You are here

Jejaring Gizi Indonesia

Subscribe to Jejaring Gizi Indonesia feed
Jejaring Gizi Indonesia
Updated: 2 hours 38 min ago

ENAM PROVINSI SULIT KELUAR DARI PERMASALAHAN KEMISKINAN DAN PREVALENSI GIZI KURANG

Tue, 03/25/2014 - 11:29


ENAM PROVINSI SULIT KELUAR DARI PERMASALAHAN KEMISKINAN DAN PREVALENSI GIZI KURANG

Oleh : Sofyan Tambipi, Gorontalo

Masalah gizi dipengaruhi oleh banyak faktor dan kesemuanya saling mempengaruhi. Salah satunya adalah kemisikinan. Kemiskinan dan gizi kurang sangat erat kaitannya.

Gizi kurang merupakan keadaan tidak sehat (patologik) yang ditimbulkan karena tidak cukup makan dan dengan demikian konsumsi energi kurang selama jangka waktu tertentu (Harper, dkk, 1986). Keadaan ini disebabkan oleh karena faktor kemiskinan, pendidikan, ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, pola asuh konsumsi makanan, pola makan, kepercayaan/tradisi/budaya, dll. detail..  ENAM PROVINSI SULIT KELUAR DARI MISKIN DAN GIKUR

Video Conference Konsolidasi Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional

Thu, 02/27/2014 - 15:37

Dalam rangka konsolidasi pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang telah diberlakukan secara bertahap terhitung mulai 1 Januari 2014, pada hari Kamis, 27 Februari 2014  pukul 09.00 s.d. 12.00 WIB telah dilaksanakan video conference  antara Menteri Kesehatan RI dan Jajarannya dengan Perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi, RS, organisasi profesi, Dinas Sosial dan Perwakilan BPJS di Propinsi Jambi, Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara Timur.  Video conference dipimpin oleh ibu Menteri Kesehatan didampingi oleh Dirjen  Bina Kefarmasian dan Dirjen Bina Upaya Kesehatan. Dalam acara tersebut ibu Menteri Kesehatan mendiskusikan  pelaksanaan dan  permasalahan JKN di Propinsi Jambi, Kalsel dan NTT serta memberikan pengarahan dalam rangka pemecahan masalah demi perbaikan dan  kebelangsungan pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional. Propinsi Jambi, Kalsel dan NTT akan terus mendukung pelaksanaan JKN di wilayah masing-masing dengan meningkatkan mutu  pelayanan kesehatan baik promotif preventif, kuratif dan rehabilitatif .

Ibu Menkes sedang berdiskusi dengan Kadinkes prop. Kalsel

Ibu Menteri Kesehatan sedang memberikan pengarahan kepada seluruh peserta video conference

 

 

Materi Seminar HGN ke 54

Thu, 02/27/2014 - 15:25

Materi seminar JKN dapat diunduh  disini
dibagian makalah dan artikel –> materi seminar HGN

”JUMBARA KADER PKK DAN NUTRITIONIST” puncak acara HARI GIZI NASIONAL KE-54 TAHUN 2014 TINGKAT PROVINSI GORONTALO

Wed, 02/26/2014 - 13:54

”JUMBARA KADER PKK DAN NUTRITIONIST”

puncak acara

HARI GIZI NASIONAL KE-54 TAHUN 2014

TINGKAT PROVINSI GORONTALO

(28 Januari – 25 Pebruari 2014)

(oleh : Sofyan Tambipi – Persagi Gorontalo)

Tim Penggerak PKK adalah fasilitator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak pada masing-masing tingkat pemerintahan untuk terlaksananya program pkk yang merupakan mitra kerja pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan/lembaga kemasyarakatan lainnya. Pemberdayaan masyarakat melalui gerakan pkk merupakan upaya memandirikan masyarakat dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan menuju terwujudnya keluarga yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehat sejahtera, maju dan mandiri, kesetaraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan, hal ini disampaikan oleh Ketua TP-PKK Provinsi Gorontalo Ny. Hj. Idah Syaidah Rusli Habibie pada pembukkan Jumbara Kader PKK dan Nutritionist (JKN) dalam rangka puncak acara peringatan Hari Gizi Nasional ke-54 Tahun 2014 Tingkat Provinsi Gorontalo 23/02. Lebih lanjut Idah Syaidah menyataka bahwa kegiatan seperti ini tidak hanya menonjolkan pada salah satu kelompok kerja PKK yakni pokja IV, karena selain sebagai wadah silaturahim antara kader PKK dan warga persagi dan masyarakat, juga dapat menggambarkan kegiatan dari empat kelompok kerja (pokja) dalam PKK. Dalam kegiatan ini keterkaitannya dengan pokja I adalah bagaimana sikap gotong royong dari kader PKK, ahli gizi dan masyarakat, pada pokja II adalah adanya tambahan pengetahuan dan keterampilan, pada pokja III bagaimana memanfaatkan pangan lokal di tingkat rumah tangga, dan pokja IV tentang kesehatan khususnya terkait dengan gizi, sehingga perlu mendapat perhatian dan dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan Provinsi.

Bupati Bone Bolango H. Hamim Pou, S.Kom, MH menyampaikan dalam sambutannya bahwa kegiatan seperti ini akan didukung oleh Pemda Kabupaten Bone Bolango  jika menjadi agenda rutin tahunan PKK dan Persagi Provinsi Gorontalo. Sementara Ketua Panitia Pelaksana Darwin Maksum, S.Pd, M.Kes menyampaikan dalam laporannya bahwa tujuan pelaksanaan kegiatan Jumbara Kader PKK dan Nutritionist ini adalah 1) memberikan wawasan dan pengalaman serta keterampilan dalam pengembangan pelayanan gizi dan kesehatan masyarakat; 2) menumbuhkan kesadaran disiplin untuk hidup sehat dengan lingkungan sehat dan berkualiatas melalui gizi, dan 3) mempererat hubungan kerjasama dan silaturahmi  antara pkk, kader pkk dan ahli gizi.

Rangkaian kegiatan peringatan Hari Gizi Nasional ke-54 Tingkat Provinsi Gorontalo telah dicanangkan pada tanggal 28 Januari 2014 pada kegiatan Pekan Penimbangan Balita di Kabupaten Bone Bolango. Pada tanggal 3 sampai dengan 17 Pebruari telah dilaksanakan pula kegiatan penyuluhan dan pemantauan status gizi siswa SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Boane Bolango dan puncak peringatan HGN dilaksanakan Jumbara Kader PKK dan Nutritionist tanggal 23-25 Pebruari 2014, demikian yang disampaikan oleh Penanggung Jawab Kegiatan HGN di Provinsi Gorontalo Tahun 2014 Nurdin Dali, S.Gz.

Kegiatan Jumbara Kader PKK dan Nutritionist (JKN) ini diikuti oleh 553 orang peserta yang terdiri dari TP-PKK dan Kader PKK utusan dari 18 Kecamatan se Kabupaten Bone Bolango sebanyak 380 orang, siswa SD, SMP, dan SMA se Kecamatan Suwawa Timur sebanyak 48 orang, DPC Kabupaten/Kota sebanyak 120 orang, dan peserta peninjau dari Pramuka Peduli Kwarda Gorontalo sebanyak 5 orang.

Kegiatan Jumbara Kader PKK dan Nutritionist : hari I : diawali dengan devily dari masing-masing kontingen, pembukaan dan malamnya lomba penyuluhan dan teater Kadarzi, hari II : Talk Special (nara sumber : Hj. Carolina Kaluku (anggota SIKIB-Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu), Dr. Arifasno Napu, S.SiT, M.Kes (Praktisi Kesehatan), dan Sofyan Tambipi, S.Pd, M.Si (Wakil Ketua Persagi Gorontalo)), lomba cipta menu dan lomba makanan jajanan anak sekolah, serta malamnya kegiatan api unggun dan renungan, hari III : ceramah agama, lomba out bound gizi dan penutupan.

Akhir kata, terima kasih kepada seluruh warga Persagi se Provinsi Gorontalo, dan kepada Panitia Gabungan PKK Bone Bolango, DPC Persagi Bone Bolango dan DPD Persagi Gorontalo, serta seluruh masyarakat Gorontalo khususnya masyarakat Desa Pangi Kecamatan Suwawa Timur Kabupaten Bone Bolango. “Selamat Hari Gizi Nasional ke 54” Salam Svastha Harena.

Peringatan HGN Ke 54 Tahun 2014

Wed, 02/26/2014 - 09:58

HARI GIZI NASIONAL KE 54 TAHUN 2014

Tema: Gizi Baik, Kunci Keberhasilan Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Jakarta, 25 Februari 2014

Hari Gizi Nasional mulai diperingati sejak tahun 1960 setiap tanggal 25 Januari. Peringatan Hari Gizi Nasional tahun ini dijadikan momen untuk meningkatkan perilaku Gizi Seimbang dan dikaitkan dengan pembiayaan kesakitan dan kecacatan dalam JKN. Dalam rangka puncak peringatan Hari Gizi Nasional ke 54 Tahun 2014, telah dilaksanakan seminar yang diselenggarakn di gedung Siwabessy Kementerian Kesehatan R.I pada tanggal 25 Februari 2014. Seminar dihadiri oleh lintas program, sektor dan organisasi terkait dengan gizi.

Ibu Menkes Memberikan Sambutan

Seminar dibuka oleh Ibu Menteri Kesehatan R.I dr. Nafsiah Mboi, SP.A, MPH sekaligus memberikan sambutan dan pengarahan. Dalam sambutannya beliau menekankan bahwa  pesan pesan gizi dapat diterjemahkan dan dilaksanakan oleh masyarakat.  Agar program perbaikan gizi dapat berjalan efektif  perlu kerjasama antara ahli gizi dengan sektor peternakan, perikanan, pertanian.

Ketua Panitia HGN Memberikan Pelakat Kepada Para Pembicara Seminar

Setelah memberikan sambutan acara dilanjutkan dengan launching dan penyerahan buku Angka Kecukupan Gizi (AKG), Pedoman Gizi Seimbang (PGS), Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS) , Komik “Ayo Sarapan Sehat” oleh Ibu Menkes kepada stakeholder terkait yang didampingi oleh Dirjen Bina Gizi dan KIA, Prof. Soekirman, Ibu Nina Sarjuni. Setelah acara launching buku acara dilanjutkan dengan keynote speech tentang Gizi dan Pembangunan dari sisi Pembangunan SDM dalam Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional oleh Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan/ Bappenas kemudian dilanjutkan dengan Panel materi yaitu Pelayanan Gizi yang tercakup dalam JKN oleh dr. Tono Rustiano (Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS) dan Pengembangan Pesan-Pesan Gizi oleh dr. Anung Sugihantono, M.Kes (Dirjen Bina Gizi dan KIA) dengan  Moderator Dr. Minarto, MPS (Ketua Umum PERSAGI)

Pelantikan Pejabat Struktural Dit. Bina Gizi

Wed, 02/26/2014 - 09:44

Jakarta, GIZINET — Rabu (26/2) Akhirnya kekosongan pejabat stuktural eselon III di salah satu subdit terisi juga, bertempat di Ruan Rapat 702 Ditjen Bina Gizi KIA, Gedung Kementerian Kesehatan, Kuningan Jakarta Selatan, telah dilantik sejumlah pejabat struktural di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA, Kementerian Kesehatan RI.

Direktorat Bina Gizi adalah salah satu dari lima Direktorat di Ditjen Bina Gizi dan KIA, yang sebelumnya bernama Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Perubahan tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.

Pejabat struktural yang dilantik oleh Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA dari lingkungan Direktorat Bina Gizi berjumlah 5 orang yaitu :

1) Kepala Subdirektorat Bina Gizi Makro, Iip Syaiful, SKM MKes

2) Kepala Subdirektorat Bina Gizi Klinik, dr. Marina Damajanti, MKM.

3) Kepala Subdirektorat Bina Konsumsi Makanan, Iip Syaiful, SKM MKes.

4) Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Iryanis, SKM, MM

5) Kepala Seksi Standardisasi Konsumsi Makanan, Mahmud Fauzi, SKM, MKes

Dari nomenklatur struktur organisasi, nama subdirektorat (subdit) di lingkungan Direktorat Bina Gizi tidak ada perubahan. Akan tetapi ada perubahan pada Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) pada dua Subdit yaitu Subdit Bina Gizi Klinik dan Subdit Bina Konsumsi Makanan.

Berdasarkan Permenkes tersebut, Subdit Bina Gizi Klinik sekarang memiliki tupoksi tambahan, sehingga tugas pokoknya berubah menjadi : “Subdirektorat Bina Gizi Klinik mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta bimbingan teknis, evaluasi dan penyusunan laporan di bidang bina gizi klinik dan dietetik.” Dengan demikian regulasi tentang Dietetik mulai saat ini menjadi tanggungjawab dan tugas pokok Subdit tersebut.

Subdit Bina Konsumsi Makanan sekarang memiliki tupoksi tambahan sehingga tugas pokoknya berubah menjadi : “Subdirektorat Bina Konsumsi Makanan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta bimbingan teknis, evaluasi, dan penyusunan laporan di bidang bina konsumsi makanan dan jasa makanan.” Artinya, mulai saat ini Subdit tersebut mempunyai beban tanggungjawab tambahan dalam kebijakan dan regulasi tentang jasa boga.

Perlu digarisbawahi adalah diantara pesan-pesan Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, yaitu Tugas dan Pekerjaan Pejabat saat ini berorientasi kepada Output, bukan lagi kepada anggaran dan realisasinya.  Demikian juga adanya penegasan bahwa sekarang unit kerja Direktorat merupakan unit kerja yang benar-benar sebagai Unit Teknis, karena tugas-tugas yang bersifat administratif akan segera dialihkan kepada unit fungsional, seperti misalnya kegiatan Pengadaan Barang.

Selamat kepada para Eseslon III dan IV yang telah dilantik dilingkungan Direktorat Bina Gizi smoga menjadi amanah dan lebih baik program perbaikan gizi masyarakat yang akan datang. (Tim Teknis GIZINET)

Perjuangkan Fasilitas Laktasi di Kantor

Tue, 02/18/2014 - 09:10

Dibandingkan saat saya mulai menyusui, Desember 2004, saat ini (nampaknya) menyusui sudah jauh lebih mudah. Di mana-mana mulai tersebar nursing room, banyak penjual apron dengan berbagai motif dan model yang lucu-lucu, informasi tentang menyusui tersebar seantero dunia maya, media cetak dan televisi pun tidak ketinggalan mengusung berbagai bahasan tentang ASI. Dulu boro-boro beli apron, informasinya saja sangat sedikit. Saat saya mengalami plugged duct, bengkak, dan nyeri, mencari cara penanganannya saja cuma ketemu di website berbahasa Inggris.

Senang rasanya awareness tentang ASI saat ini sudah sangat menyebar. Pasti semua ibu, dengan berbagai informasi yang tersedia sekarang, sudah sukses setidaknya melalui masa ASI Eksklusif (ASIX).

Betulkah?
Ternyata tidak

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Program Magister Kedokteran Kerja Departemen Kedokteran Komunitas FKUI, pekerja sektor formal di Jakarta yang memberi ASIX hanya 32%. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, penelitian ini menunjukan hampir 80% pekerja pabrik di Jakarta tidak memberikan ASIX. Padahal responden penelitian ini diantaranya ada pekerja perempuan dari empat kantor BUMN yang harusnya dengan terbitnya SK Bersama Tiga Menteri (MenKes, MeNaKer, dan MeNeg PP) sudah tidak ada halangan lagi bagi mereka untuk memberikan ASI selama mungkin. Tetapi pada kenyataannya, bahkan di kantor BUMN pun, yang namanya fasilitas menyusui yang dapat digunakan untuk memompa dan menyimpan ASI, belum memenuhi syarat. Apalagi program pembinaan laktasi, akses ke konsultan laktasi, dan materi edukasi tentang laktasi.

Untungnya di perkantoran masih bisa difungsikan semacam ruangan darurat yang boleh digunakan untuk menyusui walau kadang bentuknya berupa mushola yang sewaktu-waktu bisa dimasuki oleh karyawan pria juga, dan jam kerja yang lebih fleksibel untuk disela memompa. Sementara di pabrik tidak ada sama sekali ruang yang bisa digunakan untuk memompa dan waktu memompa juga sangat terbatas.
Dari empat BUMN yang disurvei, hanya satu yang memiliki ruang laktasi khusus dan permanen, dengan fasilitas wastafel dan sofa. Lemari pendingin/freezer juga tersedia, tapi saat itu sedang dalam keadaan rusak. Namun kendalanya lokasi ruangan ini cukup jauh. Tiga perkantoran yang lain hanya memiliki ruang darurat yang peruntukannya tidak khusus untuk memompa dan kondisinya tidak permanen. Kebanyakan hanya berupa pojokan kecil dengan penutup gorden yang berfungsi juga sebagai ruang istirahat sementara untuk karyawan.

Melihat kondisi di lingkungan tempat kerja yang seperti itu, 50% pekerja akhirnya memompa ASI di toilet/kamar mandi. Dengan dukungan yang minim seperti ini, tidak heran bila akhirnya setelah kembali masuk kerja sehabis cuti hamil 3 bulan, ASIX terhenti (45% pada bulan ke-4) dan ASI disambung dengan susu formula atau MPASI dini.

Berdasarkan penelitian tersebut, penyebab utama rontoknya motivasi untuk terus memberikan ASIX di kalangan wanita pekerja adalah:

  • Minimnya fasilitas pendukung laktasi seperti ruang pompa yang permanen dan khusus.
  • Tidak ada media edukasi tentang laktasi seperti brosur, mini-book, atau poster.
  • Tidak ada program pembinaan laktasi di tempat kerja.
  • Tidak ada konsultan laktasi (KL) di kantor. Tidak harus yang betul-betul berprofesi/bersertifikat sebagai KL, personel HRD dengan ilmu laktasi sudah cukup.
  • Kebijakan jam kerja yang pro ibu menyusui seperti misalnya rehat untuk memompa atau keleluasaan jam makan siang bila ada karyawan yang tempat tinggalnya dekat hendak pulang untuk menyusui.

Bagi perusahaan, Ibu yang memberikan ASIX sebenarnya merupakan investasi karena si bayi akan lebih jarang sakit sehingga Ibu bisa lebih fokus bekerja dan produktivitasnya tinggi.

Di tempat kerja Mommies sudah ada fasilitas laktasi? Di atas saya sertakan juga contoh ruang laktasi yang bisa diusahakan di kantor.

Bila belum dan berniat mengajukan proposal ke kantor untuk pengadaan fasilitas dan pembinaan laktasi, berikut kontak yang mungkin bisa membantu:

SENTRA LAKTASI INDONESIA
Jl. Guru No 100 RT 06 RW 02
Lenteng Agung – Jakarta Selatan 12610
Telp/Fax: 021 7807817
Email: sentra.laktasi.indonesia@gmail.com
Twitter:@sentralaktasi
Web: www.selasi.net (saat ini vakum, dalam rekonstruksi menjadi www.selasi.org)

ASOSIASI IBU MENYUSUI INDONESIA (AIMI)
Graha MDS Lt.3, Duta Mas Fatmawati Blok B1/34
Jl. RS Fatmawati No. 39
Jakarta 12150
Telp: (021) 7279 0165

www.aimi-asi.org

 

 

 

sumber : http://id.she.yahoo.com/perjuangkan-fasilitas-laktasi-di-kantor-051822154.html

PGS 2014

Mon, 02/17/2014 - 15:44
Pedoman Gizi Seimbang (PGS) 2014

 

Salah satu ciri bangsa maju adalah bangsa yang memiliki tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas kerja yang tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh Chadian gizi agar dapat menikmati hidup dalam keadaan sehat.

Pola makan merupakan perilaku paling penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi. Keadaan gizi yang baik dapat meningkatkan kesehatan individu dan masyarakat. Pola makan yang baik adalah berpedoman pada Gizi Seimbang.

Pedoman Gizi Seimbang telah diimplementasikan di Indonesia sejak tahun 1955. Pedoman tersebut menggantikan slogan “4 Sehat 5 Sempurna” yang telah diperkenalkan sejak tahun 1952 dan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam bidang gizi serta masalah dan tantangan yang dihadapi. Tahun 1990 an kita sudah punya Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). Lebih dari 15 tahun lalu Pedoman Gizi Seimbang telah dikenalkan dan disosialisasikan kepada masyarakat, namun masih banyak masalah dan kendala dalam sosialisasi Gizi Seimbang sehingga harapan untuk merubah perilaku gizi masyarakat ke arah perilaku gizi seimbang belum sepenuhya tercapai. Konsumsi pangan belum seimbang baik kuantitas maupun kualitasnya, dan perilaku hidup bersih dan sehat belum memadai. Memperhatikan hal diatas telah tersusun Pedoman Gizi Seimbang yang baru, pada tanggal 27 Januari 2014 lalu telah diselenggarakan workshop untuk mendapat masukan dari para pakar pemerintah serta non pemerintah, lintas sektor, lintas program dan organisasi profesi.

Pedoman Gizi Seimbang baru ini sebagai penyempurnaan pedoman-pedoman yang lama, bila diibaratkan rumah maka ada 4 (empat) pilar prinsip yang harus dipenuhi agar rumah tersebut dapat berdiri, yaitu 1). Mengonsumsi makanan beragam,  tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjamin pertumbuhan dan mempertahankan kesehatannya, kecuali Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi baru lahir sampai berusia 6 bulan; 2). Membiasakan perilaku hidup bersih, perilaku hidup bersih sangat terkait dengan prinsip Gizi Seimbang; 3)  Melakukan aktivitas fisik, untuk menyeimbangkan antara pengeluaran energi dan pemasukan zat gizi kedalam tubuh;  4) Mempertahankan dan memantau Berat Badan (BB) dalam batas normal. Memantauan BB normal merupakan hal yang harus menjadi bagian dari ‘Pola Hidup’ dengan ‘Gizi Seimbang’, sehingga dapat mencegah penyimpangan BB dari BB normal, dan apabila terjadi penyimpangan maka dapat segera dilakukan langkah-langkah pencegahan dan penanganannya. Pesan-pesan PGS, baru  1). Syukuri dan nikmati anekaragam makanan; 2). Banyak makan sayuran dan cukup buah-buahan; 3) Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi; 4) Biasakan mengonsumsi anekaragam  makanan pokok; 5)  Batasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak; 6) Biasakan Sarapan; 7) Biasakan minum air putih yang cukup dan aman; 8 ) Biasakan membaca label pada kemasan pangan; 9) Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir; 10) Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan normal

Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa “stunting” pada Balita dan prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) makin meningkat. Perhatian terhadap masalah gizi ganda juga perlu lebih ditingkatkan, disamping masih banyak yang kekurangan gizi, tmasalah gizi lebih juga meningkat. laporan Riskesdas 2013 sejumlah 32,9% wanita dewasa dan 19,7% pria dewasa mengalami obesitas (IMT >25,0) yang berisiko terhadap berbagai gangguan kesehatan atau penyakit.

Apakah kita sudah menerapkan Gizi Seimbang hari ini…? Makan beranekaragam, Hidup bersih dan sehat, lakukan aktifitas fisik dan pantau Berat Badan anda secara berkala agar tubuh sehat dan hidup kita akan lebih produktif

PGS yang baru ini dilengkapi pula dengan pesan visualisasi untuk konsumsi kita sehari-hari yang digambarkan “Tumpeng”, dan konsumsi makanan untuk sekali makan digambarkan “Piring makanku” panduan sekali makan.

 

 

 

 

 

 

Tele-Conference SUN Movement

Tue, 02/04/2014 - 15:53

Gerakan percepatan perbaikan gizi (Scaling Up of Nutrition/SUN) yang difokuskan pada 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) telah dicanangkan sejak September 2010 oleh Negara-negara yang menghadapi masalah gizi. USA dan Irlandia adalah Negara yang mempelopori gerakan 1000 HPK. Negara seperti Uganda, Malawi, Bangladesh, Nepal dan Ghana adalah Negara yang pertama kali berkomitmen terhadap tujuan SUN. Indonesia mulai berkomitmen terhadap SUN sejak tanggal 22 Desember 2011.
Fase 1000 HPK telah terbukti secara ilmiah merupakan periode dari ibu hamil sampai dengan anak usia 2 tahun. Setiap Negara telah sepakat untuk meningkatkan upaya perbaikan gizi sejak ibu hamil sampai dengan anak berusia 2 tahun.
Dalam rangka meningkatkan komunikasi antar Negara-negara ASEAN terkait dengan kemajuan kegiatan “SUN Movement” , Sekretariat “The SUN Movement” telah membuat agenda pertemuan untuk mendiskusikan pelaksanaan dan kemajuan “The SUN Movement”. Salah satu agenda pertemuan, telah dilaksanakan “Tele-conference” pada hari Kamis, 30 Januari 2014 bertempat di Bappenas mendiskusikan “Sistim Informasi Gizi: Pengumpulan Data, Analisa dan Pelaporan dan Kemajuan SUN setiap Negara serta Prioritas 2014”. Peserta “Tele-Conference” 3 negara anggota “The SUN Movement” Negara ASEAN (Indonesia, Bangladesh dan Laos). Pembicara dari Indonesia adalah Kepala Biro Kesehatan dan Gizi Bappenas dan Direktur Bina Gizi Kemenkes RI serta Sekretariat SUN Indonesia.
Dalam Tele-conference yang dipandu oleh oleh David Nabarro, Coordinator dari “The SUN Movement” di New York-USA, Setiap Negara menjawab pertanyaan yang diajukan oleh David Nabaro terkait Sistem Informasi Gizi, kemajuan SUN dan prioritas kegiatan SUN 2014. Di Indonesia sendiri, kegiatan SUN telah didukung oleh Pemerintah dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor:42, Tahun 2013 Tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang difokuskan pada Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Dalam rangka implementasi PP tersebut, akan dilakukan berbagai kegiatan baik di pusat maupun di daerah. Pada tahun 2014 Melalui Proyek Millenium Challenge Corporation akan dilaksanakan kegiatan Rintisan Model Penanggulangan Stunting di 11 provinsi dan 64 kabupaten. Berdasarkan diskusi melalui Tele-Conference, disimpulkan bahwa setiap Negara akan memperkuat sistem informasi gizi mulai pengumpulan dan analisis data, pelaporan dan pemanfaatan data untuk evaluasi, perencanaan dan tindakan cepat.

 

Laporan Kunjungan Direktorat Gizi ke Bencana Gunung Sinabung

Thu, 01/30/2014 - 12:55

Sehubungan dengan kejadian erupsi gunung Sinabung di Kab. Karo Provinsi Sumatera Utara yang telah berlangsung selama + 4 bulan, Direktorat Bina Gizi berkoordinasi dengan Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan telah melaksanakan serangkaian kegiatan untuk mendukung penanganan gizi di lokasi pengungsian. Pada bulan Desember 2013, tim dari Direktorat Bina Gizi telah melakukan kunjungan ke lokasi bencana untuk memfasilitasi kegiatan gizi di lokasi pengungsian. Pada bulan Januari 2014,  kegiatan dilanjutkan oleh  2 tim.

- Agenda Kegiatan

  • Melakukan pertemuan koordinasi dengan Kepala Dinas, Kepala Bidang Kesga dan Kepala Seksi Gizi di Kantor Dinas Kesehatan Kab. Karo untuk merencanakan kegiatan gizi di lokasi pengungsian.
  • Melakukan pengecekan bantuan bahan makanan, penyelenggaraan dapur umum, pengukuran antropometri dan menyusun jadwal konseling ASI/MP ASI.
  • Melakukan pertemuan koordinasi lanjutan dengan Kepala Dinas, Kepala Bidang Kesga dan Kepala Seksi Gizi di Kantor Dinas Kesehatan Kab. Karo untuk menindaklanjuti rencana kegiatan di lokasi pengungsian yang telah disusun sebelumnya.
  • Melakukan pendampingan bagi petugas gizi dari Dinas Kesehatan Karo yang bertugas di pos kesehatan pada posko pengungsian .
- Hasil Kegiatan
  1. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo sampai dengan 21 Januari 2014, jumlah pengungsi telah mencapai 8.967 KK, dengan 28.536 jiwa, kelompok rawan seperti ibu hamil sebanyak 203 orang, bayi/balita 869 orang dan Lansia 1.573 orang.
  2. Kegiatan gizi yang telah dilakukan di lokasi bencana bertujuan mempertahankan dan meningkatkan status gizi pengungsi khususnya kelompok rawan balita dan ibu hamil.   Kegiatannya meliputi :
    1. Pendistribusikan 27 ton MP-ASI dan 3 ton PMT bumil ke lokasi pengungsian.
    2. Pemantauan bantuan bahan makanan dan dapur umum

Berdasarkan laporan dari Kepala Gudang Logistik, stok pangan masih mencukupi, namun ditemukan 1 bantuan berupa minuman ringan yang sudah kadaluarsa.

  1. Dukungan Pemberian Makan Bayi dan Anak
  • Konseling menyusui

Kegiatan konseling menyusui telah dilaksanakan oleh 7 konselor menyusui yaitu Kristina Butar Butar, SKM (Dinkes Provinsi Sumatera Utara), dr. Sri Aleniwa Br Ginting, Sp.A (RSU Kabanjahe), dr. Leni Perangin-angin (RSU Kabanjahe), Simapasari (Dinkes Karo) dan Rosen Br Sembiring, Remona Br Bangun, Sukmawati Br Ginting (Puskesmas Kabanjahe) pada tanggal 23 Januari 2014 di Pos Pengungsian Paroki, GBKP Kodim dan Mesjid Agung Kabanjahe.

  • Peragaan Pengolahan MPASI darurat berbahan biskuit MP-ASI
  1. Pemberian suplementasi gizi : Pemberian suplementasi gizi pada situasi bencana tetap dilakukan.
  • Bayi 6-11 bulan diberikan  kapsul vitamin A 100.000 SI  (warna biru) dan  kapsul vitamin A 200.000 SI (warna merah) untuk anak 12-59 bulan
  • Ibu nifas diberikan 2 kapsul vitamin A selama masa nifas
  • Ibu hamil diberikan tablet tambah darah.
  1. Pemeriksaan kesehatan dan pengukuran antropometri di lokasi pengungsian
  • Untuk memantau perkembangan status kesehatan dan gizi kelompok rawan khususnya balita dan ibu hamil telah dilaksanakan penimbangan berat badan balita dan pengukuran LiLA ibu hamil di lokasi pengungsian Paroki, GBKP Kodim dan Mesjid Agung (Data sedang diolah)
  • Hasil pengukuran tersebut, perlu dikonfirmasi dengan indeks antropometri lainnya yaitu PB/U-TB/U dan BB/PB-BB/TB sehingga dapat lebih sensitif untuk memantau perkembangan status gizi balita.

Tim Bencana Sinabung Provinsi diwakili Ferdinan Hamzah mendampingi ibu Menteri Kesehatan saat kunjungan di pos pengungsian Masjid Agung Kabanjahe tanggal 23 Januari 2014

Stok MPASI di Pos Pengungsian Masjid Agung Kabanjahe

Tim Bencana Sinabung Pusat diwakili Ir. Mursalim, MPH sedang menjelaskan stok MP-ASI dan PMT Bumil kepada ibu Menteri Kesehatan saat kunjungan di pos pengungsian Masjid Agung Kabanjahe tanggal 23 Januari 2014

HARI GIZI NASIONAL KE-54 TAHUN 2014 TINGKAT PROVINSI GORONTALO

Wed, 01/29/2014 - 14:18

PEKAN PENIMBANGAN BALITA

KABUPATEN BONE BOLANGO

Dalam rangka peringatan

HARI GIZI NASIONAL KE-54 TAHUN 2014

TINGKAT PROVINSI GORONTALO

 

GIZINET,29/1/2014 – Pencapaian pembangunan manusia diukur dengan Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan indeks komposit yang terdiri dari pendidikan, kesehatan dan pendapatan perkapita. Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS bahwa IPM Kabupaten Bone Bolango pada tahun 2012 sangat menggemberikan yakni 72,65 berada diatas rata-rata IPM Kabupaten/Kota se Provinsi Gorontalo setelah Kota Gorontalo, dan peringkat 226 dari 497 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Salah satu indikator IPM bidang kesehatan yakni status gizi, selain angka kematian ibu, angka kematian balita dan umur harapan hidup, hal ini disampaikan oleh Bupati Bone Bolango H. Hamim Pou, S.Kom, MH dalam sambutannya pada Pekan Penimbangan Balita di Kabupaten Bone Bolango 28/01.

Salah faktor yang dianggap sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah faktor gizi. Untuk menangani masalah gizi berbagai faktor sangat mempengaruhi, antara lain, adalah masih tingginya angka kemiskinan, rendahnya kesehatan lingkungan; belum optimalnya kerjasama lintas sektor dan melemahnya partisipasi masyarakat. Berdasarkan hal-hal tersebut ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bone Bolango Hj. Lolly Pou Yunus sangat menyambut baik atas kerjasama antara Persatuan Ahli Gizi Indonesia Provinsi Gorontalo dengan kami TP-PKK Kabupaten Bone Bolango dalam rangka peringatan Hari Gizi Nasional ke 54 tahun 2014 Tingkat Provinsi Gorontalo. Hal ini merupakan wujud nyata dukungan dari Organisasi Profesi yakni Persagi dan TP-PKK kepada Pemerintah Daerah dalam upaya perbaikan status gizi masyarakat.

Menurut Wakil Ketua DPD PERSAGI Provinsi Gorontalo Sofyan Tambipi, S.Pd, M.Si, bahwa Pekan Penimbangan Balita di Kabupaten Bone Bolango merupakan rangkaian kegiatan peringatan Hari Gizi Nasional ke-54 Tingkat Provinsi Gorontalo yang tahun dipusatkan di Kabupaten Bone Bolango. Selain itu, kegiatan yang akan dilaksanakan oleh  DPD Persagi Provinsi Gorontalo dalam peringatan HGN ke 54 ini seperti penyuluhan dan pemantauan status gizi siswa SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Boane Bolango dan puncak acaranya akan dilaksanakan Kemah Bhakti Gizi pada tanggal 23-25 Pebruari 2014. Kegiatan peringatan Hari Gizi Nasional Tingkat Provinsi Gorontalo, dilaksanakan oleh DPD Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Provinsi Gorontalo dan DPC PERSAGI Kabupaten Bone Bolango bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango dan Tim Penggerak PKK Kabupaten Bone Bolango. Penannggung jawab kegiatan Kemah Bhakti Gizi (KBGizi) Nurdin Dali, S.Gz menyampaikan bahwa pada kegiatan KBGizi nanti akan dilaksanakan berbagai lomba dan penyuluhan seperti lomba menu, Festival Makanan Jajanan Anak Sekolah (MJAS), lomba teater Kadarzi dan lomba out bound Gizi yang akan diikuti oleh seluruh anggota Persagi se Provinsi Gorontalo, Kader Kesehatan, TP-PKK Kecamatan dan Siswa SD, SMA, dan SMA.

Sementara itu di tempat terpisah Suryanto Soleman, S.ST selaku Ketua DPD Persagi Provinsi Gorontalo, Ketua Pokja IV TP-PKK Kabupaten Boalemo yang juga Kepala Kantor Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Boalemo menyatakan bahwa momentum HGN ini kiranya dapat menjadi motivasi kepada masyarakat dalam berpartisipasi melaksanakan kegiatan Posyandu, dan utamanya berdampak pada program gizi dalam meingkatkan pencapaian cakupan partisipasi masyarakat (D/S).

Akhirnya, semoga kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar, serta beroleh Ridho dari Allah SWT Selamat Hari Gizi Nasional ke 54. Salam Svastha Harena bagi seluruh warga Persagi.

 

HARI GIZI NASIONAL KE-54 TAHUN 2014 PROVINSI MALUKU

Wed, 01/29/2014 - 10:05

GIZINET-29/1/2014-Dalam memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-54 Tahun 2014, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku mengadakan serangkaian kegiatan yang dimulai pada tanggal 23 – 25 Januari 2014. Perayaan HGN Tahun 2014 dilaksanakan dibawah tema : Gizi Baik, Kunci Keberhasilan Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dan  sub tema : Gizi Seimbang Meningkatkan Usia Harapan Hidup (UHH). Berkaitan dengan tema dan sub tema tersebut, maka acara puncak HGN Tahun 2014 dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werda Inakaka Passo-Ambon pada tanggal 25 Januari 2014.

Acara puncak dihadiri oleh Pemerintah Provinsi Maluku yang diwakili Asisten II Setda Maluku, Bapak Ali Sella,SH.MH, Pemerintah Kota Ambon yang diwakili  Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Tressje Torry, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, dr. Meikyal Pontoh, M.Kes, serta undangan lintas program dan lintas sektor terkait antara lain Bappeda Provinsi dan Kota Ambon, BKM Provinsi dan Kota Ambon, Dinas Sosial Provinsi dan Kota Ambon, Badan Ketahanan Pangan Provinsi dan Kota Ambon, Perwakilan UNICEF Maluku, Para Direktur RSUD Pemerintah di Kota Ambon, UPTD Dinas Kesehatan Provinsi, PERSAGI Maluku, IBI Provinsi dan Kota Ambon, PPNI Maluku, dan Himpunan Mahasiswa Poltekkes Jurusan Gizi.

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka HGN ke-54 Tahun 2014, antara lain :

  • Edaran Kepala Dinas Kesehatan Provinsi ke 11 kabupaten/kota untuk menyelenggarakan HGN 2014
  • Kunjungan ke RSUD dr. M. Haulussy sebagai RS Pusat Rujukan oleh Tim dari Dinas Kesehatan Provinsi Maluku pada tanggal 24 Januari 2014, dalam rangka melihat kesiapan rumah sakit terkait Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) khususnya pelayanan kepesertaan BPJS PBI dan non PBI, mengunjungi ruang obstetri untuk melihat pelaksanaan IMD dan pemberian ASI Eksklusif serta instalasi gizi rumah sakit (melihat pelakanaan logistik sampai dengan pendistribusian makanan ke pasien)
  • Pemeriksaan kesehatan lansia pada acara puncak HGN termasuk pemeriksaan gula darah dan kolesterol oleh Tim Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kota Ambon kepada 80 orang lansia penghuni Panti Werda
  • Penyuluhan tentang Gizi Lansia dan Penyakit Tidak Menular oleh narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kota Ambon
  • Penyiaran spot radio tentang  HGN Tahun 2014 yang fokus pada gizi lansia
  •  Pemasangan spanduk dan baliho tentang gizi lansia di beberapa lokasi strategis di kota Ambon
  •  Seminar sehari oleh Himpunan Mahasiswa Poltekkes Maluku Jurusan Gizi
  •  Pada acara puncak HGN Tahun 2014 ini juga dibagikan bingkisan kepada para lansia yang terdiri atas biskuit dan susu anlene.

 

 

 

”Gizi 1000 Hari, menentukan Kualitas Hidup Masa Depan”,

Tue, 01/28/2014 - 13:25

Gizinet-28/1/2014, Tahun 2014, merupakan peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-54 sesuai dengan surat yang kami terima dari Direktorat Gizi Kementerian Kesehatan pada tanggal    10 Januari 2014 lalu menetapkan tema “Gizi baik, kunci keberhasilan pelaksanaan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)”, pemilihan tema ini didasarkan kepada pentingnya peranan gizi dalam mencegah baik penyakit menular maupun tidak menular yang selanjutnya akan berpengaruh pada pelaksanaan JKN.

Menindaklanjuti pelaksanaan HGN ke-54 tahun 2014 DPD Persatuan Ahli Gizi (Persagi Jambi) melakukan beberapa rangkaian acara :

  1.  Seminar sehari yang diikuti lebih kurang 150 orang peserta yang terdiri dari ahli gizi, perawat, bidan dan dokter yang berasal dari Puskesmas, Rumah Sakit pemerintah dan swasta se-Provinsi Jambi dan dari Sumatera Selatan, seminar tersebut dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 25 Januari 2014, yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, pada kesempatan tersebut kepala Dinas Kesehatan memberikan apresiasi pelaksanaan seminar tersebut, pada acara pembukaan Kepala Dinas Kesehatan menyampaikan tentang pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kepada peserta. Adapun tema seminar hari gizi tersebut adalah ”Gizi 1000 Hari, menentukan Kualitas Hidup Masa Depan”, seminar dimaksud terakreditasi di DPP Persagi Pusat.
  2. Bhakti sosial yang dilaksanakan di Kelurahan Bagan Pete Kecamatan Kota Baru Jambi bekerjasama dengan DPC Persagi Kota Jambi yaitu penyuluhan tentang gizi 1000 hari kepada kader-kader baru di Kelurahan Bagan Pete dengan jumlah peserta 50 orang
  3. Bhakti sosial yang dilaksanakan di Kecamatan Jambi Timur bekerjasama dengan DPC Persagi Kota Jambi dengan kegiatan penyuluhan kepada ibu hamil sekaligus pemberian PMT ibu hamil sebanyak 50 orang peserta, kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Camat Jambi Timur Kota Jambi
  4. Bhakti sosial di Kelurahan Kenali Besar bekerjasama dengan DPC Persagi Kota Jambi yaitu penyuluhan gizi dan pemberian MP-ASI kepada balita gizi kurang di Kelurahan Kenali Besar Wilayah Kerja Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi

Berikut beberapa kegiatan pelaksanaan Hari Gizi Nasional di Provinsi Jambi:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tema Hari Gizi Nasional

Wed, 01/08/2014 - 09:52

No : TU.05.01/BII.1/10413/2013

Perihal : Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke 54

 

Kepada Yth. Bapak/Ibu

1. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi seluruh Indonesia

2. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia

 

Sebagaimana kita ketahui  bahwa pada tanggal 25 Januari setiap tahun diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN). Tahun ini merupakan HGN yang ke 54 dan tema yang digunakan adalah “Gizi Baik, kunci keberhasilan pelaksanaan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)“. Pemilihan tema ini didasarkan kepada pentingnya peranan gizi dalam mencegah penyakit baik penyakit menular maupun tidak menular yang selanjutnya akan berpengaruh kepada pelaksanaan JKN.

sehubungan hal tersebut, kami mengharapkan peringatan Hari Gizi Nasional dapat dilakukan di Propinsim Kabupaten dan kota dan untuk pelaksanaan HGN dimaksud dengan melibatkan organisasi profesi dibidang gizi dan kesehatan, serta pemangku kepentingan lainnya. selain itu kami menghimbau agar peringatan HGN ini diikuti dengan bakti sosial yang memiliki kaitan dengan upaya meningkatkan kesehatan dan gizi.

 

 

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih

 

 

 

Direktur Bina Gizi

Ir. Doddy Izwardy, MA

MAYSARAKAT GORONTALO TIDAK PERLU TAKUT SAKIT

Tue, 01/07/2014 - 09:21

MAYSARAKAT GORONTALO (tidak perlu takut) SAKIT

Oleh : Sofyan Tambipi, Gorontalo

Jakarta-Gizinet, 7/1/2014 Sepekan sudah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah dimulai yakni pada tanggal 1 Januari 2014, yang memiliki multi manfaat, baik secara medis dan maupun non medis. Paket manfaat yang diterima dalam program JKN ini adalah komprehensif sesuai kebutuhan medis. Dengan demikian pelayanan yang diberikan bersifat paripurna (preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif) tidak dipengaruhi oleh besarnya biaya premi bagi peserta. Promotif dan preventif yang diberikan dalam konteks upaya kesehatan perorangan (personal care).

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif..???, mungkin sebagian besar masyarakat belum tahu bahkan belum memahami apa yang dimaksud dengan upaya kesehatan tersebut. Bahkan yang ada dalam benak masyarakat jikalau mendengar tentang informasi kesehatan, pastilah yang menjadi pemikirannya adalah sakit dan mungkin sebagian lagi berpikir sehat atau bagaimana caranya supaya saya jikalau sakit menjadi sehat, dan mungkin hanya sebagian kecil kalangan yang berpikir bagaimana caranya agar saya sehat tetap sehat.

JKN sebenarnya merupakan kelanjutan dari jaminan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin yang dimulai sejak tahun 1998, kemudian pada tahun 2005 dirubah menjadi ASKESKIN, dan pada tahun 2008 dikenal dengan JAMKESMAS yang pada saat itu belum mencakup bagi seluruh masyarakat. Sehingga akan disempurnakan melalui Jaminan Kesehatan Nasional yang dimulai tanggal 1 Januari 2014, dan harapannya pada tahun 2019 seluruh penduduk sudah menjadi peserta JKN.

Coba kita lihat di Gorontalo, selain adanya JAMKESMAS, adapula JAMKESDA, JAMKESMAN, dll yang diselenggarakan oleh Pemda Kabupaten/Kota, dan mulai tahun 2012 Pemda Provinsi Gorontalo telah menyelenggarakan yang namanya JAMKESTA (Jaminan Kesehatan Semesta) yang mengkafer sebagian masyarakat yang belum belum memiliki jaminan kesehatan, sehingga diprediksi sejak tahun 2012 tersebut Gorontalo bebas untuk sakit, karena jikalau sakit bebas untuk berobat. Namun, kalau kita bertanya kepada masyarakat, apakah mereka sudah memiliki jaminan kesehatan, masih ada ditemukan sebagian masyarakat yang belum memiliki kartu jaminan kesehatan, contohnya saja kalau kita ke Rumah Sakit (RS), masih ada masyarakat yang baru saja akan mengurus kartu jaminan kesehatannya sehingga pada saat awal masuk RS diperlukan biaya sementara, dan nanti akan ada pengembaliannya apabila kartu jaminannya bisa keluar.

Hal lain dan perkembangan terakhir di Gorontalo, akan di bangun RS yang kapasitasnya lebih banyak menampung orang sakit, sehingga masyarakat Gorontalo tidak perlu lagi takut untuk sakit karena ada jaminan untuk berobat gratis, dan bahkan disediakan sarana (yakni RS) untuk tempat berobat yang kapasitasnya jika ditambahkan jumlah tempat tidur yang tersedia di seluruh RS ditambah RS yang akan dibangun maka sudah mencapai lebih dari seperseribu jumlah penduduk Gorontalo.

Kembali lagi tentang Jaminan Kesehatan, menarik memang tentang jaminan kesehatan ini, kalau kita lihat jaminan lainnya mungkin dengan nama asuransi seperti asuransi kebakaran, asuransi kerusakan mobil, dll, kata yang digunakan adalah kata yang bermakna akibat, sedangkan khusus kesehatan kata yang digunakan adalah kata yang bermakna kondisi yang baik, mungkin harusnya kalau mengikuti asuransi-asuransi yang ada kata yang tepat adalah jaminan sakit atau kesakitan. Karena apabila sakit, kita dijamin untuk diobati secara gratis.

Catatan saya yang terakhir dalam tulisan ini mungkin sebaiknya masyarakat perlu tahu dan memahami apa sebenarnya upaya kesehatan paripurna tersebut (promotif, preventif,kuratif, dan rehabilitatif), tetapi hal ini mungkin agak sulit dipahami, sebaiknya yang mungkin lebih mudah dipahami adalah bagaimana orang sakit bisa sehat dan bagaimana orang sehat tetap sehat atau dengan menggalakkan kembali “lebih baik mencegah daripada mengobati”. Bagaimana seharusnya agar tidak sakit dan tetap sehat..???, salah satunya yang mungkin mudah di ingat yakni CERDIK (Prof. Tjnadar Yoga Aditama), yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyah dari asap rokok, Rajin beraktivitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istrahat yang cukup, dan Kelola stress. Selain itu, bagi umat muslim dianjurkan untuk mengikuti cara sehat dari Rasulullah melalui pola makan, dan aktivitas Beliau sehari-hari. Hal lain yang tak kalah pentingnya, dimana tradisi dan budaya daerah kita sebenarnya kaya akan informasi dan tata cara bagaimana sehat melalui makanan tradisional itu sangat penting untuk dilestarikan, demikian halnya mungkin sejalan juga dengan kiprah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dalam Hari Gizi Nasional 2014 yang mengangkat tema “Gizi Baik, Kunci Keberhasilan Pelaksanaan JKN”.

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Pengumuman……..

Fri, 01/03/2014 - 16:45

PENGUMUMAN

Mungkin Anda orang yang bisa membantu kami…… Dalam rangka pengembangan dan pemeliharaan situs http://www.gizi.depkes.go.id (GIZINET) dan Sistem Informasi Gizi (SIGIZI) secara online. Persyaratan umum pria usia maksimal 27 tahun, pendidikan minimal DIII sistem informatika dan teknik informatika. Kirim CV anda ke subditbkg@yahoo.com

 

Pengelola www. gizi.depkes.go.id

E-MAIL LOGIN


@litbang.depkes.go.id

  



 

Lembaga Penerbitan Balitbangkes



E-Journal Berlangganan




U L P



PENGUNJUNG

hit counter