, bukan antioksidan alami. Zat ini berfungsi untuk mencegak oksidasi lemak dan minyak, sehingga dapat memperpanjang masa simpan makanan olahan, atau biasa disebut bahan pengawet.

TBHQ biasa digunakan di dalam makanan olahan instan. Tapi, bahan kimia tersebut juga bisa ditemukan di dalam bahan non-makanan, seperti pestisida, kosmetik, dan parfum, karena sifatnya yang bisa mengurangi tingkat penguapan.

Lima gram zat TBHQ dapat membahayakan tubuh manusia. Efek dari terlalu sering mengonsumsi TBHQ adalah mual disertai muntah, terjadi dering di telinga, mengigau, dan sesak napas.

Mi instan timbulkan gangguan metabolisme
Seseorang yang mengonsumsi mi instan lebih dari dua kali dalam seminggu berisiko mengalami gangguan metabolisme, yaitu gejala-gelaja tubuh seperti obesitas, tekanan darah tinggi, peningkatan kadar gula darah, dan kolesterol. Diketahui wanita 68 persen lebih berisiko dari pria.

Para konsumen mi instan memiliki asupan nutrisi lebih rendah, seperti protein, kalsium, fosfor, zat besi, kalium, vitamin A, niasin, dan vitamin C. Hal tersebut diperparah dengan ditemukannya zat Benzopyrene (zat penyebab kanker) di dalam sejumlah merk mi instan.

Selain itu, penyebab penyakit yang berasal dari mie instan lainnya adalah kandungan monosodium glutamat (MSG). MSG dapat menyebabkan disfungsi otak dan kerusakan berbagai organ. Selain itu, zat ini juga dapat menimbulkan sejumlah penyakit, seperti Alzheimer, Parkinson, dan bahkan penyakit kesulitan belajar.

 

sumber : Yahoo.com

 

LOGO HGN Ke 55 TAHUN 2015

Tue, 01/20/2015 - 08:48

Berikut adalah logo Hari Gizi Nasional ke 55 Tahun 2015

Kandungan Gizi Dalam udang

Mon, 01/19/2015 - 15:15

 

Vemale.com - Banyak orang suka dengan seafood, namun tak jarang juga yang alergi dengan seafood, apalagi udang. Bagi mereka yang alergi, mungkin tidak bisa menikmatinya, tapi bila Anda termasuk yang gemar dengan sajian udang, maka beberapa fakta gizi tentang udang juga perlu Anda ketahui.

Berdasarkan news.health.com, satu ekor udang mengandung sekitar 7 kalori dan jika Anda makan lebih dari 10 ekor udang saja, kalori yang Anda makan masih lebih sedikit dari jumlah kalori dada ayam yang mencapai 85 kalori. Hal ini menunjukkan bahwa udang merupakan makanan rendah kalori.

Kenyataan ini sangat baik, untuk menjaga keseimbangan berat badan. Jadi jika Anda ingin diet, udang adalah salah satu daging yang baik dikonsumsi. Selain itu, udang juga sumber dari protein. Selain kadar airnya yang tinggi, udang memiliki sekitar 20 gr protein dalam satu ekornya. Udang juga memiliki sedikit lemak serta karbohidrat.

Selain kaya protein, udang juga menyediakan berbagai macam nutrisi penting. Empat ons udang kukus mengandung lebih dari 100% kebutuhan harian selenium, lebih dari 75% untuk vitamin B12, lebih dari 50% kebutuhan fosfor, dan lebih dari 30% untuk kolin, tembaga, dan yodium. Selenium terutama berperan penting sebagai antioksidan yang membantu melawan kerusakan sel dan DNA yang menyebabkan penuaan dini, menjaga kekebalan tubuh dan fungsi tiroid.

Antioksidan lain yang terdapat di dalam udang disebut astaxanthin, juga telah terbukti membantu mengurangi peradangan, pemicu penuaan dini dan penyakit. Jadi, tidak ada ruginya memilih menu udang untuk makan weekend ini Ladies.

 

Sumber : http://www.vemale.com/kesehatan/77503-pecinta-udang-ini-3-fakta-gizi-udang-yang-perlu-diketahui.html

BALIHO ASI, TUMPENG GIZI SEIMBANG DAN PIRING MAKANKU MENGHIASI HALAMAN PEMDA PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Fri, 01/02/2015 - 09:48

BALIHO ASI, TUMPENG GIZI SEIMBANG DAN PIRING MAKANKU MENGHIASI HALAMAN PEMDA PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Tanjungpinang 23/11, GIZINET

 

Event Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) Tahun 2014 yang merupakan peringatan emas HKN ke-50 tidak disia-siakan oleh Pemda Provinsi Kepulauan Riau. Peringatan HKN Ke-50 merupakan momentum yang tepat untuk menyuarakan kepada masyarakat negeri ini agar bangkit dan mulai meninggalkan upaya kesehatan yang bersifat kuratif menuju upaya kesehatan yang lebih didominasi semangat preventif dan promotif. Oleh karena itu dukungan dari seluruh komponen masyarakat sangat diperlukan dalam mewujudnyatakan hal ini.

Atas inisiasi Dinas Kesehatan, Pemda Provinsi Kepulauan Riau dengan mengajak seluruh SKPD, TP PKK se Provinsi Kepri, Badan PP, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se Provinsi Kepri, Badan PP se Provinsi Kepri, Institusi Pendidikan Kesehatan, Kader posyandu se Kota Tanjungpinang, Kader GOW se Kota Tanjungpinang dan masyarakat umum bersama-sama memperingati HKN ke 50, sekaligus merayakan puncak Pekan ASI Sedunia dalam rangka Gerakan Sadar Gizi. Tema setengah abad perjalanan pembangunan kesehatan bangsa Indonesia adalah “Sehat Bangsaku Sehat Negeriku”.

Tujuan umum kegiatan ini adalah menjadikan momentum ini sebagai  peringatan publik bahwa kesehatan harus bergerak dari wilayah kuratif ke arah promotif preventif. Dengan tujuan khususnya sebagai berikut:

  1. Masyarakat semakin mengerti arti penting Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, menjaga kesehatan dengan bergaya hidup sehat, dan berhenti untuk menghisap rokok.
  2. Pemerintah, Kepala Daerah, Dunia Usaha, organisasi kemasyarakatan turut ambil bagian dari peringatan HKN dengan kegiatan yang mendukung pembangunan kesehatan.
  3. Meningkatkan peran aktif organisasi kemasyarakatan dalam pemberdayaan masyarakat untuk mewujudkan Bangsa yang sehat.
  4. Membudayakan masyarakat untuk cinta hidup sehat.
  5. Meningkatnya pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang pola konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman.
  6. Membudayakan masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik yang teratur dan terukur.
  7. Meningkatnya kerjasama dan dukungan para pemangku kepentingan yang strategis (pemerintah, swasta, dan masyarakat) dalam pengembangan dan penerapan norma sosial pola konsumsi makanan dan aktivitas fisik.
  8. Meningkatkan kepedulian dan kesadaran  pemerintah maupun masyarakat terhadap pentingnya pemberian ASI kepada bayi hingga 2 tahun dan memberikan dukungan kepada ibu dalam mencapai keberhasilan menyusui bayinya

 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri H. Tjetjep Yudiana, SKM, M. Kes

selaku Penanggungjawab Kegiatan Peringatan ini mengingatkan kepada masyarakat bahwa: ”Menjaga diri tetap sehat adalah jauh lebih baik daripada mencari pengobatan saat keadaan penyakit sudah berkembang. Saya berharap kegiatan ini dapat membangkitkan komitmen masyarakat Indonesia agar mengedepankan semangat Preventif Promotif dalam mewujudkan “Sehat Bangsaku Sehat Negeriku”.

Kegiatan peringatan HKN ke 50 ini diikuti sekitar 1.500  orang. Selain acara puncak peringatan di halaman Pemda Kepri ini, serangkaian acara yang sudah dilaksanakan adalah sebagai berikut:

  1. Kelas ibu hamil bagi karyawati di lingkungan Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau tanggal 13 Nopember 2014
  2. Senam Kebugaran tanggal 16 Nopember 2014
  3. Dalam rangka mendukung Kemenkes untuk memecahan rekor MURI cap tangan “Komitmen Tidak Merokok” tanggal 16 Nopember 2014 di Provinsi Kepulauan Riau telah dilakukan cap tangan sebanyak 2.288 cap tangan.
  4. Cuci Tangan Pakai Sabun tanggal 16 Nopember 2014
  5. Dialog Interaktif tentang ASI tanggal 14 Nopember 2014
  6. Senam sehat tanggal 23 Nopember 2014
  7. Pemeriksaan kesehatan tanggal 23 Nopember 2014
  8. Kampanye Gerakan Sadar Gizi tanggal 23 Nopember 2014
  9. Kampanye Pekan ASI Nasional tanggal 23 Nopember 2014

10. Konsultasi Gizi tanggal 23 Nopember 2014

Dalam sambutannya Gubernur Kepala Daerah yang diwakili oleh Wakil Gubernur mengingatkan kepada masyarakat tentang moto yang berbunyi:” Health is not everything, but without health everything is nothing”- Kesehatan bukanlah segalanya tapi tanpa kesehatan segalanya tidak berarti apa-apa”.

Beliau juga menambahkan dalam sambutannya bahwa :” Di era 80-an, kita mengenal istilah 4 sehat 5 Sempurna, kemudian di era 90-an hiangga 2013, kita mengenal istilah  Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS), dan seiring kemajuan ilmu pengetahuan serta ilmu dan teknologi dibidang gizi, saat ini PUGS pun mengalami perubahan baik konsep maupun istilah menjadi Pedoman Gizi seimbang (PGS).  PGS adalah salah satu sarana pendidikan gizi untuk merubah perilaku konsumsi masyarakat yang merupakan faktor penting dalam meningkatkan status gizi masyarakat. Status gizi yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan SDM yang berkualitas, karena dapat mencegah terjadinya penyakit gizi kurang dan penyakit kronis lainnya seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus,  kanker yang dikenal dengan penyakit tidak menular (PTM) sebagai akibat dari kelebihan gizi  (kegemukan dan obese).”

Selain itu dalam sambutan tertulisnya Gubernur berpesan, agar para ibu memberikan ASI Eksklusif sampai usia 6 bulan, karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna, dan penuhi gizi seimbang sesuai Pedoman Gizi Seimbang yang digambarkan dalam Tumpeng Gizi Seimbang sebagai panduan konsumsi sehari – hari. Gubernur juga meminta kepada setiap SKPD untuk mendukung pemberian ASI dengan cara menyiapkan pojok/ruang laktasi di masing-masing SKPD, dibawah bimbingan Dinas Kesehatan serta mengintruksikan kepada seluruh Kepala SKPD untuk memberikan kesempatan bagi karyawan yang hamil, untuk mengikuti kelas ibu hamil yang dilaksanakan setiap hari kamis minggu ke 3 (tiga) setiap bulannya, di Aula Kantor Gubernur Dompak. Di akhir sambutannya, Gubernur berharap Allah Subhanahu wata’ala agar berkenan memberikan bimbingan, dan meridhoi semua usaha luhur  yang telah diupayakan, sehingga terwujud – SEHAT BANGSAKU, SEHAT NEGERIKU, SEHAT KEPRIKU, SEHAT MASYARAKATKU.

Dalam kesempatan Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN – 50) ini pula telah disosialisasikan Gerakan Nasional Sadar Gizi dan Pedoman Gizi Seimbang. Sejak tahun 2010, PBB mencanangkan program “Scaling Up Nutrition” (SUN) secara global. Tujuannya untuk meningkatkan efektivitas program gizi di negara berkembang termasuk Indonesia dalam menghadapi beban ganda masalah gizi.Tujuan utama gerakan ini adalah mencegah dan mengurangi prevalensi anak pendek (“stunting“) karena kurang gizi kronis dan mencegah kegemukan akibat gizi lebih. Di Indonesia gerakan ini telah di canangkan sebagai Gerakan Peningkatan Perbaikan Gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) pada bulan September tahun 2012. Sasaran prioritas yaitu pada masa 1000 HPK, yaitu sejak hari pertama kehamilan sampai anak usia 2 tahun dalam menentukan masa depan bangsa. Ditekankan pula pentingnya memperhatikan status gizi dan kesehatan remaja perempuan calon pengantin. Gerakan 1000 HPK antara lain diarahkan untuk mencapai target antara lain pengurangan balita pendek hingga 40 persen, balita kurus kurang dari 5 persen, bayi lahir dengan berat badan rendah berkurang sebesar 30 persen, tidak terjadi peningkatan jumlah anak gemuk dan meningkatnya angka pemberian ASI eksklusif setidaknya 50 persen pada tahun 2025.

 

Kepala Subdit Bina Konsumsi Makanan selaku Nara Sumber dari Direktorat Bina Gizi menjelaskan bahwa terkait Gizi Seimbang perlu diingat 2 hal penting pertama Prinsip Gizi Seimbang dan kedua Pesan Gizi Seimbang. Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 empat) pilar yang pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memantau berat badan secara teratur. 4 Pilar tersebut adalah:

  1. Mengonsumsi anekaragam pangan.
  2. Membiasakan perilaku hidup bersih.
  3. Melakukan Aktifitas fisik.
  4. Memantau berat badan secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal.

“Mengapa kita harus mengonsumsi pangan beraneka ragam?, karena sesungguhnya tidak ada satupun makanan yang sempurna, kecuali ASI. Oleh karena itu, kita harus mengonsumsi beraneka ragam makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh kita”, imbuhnya.

Berperilaku hidup bersih juga merupakan faktor yang sangat mempengaruhi status infeksi maupun status gizi setiap orang, seorang yang tidak memiliki perilaku hidup bersih dan sehat, tentu akan lebih mudah terinfeksi penyakit dibandingkan orang yang berperilaku hidup bersih dan sehat. Sementara aktifitas fisik akan sangat mempengaruhi sistem metabolisme tubuh kita, oleh karena itu, melakukan aktifitas fisik minimal 30 menit, dua kali dalam seminggu sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan tubuh kita, sehingga berat badan normal kita akan tetap terjaga.

Hal kedua terkait Gizi Seimbang adalah Pesan Gizi Seimbang. Pesan gizi seimbang terbagi dalam pesan umum Gizi Seimbang dan pesan khusus Gizi seimbang. Pesan khusus merupakan penekanan pesan kepada kelompok khusus seperti untuk ibu hamil, Ibu Menyusui, bayi 0-6 bulan, bayi dan anak usia 6-24 bulan, anak usia 2-5 tahun, anak 6-9 tahun, anak 10-19 tahun (pra pubertas dan pubertas), untuk dewasa dan gizi seimbang untuk lanjut usia.

Adapun 10 pesan umum gizi seimbang yaitu :

  1. Syukuri dan Nikmati Aneka Ragam Makanan
  2. Banyak Makan Sayuran dan Cukup Buah-buahan
  3. Biasakan Mengonsumsi Lauk Pauk yang Mengandung Protein Tinggi
  4. Biasakan Mengonsumsi Aneka Ragam Makanan Pokok
  5. Batasi Konsumsi Pangan Manis,  Asin dan Berlemak
  6. Biasakan Sarapan
  7. Minum Air yang cukup dan Aman
  8. Biasakan Membaca Label pada Kemasan Pangan
  9. Cuci Tangan Pakai Sabun dengan Air Bersih Mengalir
  10. Lakukan Aktivitas Fisik yang Cukup dan Pertahankan Berat Badan Normal

Semoga dengan menjalankan gizi Seimbang di dalam masyarakat akan terwujud Bangsa Sehat Berprestasi.(Tim Gizinet)

Lomba poster gizi “Gizi Seimbang Bangsa Sehat Berprestasi”

Tue, 12/02/2014 - 15:02

Lomba poster gizi “Gizi Seimbang Bangsa Sehat Berprestasi” Ayoooo ikuti dan menangkan, hadiah jutaan rupiah. Informasi lomba dapat menghubungi Saudara Dra. Sulistiastutik, M.Kes, Sdr. Ayuni Ula Amrina. Telp. 0341-5581896, HP: 085755302475, 085784400107

Standar Terkini Pelayanan Gizi Rumah Sakit

Mon, 12/01/2014 - 16:24

Jakarta 1/12-Gizinet. Keadaan klinis, status gizi dan status metabolism tubuh merupakan dasar untuk penyesuaian pelayanan yang diberikan kepada pasien, dalam Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS) standar terkini. Demikian dijelaskan oleh dr. Marina Damajanti, MKM, Kepala Subdirektorat Bina Gizi Klinik Direktorat Bina Gizi, Kementerian Kesehatan pada Temu Ilmiah Internasional di Jogyakarta 27 November ybl.

Marina Damajanti adalah salah satu dari belasan pembawa materi pada Temu Ilmiah Internasional yang diselenggarakan oleh organisasi profesi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) di Kota Jogyakarta, 26 s/d 28 November 2014.

Pada penyajian di bagian lain, Marina juga menyampaikan bahwa proses pelayanan gizi adalah sebuah rangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, yang dilanjutkan dengan kesimpulan, anjuran, implementasi serta evaluasi gizi, makanan dan dietetic.

Dengan demikian, pelayanan gizi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu gizi, makanan, dan dietetic, dengan sasaran masyarakat umum, individu, maupun kelompok masyarakat tertentu seperti pasien rawat inap di rumah sakit. Tujuan pelayanan gizi adalah mencapai status kesehatan optimal dalam kondisi sehat atau sakit.

Temu Ilmiah Internasional diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Kongres Nasional XV PERSAGI, dan dibuka secara resmi oleh Menteri Kesehatan, Prof Dr dr Nila Djuwita Moeloek, SpM(K). (Tim Gizinet)

Waspada Es Batu dari Air Mentah

Mon, 11/24/2014 - 22:55

Jakarta – REPUBLIKA.CO.ID — Saat cuaca panas terik, memang nikmat minum segelas minuman dingin lengkap dengan es batu. Jika kita minum air dingin dengan es batu di rumah, sudah pasti akan terjamin kesehatannya karena kita membuat es batu sendiri dengan air matang yang sudah dimasak.  Tapi, apabila Anda membelinya di luar rumah, di jalan atau di restoran apakah sudah terjamin keamanannya? Apakah air yang digunakan untuk membuat es batu adalah air matang? Jawabannya belum pasti air matang. Menurut Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Dr Roy A. Sparringa, M.App.Sc, bahan baku untuk membuat es batu itu bervariasi.

Tapi, penggunaan es batu dengan air mentah memang masih memprihatinkan. Salah satu sumber cemaran kuman utama dari yang kita konsumsi berasal dari es batu tersebut.

“Untuk itu kami sangat concern dengan keamanan dari es batu,” ujarnya kepada Republika melalui pesan singkatnya, Senin (24/11).

Jika bahan yang digunakan untuk membuat es batu adalah air mentah, lanjut Roy, dampaknya tentu bisa berisiko bagi kesehatan. Jika air tersebut mengandung patogen, tentu berdampak buruk bagi yang mengkonsumsinya. “Patogen justru dapat bertahan lama dalam es batu,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Roy juga pernah mengingatkan ada beberapa pangan jajan anak sekolah (PJAS) yang tidak memenuhi syarat dan mengandung bahan berbahaya.

Ada pula yang menggunakan bahan tambahan pangan melebihi batas yang diizinkan. Sejumlah kudapan bahkan memiliki kualitas mikrobiologi yang buruk. Data BPOM hingga semester satu tahun 2013 menunjukkan kudapan yang angka mikrobiologinya buruk masih sangat tinggi yakni 76 persen.

Tingginya permasalahan kualitas mikro biologi PJAS tersebut berasal dari rendahnya kesadaran higiene dan sanitasi penjual. Terbatasnya akses air bersih serta terbatasnya sarana dan prasarana yang memenuhi persyaratan kebersihan juga turut memengaruhi buruknya potret PJAS.

“Beberapa makanan dan minuman yang tidak memenuhi syarat di antaranya es, minuman berwarna dan sirup, jelly atau agar, bakso, dan mi,” ungkap Roy. Hasil uji coba BPOM menunjukkan jenis pangan yang paling tidak memenuhi syarat adalah produk es.

Kualitas mikrobiologinya terburuk karena terbuat dari air yang tidak memenuhi persyaratan kualitas air minum, tanpa klorinasi, dan tidak dimasak terlebih dahulu.

“Es balok sebenarnya digunakan untuk pendingin ikan, bukan untuk dikonsumsi,” jelas Roy kala itu.  Dengan mengkonsumsi es balok dan jajanan yang tak memenuhi syarat lainnya, anak akan mudah terpapar penyakit. Baik penyakit jangka pendek maupun jangka panjang. Penyakit yang paling sering dijumpai adalah diare, tipus, dan keracunan makanan.

Anak yang mengkonsumsi es balok juga ikut mengkonsumsi bakteri yang ada di dalam es balok yang terbuat dari air mentah.  “Bakteri tidak dapat mati dengan pembekuan, justru malah awet,” papar Roy mengingatkan.

Sumber: Republika Online – Senin, 24 November 2014

 Reporter : desy susilawati

Redaktur : Damanhuri Zuhri

 

Modul dan Kurikulum Pelatihan Surveilans Gizi Hampir Final

Thu, 11/20/2014 - 22:17

Jakarta, GIZINET (20/11). “Draft Modul dan Kurikulum sudah hampir final, jadi pada pertemuan nasional tanggal 7-9 Desember sudah bisa disosialisasikan,” demikian Kasubdit Bina Kewaspadaan Gizi (BKG), Galopong Sianturi SKM, MPH,  mengatakan di Bogor hari ini.

“Sudah sejak lama ditengarai pelaksanaan surveilans gizi tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, dan dengan terbitnya Buku Surveilans Gizi yang lebih bersifat pegangan umum, mendasari pemikiran perlunya suatu pelatihan bagi petugas gizi.” Lanjut Sianturi.

“Untuk melatih surveilans gizi yang sesuai dengan buku pegangan tersebut, diperlukan Module dan Kurikulum Pelatihan. Sejak bulan Agustus lalu kami telah meminta Tim Khusus yang terdiri dari DR Abas B. Jahari MPH (Badan Litbangkes), Ir Tatang S. Falah MSc dan Ir Eman Sumarna MSc (PERSAGI), dibantu oleh Poltekkes Jakarta II, Poltekkes Bandung, dan Pusdiklat Aparatur Kesehatan, untuk menyusunnya.” Sianturi menambahkan.

Pada kesempatan berdialog, Kasubdit BKG juga menjelaskan bahwa mulai tahun 2015 akan disiapkan tenaga Pelatih melalui Pelatihan bagi Pelatih (TOT), sehingga dapat disebar ke beberapa wilayah untuk melatih petugas pelaksana gizi daerah.  “Dengan demikian, kegiatan surveilans gizi nantinya diharapkan tidak hanya sekedar normatif atau dikerjakan hanya di atas meja saja, tapi dapat benar-benar berjalan sehingga upaya preventif masalah gizi dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, tanggal 7-9 Desember akan diselenggarakan sebuah pertemuan nasional program gizi yang akan menyajikan selain kebijakan program lima tahunan, juga tentang Pedoman Gizi Seimbang serta Modul dan Kurikulum Pelatihan Surveilans Gizi. (tim gizinet).





APLIKASI









E-Journal Berlangganan





PENGUNJUNG

hit counter



Polling Balitbangkes

Informasi apa yang menurut Anda paling penting ditampilkan di website Badan Litbangkes
Profil Badan Litbangkes
5%
Riskesdas
8%
Jurnal / Jurnal Elektronik
20%
Satuan Kerja
0%
Agenda / Kegiatan Badan Litbangkes
5%
Profil Kepakaran Peneliti
0%
Berita Foto
7%
Video Badan Litbangkes
7%
Komisi / Unit Non Struktural
2%
Riset Lainnya yang Dilakukan Badan Litbangkes
15%
Perpustakaan Digital / Katalog
12%
Jejaring Badan Litbangkes
0%
Buku Terbaru Terbitan Badan Litbangkes
8%
Dokumen Tahunan (Laptah / LAK / RKT)
5%
Infografis Kesehatan
2%
Lainnya
3%
Total votes: 59