You are here

Jejaring Gizi Indonesia

Subscribe to Jejaring Gizi Indonesia feed
Jejaring Gizi Indonesia
Updated: 32 min 2 sec ago

Undangan Acara Puncak Pekan Asi Sedunia

Tue, 09/09/2014 - 12:19

UNDANGAN ACARA PUNCAK PAS TAHUN 2014

 

 

Nomor      :  TU.05.01/B.II/2514-1 /2014                            29 Agustus  2014

Lampiran :  1 (satu) berkas

Hal            :  Undangan Acara Puncak PAS 2014

 

 

Yang terhormat,

Kepala Dinas Kesehatan Propinsi di seluruh Indonesia, beserta

Ketua Tim Penggerak PKK Propinsi di seluruh Indonesia

 

Dalam rangka memperingati Pekan ASI Sedunia (PAS) tahun 2014 dengan tema global  Breastfeeding: A Winning Goal for life , yang diadaptasi dengan tema nasional Menyusui: Kemenangan untuk kehidupan Direktorat Jenderal Bina Gizi  dan KIA akan menyelenggarakan Acara Puncak Pekan ASI Sedunia Tahun 2014 yang akan diselenggarakan pada :

 

Hari/ Tanggal : Senin, 15 September 2014

Waktu             : 08.30 WIB s.d 16.00 WIB.

Tempat             : Balai Kartini, Jl. Gatot Subroto  No.37 ,  Jakarta Selatan

Peserta diharapkan sudah hadir pada hari Minggu, 14 September 2014 pukul 16.00 WIB di Hotel Pomelotel, Jl. Dukuh Patra Raya  No. 28, Kuningan Jakarta Selatan dengan membawa Surat Tugas. Biaya transportasi dan uang harian berasal dari dana DIPA masing-masing propinsi yang sudah di dekonkan. Panitia penyelenggara hanya menanggung biaya akomodasi dan penyelenggaraan di Balai Kartini ( Fullboard Meeting) untuk dua orang Undangan tersebut diatas.

 

Bagi propinsi yang telah mengadakan lomba Baduta Sehat Ibu Cerdas di wilayahnya, agar membawa serta Ibu dan Anak pemenang Lomba tersebut ke acara puncak ini atas  biaya swadaya dari masing-masing propinsi.

 

Atas perhatian dan  kerjasama Saudara, kami ucapkan terima kasih.

 

Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA,

Ttd.

 

dr. Anung  Sugihantono, M.Kes

NIP. 19603201985021002

 

NB: Undangan ini sudah kami kirim melalui email masing2, mohon bagi yg belum menerima, agar menghubungi panitia di Subdit Bina Konsumsi Makanan, ( Sdr. Satrio, hp 082141884484). Bagi daerah yg belum mengirimkan berkas lomba baduta sehat dapat mengirimkan ke email subditbkm@yahoo.com  karena seleksi tk pusat akan dilaksanakan 11 Agustus 2014 yad. Terima kasih

Permenkes Tentang Angka Kecukupan Gizi

Mon, 09/08/2014 - 15:07

Angka Kecukupan Gizi (AKG) atau Recommended Dietary Allowances (DRA) merupakan kecukupan rata-rata zat gizi sehari bagi hampir semua orang sehat (97,5%) menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh aktifitas fisik, genetik dan keadaan fisiologis untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Di Indonesia, Angka Kecukupan Gizi (AKG) disusun dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) setiap 5 tahun sekali sejak tahun 1978. AKG ini mencerminkan asupan rata-rata sehari yang dikonsumsi oleh populasi dan bukan merupakan perorangan/individu. Berbeda dengan kebutuhan gizi ( requirement), menggambarkan banyaknya zat gizi minimal yang diperlukan oleh masing-masing individu sehingga ada yang rendah dan tinggi yang dipengaruhi oleh faktor genetik. Kegunaan AKG yang dianjurkan adalah 1) untuk menilai kecukupan gizi yang telah dicapai melalui konsumsi makanan bagi penduduk. 2) untuk perencanaan dalam pemberian makanan tambahan maupun perencanaan makanan institusi. 3) untuk perencanaan penyediaan pangan tingkat regional maupun nasional. 4) Acuan pendidikan gizi; dan 5) Acuan label pangan yang mencantumkan informasi nilai gizi.

Rata-rata kecukupan energi dan protein bagi penduduk Indonesia tahun 2013 masing-masing sebesar 2150 Kilo kalori dan 57 gram protein perorang perhari pada tingkat konsumsi.  Sedemikian besarnya kegunaan AKG sehingga telah ditetapkan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia. Permenkes tersebut  ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 November 2014 dan dapat diunggah melalui internet. Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini, maka Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1593/MENKES/SK/XI/2005 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

ACARA PUNCAK PEKAN ASI SEDUNIA TAHUN 2014.

Mon, 09/08/2014 - 15:00

ASI adalah makanan bayi ciptaan Tuhan yang tak tergantikan dengan makanan dan minuman yang lain. Hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI  dan hak ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya. . Oleh karena itu WHO/UNICEF telah  merekomendasikan standar emas  pemberian makan pada bayi  yaitu  menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan didahului dengan Inisiasi Menyusu Dini segera setelah lahir, mulai umur 6 bulan berikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dan teruskan menyusu hingga anak berumur 2 tahun.

Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0–6 bulan di Indonesia menunjukkan sedikit penurunan dari 61,5 % tahun 2010 menjadi 61,1% pada tahun 2011. Namun cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai 6 bulan meningkat dari 33,6 % pada tahun 2010 menjadi 38,5 % pada tahun 2011. Cakupan pemberian ASI eksklusif sangat dipengaruhi beberapa hal, terutama masih terbatasnya tenaga konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan,  belum tersosialisasi secara merata Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, belum maksimalnya kegiatan edukasi, advokasi dan kampanye terkait pemberian ASI maupun MP-ASI,

Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week) diperingati setiap bulan Agustus, kegiatan ini  merupakan salah satu moment penting dalam meningkatkan kepedulian dan kesadaran  pemerintah maupun masyarakat terhadap pentingnya pemberian ASI kepada bayi hingga 2 tahun dan memberikan dukungan kepada ibu dalam mencapai keberhasilan menyusui bayinya.  Pekan ASI Sedunia tahun 2014 mengangkat tema global “ Breastfeeding: A Winning Goal for life”. dalam tema nasional Menyusui: Kemenangan untuk kehidupan serta Slogannya “Menyusui: Lindungi, dukung dan promosikan. Tujuan PAS 2014 adalah 1) menyediakan informasi tentang Millennium Development Goals (MDGs) 2015, bagaimana cara menghubungkan antara menyusui dan Pemberian Makanan Bayi Anak, 2) memperlihatkan kemajuan yang sudah ada dan sejauhmana kendala dalam menyusui dan Pemberian Makanan Bayi dan Anak, 3) memperhatikan pentingnya 10 langkah menuju keberhasilan menyusui sebagai kunci pokok untuk mencapai MDGs 2015, 4) menstimulasi perhatian generasi muda wanita dan pria untuk melihat relevansi pemberian Air Susu Ibu (ASI) terhadap perubahan dunia.  Beberapa hal perlu dilakukan semua pihak dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI Eksklusif. Salah satunya adalah  Penerapan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) bagi Fasilitas Kesehatan Sayang Bayi, LMKM merupakan bagian yang sangat penting dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI.

Salah satu  kegiatan PAS  tahun 2014 antara lain adalah Lomba Baduta Sehat Ibu Cerdas, dimana yang menjadi fokus penilaian adalah anak, ibu bagaimana pengasuhan dan cara pemberian makanan terhadap anak yang akan berdampak terhadap pertumbuhan serta perkembangan anaknya. Lomba diharapkan dilaksanakan oleh 34 propinsi  tergantung dengan situasi dan kondisi keuangan masing-masing daerah. Pemenang terbaik lomba tersebut akan dibawa serta pada acara Puncak PAS tahun 2014 atas biaya swadaya masing-masing daerah. Pemenang lomba akan mendapat penghargaan dari Ibu Menteri Kesehatan.

Sebagai akhir dari rangkaian kegiatan  PAS 2014 akan diselenggarakan Acara Puncak Pekan ASI tahun 2014 pada tanggal 15 September 2014 di Balai Kartini, Jl. Gatot Subroto 37, Jakarta Selatan .  Peserta  yang akan hadir pada acara puncak PAS lebih kurang  250 orang yaitu para Eselon 1, 2 Kementerian Kesehatan, para Eselon 1,2, Kemenko Kesra, Bappenas, Kemendagri, Kemeneg Pemberdayaan Perempuan dan Kementerian Tenaga Kerja. Lintas Program dan Lintas sektor terkait, Organisasi Profesi terkait program pemberian ASI, Tim Penggerak PKK Pusat , Penggiat ASI: IKMI, AIMI, SELASI, dll, LSM/ NGO, WHO, UNICEF.  Peserta Daerah dari 34 propinsi yakni Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Ketua TP-PKK Provinsi.

Bagaimana Penerapan Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Balita pada TPG Terlatih?

Tue, 09/02/2014 - 14:10

Jakarta, 25/8-GIZINET. Pada tahun 2010, Indonesia mengadopsi Standar Baru WHO 2005 sebagai pengganti rujukan WHO/NCHS melalui Kepmenkes RI No.1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang penerapan Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Sebagai konsekuensinya maka seluruh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) harus mendapatkan Pelatihan Penilaian Pertumbuhan Balita agar mampu melakukan penilaian pertumbuhan balita menggunakan minimal 3 indikator yaitu TB/U, BB/U, dan BB/TB. Hingga  saat ini pelatihan tersebut masih terus dilaksanakan dengan harapan setelah dilatih mereka segera mengaplikasikannya di wilayah masing-masing.

Pelatihan Penilaian Pertumbuhan Balita dititikberatkan pada kemampuan TPG untuk melakukan penilaian terhadap status gizi balita dan bagaimana memantau pola pertumbuhan balita serta tindak lanjut yang dilakukan bila terjadi masalah atau gangguan pertumbuhan dengan standard dan prosedur yang tepat yaitu (a) menghitung umur balita; (b) melihat bila terdapat tanda klinis marasmus, kwashiorkor, atau gabungan keduanya; (c) melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran panjang/tinggi badan dengan benar; (d) melakukan interpretasi terhadap status gizi balita minimal menggunakan 3 indikator serta melihat trend perkembangannya; (d) melakukan konseling pemberian makan sesuai masalah atau gangguan pertumbuhan yang dialami balita.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan melalui evaluasi pasca pelatihan penilaian pertumbuhan balita akhir tahun 2013 pada beberapa wilayah di Provinsi Jawa Barat, Lampung, NTB, dan Sulawesi Tengah, diketahui bahwa penerapan penilaian pertumbuhan balita secara umum masih banyak yang belum sesuai standar dan prosedur sebagaimana yang diajarkan pada pelatihan. Namun hal ini bukan semata-mata karena TPG, tetapi juga dikarenakan minimnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana di tempat kerja.

Menindaklanjuti hal tersebut, di tahun 2014 upaya peningkatan kapasitas TPG dalam penilaian pertumbuhan balita disertai dengan upaya melengkapi sarana dan prasarananya semakin ditingkatkan, tidak hanya mengandalkan dana pusat tetapi juga dana pemerintah daerah masing-masing. Untuk melihat kembali bagaimana penerapannya di tahun 2014 maka dilaksanakan kembali evaluasi pasca pelatihan penilaian pertumbuhan balita dengan target 8 provinsi, dan model kuesioner evaluasi yang lebih dikembangkan meliputi tidak hanya keterampilan TPG saja tetapi juga pengetahuannya tentang penilaan pertumbuhan balita, kelengkapan sarana dan prasarana di tempat kerja, serta bagaimana dukungan dari Kabupaten/Kota hingga Provinsi terkait. Evaluasi baru dilaksanakan di 3 Provinsi (Gorontalo, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Utara) pada akhir bulan Juli 2014. Rencananya di bulan September 2014 akan dilanjutkan kembali di 5 Provinsi. Hasil keseluruhan dari evaluasi ini nantinya akan dirilis kembali pada berita berikutnya. (yuniz)

Rotasi Pejabat Eselon IV di Lingkungan Direktorat Bina Gizi

Wed, 08/27/2014 - 15:47

Pada Tanggal 26 Agustus 2014 pukul 14.00 WIB telah dilakukan upacara pelantikan pejabat eselon IV di Lingkungan Ditjen Bina Gizi dan KIA. Pelantikan dipimpin oleh Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA, Dr. Anung Sugihantono, MKes.

Sebanyak 8 orang dari Direktorat Bina Gizi diminta sumpahnya untuk menjabat sebagai pejabat eselon IV, yaitu: Iwan Hawani, SKM, MSi sebagai Kasi Standardisasi Bina Konsumsi Makanan, sebelumnya menjabat sebagai Kasi  Standardisasi Bina Kewaspadaan Gizi, menggantikan Ir. Mursalim, MPH yang sekarang menjabat sebagai Kasi Standardisasi Bina Gizi Klinik. Posisi Pak Iwan sebelumnya digantikan oleh Ir Andry Harmany, MKes yang sebelumnya sebagai Kasi Standardisasi Bina Gizi Klinik. Eko Prihastono SKM, MA sebagai Kepala Seksi Standardisasi Bina Kewaspadaan Gizi, sebelumnya menjabat sebagai Kasi Bimbingan dan Evaluasi Bina Kewaspadaan Gizi. Ir.Titin Hartini, MSc yang sebelumnya menjadi Kasi  Standardisasi Bina Konsumsi Makanan dilantik sebagai Kasi  Bimbingan dan Evaluasi Bina Konsumsi Makanan.

Posisi Kasi Standardisasi Bina Gizi Makro yang semula kosong kini diisi oleh Suroto, SKM,MKM yang sebelumnya menjabat sebagai Kasi Standardisasi Bina Gizi Mikro. Sementara itu Muhammad Adil, SKM,MPH mendapat promosi jabatan menggantikan posisi Pak Suroto. Satu orang lagi yang dilantik menjadi pejabat eselon IV adalah Priatmo Triwibowo, SKM. Namun beliau tidak menajabat di Direktorat Bina Gizi, akan tetapi menjadi Kasubag TU di Direktorat Kesehatan Tradisional.

Dengan adanya rotasi dan pengangkatan pejabat baru eselon IV dilingkungan Direktorat Bina Gizi diharapkan dapat memberikan semangat baru dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan meningkatkan kinerja Direktorat Bina Gizi.

Kepada  seluruh pejabat eselon IV yang dilantik, diucapkan selamat bertugas dan kepada Pak Priatmo Triwibowo, selamat bekerja di tempat yang baru. Semoga silaturahim tetap dapat terjalin dengan baik (SM).

PERTEMUAN PENINGKATAN KAPASITAS TENAGA PELAKSANA PEMANTAUAN STATUS GIZI (PSG) PROVINSI KALIMANTAN TENGAH.

Mon, 08/25/2014 - 17:48

Bertempat di Swiss-belhotel danum – Kota Palangkaraya, Propinsi. Kalimantan Tengah, dilaksanakan pertemuan Peningkatan Kapasitas Tenaga pelaksana pemantauan Status Gizi pada tanggal 11 – 13 Juni 2014. Pertemuan dimaksudkan untuk persiapan pelaksanaan Pemantauan Status Gizi yang akan dilaksanakan di 4 Kabupaten di Propinsi Kalimantan Tengah yang terpilih sebagai sampel untuk pelaksanaan Pemantauan Status Gizi Tahun 2014 adalah Kab. Gunung Mas, Kab. Kotawaringin Timur, Kab. Seruyan dan Kab. Barito Utara.

Peserta pertemuan terdiri dari  perwakilan 14 Kabupaten/Kota, di Provinsi Kalimantan Tengah, Poltekkes Palangkaraya, 8 orang mahasiswa Poltekkes Palangkaraya yang nantinya akan bertugas sebagai enumerator dan dari Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Tengah.

Pertemuan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah yaitu dr.Suprastija Budi, selanjutnya disampaikan materi oleh Nara sumber dari Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Bina Gizi Ibu Elisa, SKM dan dari Poltekkes Kemenkes Jakarta II Bapak Nils Aria Zulfianto, MPS. Materi yang disampaikan meliputi: Kebijakan Program Pembinaan Gizi tahun 2014, Konsep Surveilans Gizi, Pemantauan Status Gizi ,Cara Pengambilan sampel, Teknik Wawancara, Manajemen data, latihan pengambilan sampel dan penentuan kluster di masing masing Kabupaten (Kab. Gunung Mas, Kab. Kotawaringin Timur, Kab. Seruyan dan Kab. Barito Utara). Disamping itu juga dilakukan Praktek pengumpulan data di Posyandu Dahlia, yang beralamat di Jl. Kalimantan Kota Palangkaraya

Praktek dilakukan dalam rangka meng uji coba alat, cara pengukuran antropometri dan teknik wawancara, Praktek ini juga dilakukan untuk mengukur lama waktu pengumpulan data baik wawancara maupun pengukuran antropometri , disamping itu juga untuk melihat masalah dan tingkat kesulitan yang dihadapi dalam pengumpulan data serta rekomendasi pemecahan masalahnya.

 

 

 

Sekilas dari Pertemuan Perencanaan Program Bina Gizi dan KIA

Mon, 08/25/2014 - 17:33

Pada tanggal 20-23 Agustus 2014 Ditjen Bina Gizi dan KIA menyelenggarakan pertemuan  perencanaan program Bina Gizi dan KIA – Penyusunan Pagu Anggaran  TA 2015 di hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur Bali. Pertemuan dihadiri oleh peserta dari 34 Provinsi yang menangani program Gizi dan KIA. Pada kesempatan tersebut, Direktur Bina Gizi menyampaikan menu dekonsentrasi TA 2015 bidang gizi. Perencanaan program Bina Gizi dan KIA melalui dana dekonsentrasi kali ini lebih menitik beratkan pada keterkaitan dan kesinambungan kegiatan di pusat dan daerah. Yang berbeda pada menu kali ini adalah, pengadaan MP ASI dan PMT bumil KEK boleh diadakan dengan menggunakan dana dekon.

Semua kegiatan bersumber dana dekon harus mengacu pada Indikator Kinerja Program (IKP) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) berdasarkan Peraturan Presiden No 43 Tahun 2014. Berikut ini adalah, sasaran, indikator  dan target dalam RKP TA 2015 terkait kegiatan pembinaan gizi masyarakat.

Secara umum, kegiatan di pusat dan daerah dibagi menjadi 5 kegiatan pokok, yaitu:

  1. Pertemuan (sosialisasi)–>Knowledge: digabung jadi satu kegiatan.
  2. Pertemuan (NSPK)
  3. Peningkatan kapasitas SDM
  4. Perjadin/ Bimtek/ Monev
  5. Pengadaan Barang/ Jasa

Semua kegiatan yang dilakukan di daerah harus ada keterkaitanya dengan kegiatan di pusat. Hal ini sesuai dengan arahan Dirjen Bina GIKIA, Dr. Anung Sugihantono, MKes. Misalnya, jika pusat melaksanakan pelatihan teknis (TOT), maka  Provinsi harus melaksanakan pelatihan bagi petugas Kab/Kota dan selanjutnya Kab/Kota melatih di tingkat Puskesmas. Demikian pula dengan penyusunan NSPK, pusat hanya  mencetak pedoman sebagai master, selanjutnya Provinsi yang harus mengadakan cetakan sampai dengan end user (puskesmas).

Selain menu wajib, daerah juga diperkenankan melakukan kegiatan insiatif yang memang benar-benar dibutuhkan berdasarkan analisas situasi dan permasalahan di daerah masing-masing. Kegiatan yang diusulkan tersebut antara lain adalah:

  1. Kegiatan Intensifikasi Konsumsi TTD Mandiri dan Makanan Sumber Fe Bagi Suami Siaga di Kab. Gunung Kidul
  2. Sosialisasi dan Pembentukan Outlet TTD Mandiri di 15 Kab/Kota (Provinsi Jawa Tengah)
  3. Tatalaksana Kretin (Prov. Kalsel dan Kaltim)

Output dari kegiatan ini menghasilkan usulan pagu dekonsentrasi TA 2015 setiap provinsi yang disusun berdasarkan rambu-rambu perencanaan yang ditetapkan. Sebagai tindaklanjut dari kegiatan ini, Direktorat Bina Gizi akan melaksanakan kegiatan pertemuan pemantapan rencana aksi pembinaan gizi masyarakat untuk menyempurnakan usulan perencanaan dekonsentrasi dari seluruh Provinsi pada bulan Oktober 2014 (SM).

Lomba Bayi ASI, Ibu Cerdas…dalam rangkaian kegiatan Pekan ASI Sedunia 2014….

Mon, 08/25/2014 - 17:25

Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0–6 bulan di Indonesia terjadi penurunan dari 63,4% pada tahun 2012 menjadi 54,3% di tahun 2013 (Susenas 2012, 2013).  Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih terbatasnya tenaga konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan, belum tersosialisasi secara merata Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif.  masih gencarnya promosi susu formula yang dilakukan secara terselubung serta belum maksimalnya kegiatan edukasi, advokasi dan kampanye terkait pemberian ASI maupun MP-ASI,  kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE ASI dan MP-ASI serta belum optimalnya pembinaan kelompok pendukung ASI dan MP-ASI.

Dalam rangka Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week) diperingati setiap tahun. Tahun 2014 mengangkat tema global “ Breastfeeding: A Winning Goal for life”. Thema dalam bahasa Indonesia Menyusui: Kemenangan untuk kehidupan serta Slogannya “Menyusui: Lindungi, dukung dan promosikan.

Tujuan PAS 2014 adalah 1) menyediakan informasi tentang Millennium Development Goals (MDGs) 2015, bagaimana cara menghubungkan antara menyusui dan Pemberian Makanan Bayi Anak, 2) memperlihatkan kemajuan yang sudah ada dan sejauhmana kendala dalam menyusui dan Pemberian Makanan Bayi dan Anak, 3) memperhatikan pentingnya 10 langkah menuju keberhasilan menyusui sebagai kunci pokok untuk mencapai MDGs 2015, 4) menstimulasi perhatian generasi muda wanita dan pria untuk melihat relevansi pemberian Air Susu Ibu (ASI) terhadap perubahan dunia.

Memperhatikan hal tersebut dan dalam rangka meningkatkan cakupan pemberian ASI Eksklusif  dikaitkan dengan Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA), serta  rangkaian kegiatan Pekan ASI Sedunia Tahun 2014 Kementerian Kesehatan RI menghimbau agar Dinas Kesehatan Propinsi menyelenggarakan Lomba Anak ASI Sehat Orang tua Cerdas yang akan diikuti oleh 34 propinsi, dan dilaksanakan di masing-masing propinsi, dengan kriteria Peserta lomba adalah  anak berusia  9 –  24 bulan dengan  kriteria:

1.  Bayi diberi hanya ASI saja sejak lahir sampai berusia 6 bulan (ASI Eksklusif)

2. Sejak usia 6 bulan  sudah diberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).

3.Tidak pernah mengonsumsi susu formul

4.Saat ini masih diberikan ASI.

5.Mempunyai Buku KIA/ KMS

6.Anak mendapatkan Imunisasi lengkap sesuai umurnya

7.Umur Ibu 21-35 tahun.

8. Jumlah anak maksimal 2 orang

9. Orang tua ikut program KB

10. Ibu Sehat.

Ketentuan Penilaian

  •  Pelaksanaan seleksi lomba untuk menentukan  1 (satu) orang pemenang terbaik tingkat propinsi yang dilakukan di masing-masing Dinas Kesehatan Propinsi  di seluruh Indonesia sesuai petunjuk penilaian.
  • Tim penilai disarankan terdiri dari berbagai komponen terkait yang pro ASI :  dokter Spesialis Anak, Psikolog, Dokter Gigi,  Fasilitator/ Konselor Menyusui, Penggiat ASI seperti Ikatan Ibu Menyusui Indonesia (IKMI), Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia ( AIMI ), Perinasia, Sentra Laktasi (Selasi)  dan LSM/NGO yang ada di wilayah  masing-masing propinsi.
  • Setiap propinsi hanya menentukan 1 (satu) orang pemenang yang akan dihadirkan ke Jakarta pada acara puncak PAS 2014 tanggal 15 September 2014 atas biaya swadaya masing-masing propinsi
  • Dinas Kesehatan Propinsi mengirimkan identitas pemenang tingkat propinsi (nama anak dan orang tuanya) beserta foto terbaik sedang menyusui atau memberikan makan kepada anaknya.
  • Identities pemenang dikirim kepada Direktorat Bina Gizi, Lantai 7 Blok A, Ruang 701, Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jl. H.R. Rasuna Said, Blok X5, Kavling 4-9, Jakarta Selatan atau  melalui email subditbkm@yahoo.com
  • Identitas tersebut sudah diterima di Direktorat Bina Gizi paling lambat pada minggu ke 1 (satu) bulan September 2014

Ayoo…kita meriahkan Pekan ASI Sedunia dengan peduli dan mendukung program menyusui dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar kita.. ASI ……YES ….

 

 

 

 

Pelatihan PMBA bekerjasama dengan MCC

Mon, 08/25/2014 - 16:57

Standar Emas Makanan Bayi dan Anak yaitu :

• ASI Eksklusif  0-6 bulan, didahului inisiasi menyusui dini segera setelah lahir.

• Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) mulai usia 6 bulan, tepat jumlah, kualitas dan tepat waktu pemberian serta aman. Meneruskan menyusui sampai usia anak 2 tahun

Pemberian makan yang terlalu dini dan tidak tepat mengakibatkan banyak anak yang menderita kurang gizi. Untuk itu perlu dilakukan pemantauan pertumbuhan sejak lahir secara rutin dan berkesinambungan. Fenomena “gagal tumbuh” atau growth faltering pada anak Indonesia mulai terjadi pada usia 4-6 bulan ketika bayi diberi makanan selain ASI dan terus memburuk hingga usia 18-24 bulan. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan 19,6% balita di Indonesia yang menderita gizi kurang (BB/U <-2 Z-Score) dan 37,2% termasuk kategori pendek (TB/U <- 2 Z-Score).

Lancet “Maternal and Child Nutrition”  Series tahun 2004 memuat satu konsep model  bahwa kekurangan gizi kronis atau pendek lebih dipengaruhi oleh faktor gangguan pertumbuhan pada masa janin, kekurangan asupan zat gizi mikro dan kekurangan asupan energy dan protein yang dapat menyebabkan kekurangan gizi, kecacatan atau disability serta kematian.

Stunting, merupakan gangguan pertumbuhan fisik, kognitif, kecerdasan, produktivitas . Prevalensi “stunting” di Indonesia masih tinggi, 36,2 % (2007),  35.6% (2010), dan 37.2% (2013). Pemerintah Indonesia bertujuan menurunkan prevalensi stunting menjadi 32 % pada tahun 2014 (mungkin tidak tercapai), dan  40 % lebih rendah dari data terakhir pada tahun 2025.

Setiap keluarga yang mempunyai bayi dan anak usia 6-24 bulan hendaknya mempunyai pengetahuan tentang Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), agar mampu memberikan ASI ekslusif dan menyiapkan MP-ASI yang sesuai di masing-masing keluarga. Pendampingan oleh orang yang terdekat dalam hal ini termasuk kader posyandu sangat dibutuhkan Untuk itu kader posyandu perlu dilatih agar mempunyai pengetahuan tentang  ASI ekslusif dan MP-ASI serta ketrampilan pemantauan pertumbuhan dan ketrampilan memberikan konseling.

Peranan tenaga kader posyandu terampil sangat besar terhadap keberhasilan Pemberian makan bayi dan Anak (PMBA), peningkatan pemberdayaan ibu, peningkatan dukungan anggota keluarga serta peningkatan kualitas makanan bayi dan anak  yang pada gilirannya akan meningkatkan status gizi balita. Oleh karena itu keberadaan kader posyandu perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

Untuk melatih kader yang tersebar diseluruh desa di Indonesia agar menjadi seorang konselor PMBA yang baik, maka perlu dilakukan pelatihan berjenjang. Dimulai dari melatih pelatih Konseling PMBA kader tingkat Propinsi/Kabupaten dilanjutkan dengan melatih pelatih  PMBA kader tingkat Puskesmas yang diharapkan dapat melatih bidan desa dan kader posyandu didaerahnya.

Pelatihan pelatih Konseling PMBA kader diperoleh melalui suatu proses pelatihan menggunakan standar kurikulum dengan modul pelatihan Konseling pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) yang dikeluarkan oleh Direktorat Bina Gizi Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA tahun 2014 selama 6 hari (48 jam) dengan materi pelatihan yang telah diakui secara internasional.

Memperhatikan hal tersebut untuk membantu menanggulangi stunting di Indonesia Bappenas, Kemenkokesra, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri bekerjasama  dengan Proyek Millenium Challenge Corporate, yaitu Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKBM)

Tujuan Proyek:

  1. , Mengurangi  anak lahir dengan berat badan kurang (low birth weight) dan anak pendek (stunting); dan
  2. Meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui pengurangan pengeluaran (cost savings), peningkatan produktifitas (productivity growth), dan higher lifetime earning.

Tujuan Khusus:

• Meningkatnya pemberdayaan masyarakat untuk meidentifikasi masalah, merumuskan kegiatan, melakukan kegiatan termasuk monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan

• Meningkatkan kemampuan petugas, cakupan dan kualitas layanan kesehatan dan  gizi

• Mengembangkan sistem insentif penyelenggara pelayanan

Kriteria Pemilihan lokasi:

  • · Pemilihan Propinsi dengan angka stunting diatas rata-rata nasional.
  • · Kabupaten, dipilih apabila lebih dari  40 %  kecamatan fasilitas kesehatan dan pendidikan rendah
  • · Kecamatan dipilih adalah semua kecamatan dengan fasilitas  kesehatan dan pendidikan rendah
  • · Desa adalah semua desa di kecamatan terpilih, diharapkan mencapai 6000 desa

Memperhatikan hal tersebut pelatihan PMBA akan dilakukan di 11 propinsi,  64 kabupaten dan 499 kecamatan serta 6000 desa di Indonesia.

 

 

 

 

Penyusunan Buku Info Pangan dan Gizi dan Lembar Berita

Mon, 08/25/2014 - 13:17

Informasi pangan dan Gizi sangat diperlukan guna perumusan kebijakan perencanaan dan pengelolaan program dalam rangka antisipasi meningkatnya masalah gizi kurang dan gizi buruk. Informasi dalam program gizi perlu dikumpulkan sebagai bahan kajian penanggulangan masalah gizi di indonesia. Upaya perbaikan gizi merupakan salah satu langkah strategis dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penanganan masalah gizi memerlukan pendekatan terpadu yang mengarah pada pemberdayaan ekonomi keluarga, peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan serta perluasan jaringan info pangan dan gizi.

Dalam rangka penyediaan informasi tersebut, setiap tahun telah diterbitkan Lembar Berita (2 volume) dan Info Pangan dan Gizi (2 volume).  Sehubungan dengan hal tersebut, telah dilaksanakan pertemuan pada tanggal 14-16 Agustus dan 21-23 Agustus 2014  di Bogor, Jawa Barat untuk menyusun  lembar berita dan buku info pangan dan gizi edisi ke 2 tahun 2014. Pertemuan dihadiri oleh 25 orang peserta yang berasal dari perwakilan lintas program terkait di lingkup Kementerian Kesehatan (Pusat Komunikasi Publik, Badan Litbagkes, Direktorat Bina Gizi) dan Linsek sektor terkait (Badan POM, Badan Ketahanan Pangan Kementan), serta Perguruan Tinggi (Poltekes Jurusan Gizi Jakarta II, Fema IPB, FKM-UI, SEAMEO Recfon UI). Kegiatan penyusunan Lembar Berita edisi ke 2 ini mengangkat  berbagai topik yang sedang hangat dibicarakan yaitu:  “Perbandingan ASI dan Susu Formula, Gizi dan perkembangan otak”,  “Waspada ebola dan pencegahannya, “Sayangi jantung anda, “Pemanis buatan”  dan “Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan bagi bangsa Indonesia”. Sedangkan untuk buku info pangan dan gizi adalah mengumpulkan abstrak dari berbagai penelitian  di bidang pangan dan gizi dari  universitas/ perguruan tinggi (IPB, FKM-UI, Poltekes Gizi, SEAMEO-UI).

 

Tes Latihann

Sun, 08/24/2014 - 15:54

Coba -coba 

ORANG TUA KUNCI UTAMA TUMBUH KEMBANG ANAK

Thu, 08/14/2014 - 10:29
Masalah kurang gizi di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan Riskesdas tahun 2013 prevalensi kurang gizi di Indonesia menunjukan peningkatan dari 17,9% tahun 2010 menjadi 19,6% pada tahun 2013. Prevalensi kurang gizi muncul pada saat bayi memasuki usia 6 bulan sampai dengan usia 2 (dua) tahun, kondisi ini sangat dipengaruhi oleh tumbuh kembangnya yang tidak optimal. Oleh karena itu, anak harus memperoleh hak dasar seperti pemenuhan kebutuhan makanan, sandang, dan perumahan serta perlindungan dan penghargaan terhadap hak asasinya.

Demikian disampaikan Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, dr. Anung Sugihantono saat membuka seminar Peran Keluarga dalam Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak, di Jakarta (12/8).

Ditegaskan dr. Anung bahwa dalam UU Nomor 36 tahun Tentang Kesehatan pasal 128  dinyatakan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu Eksklusif, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.

Kewajiban kita untuk menyiapkan anak sejak dini menjadi anak yang sehat, cerdas dan memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Persiapan harus dilakukan secara terencana, tepat, intensif dan berkesinambungan baik oleh keluarga, masyarakat, pemerintah maupun swasta. Salah satu upaya yang paling mendasar untuk menjamin pencapaian kualitas tumbuh kembang anak secara optimal sekaligus memenuhi hak anak adalah memberikan makanan terbaik bagi anak sejak lahir hingga usia dua tahun, kata dr. Anung.

Menurt dr. Anung, tahun pertama tumbuh kembang anak merupakan salah satu periode yang paling dinamis dan menarik, terjadi banyak perubahan besar dalam periode ini. Namun, setiap bayi memiliki kecepatan sendiri-sendiri dalam tumbuh kembangnya, oleh karena itu penting bagi para orangtua untuk mengenali pertumbuhan dan perkembangan anaknya.

Pertumbuhan anak yang baik ditandai dengan adanya perubahan ukuran dan bentuk tubuh atau anggota tubuh, seperti bertambahnya berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Sedangkan proses perkembangan biasanya ditandai dengan adanya perkembangan mental, emosional, psikososial, psikoseksual, nilai moral dan spiritual. Baik pertumbuhan maupun perkembangan keduanya perlu mendapatkan perhatian yang cukup, baik dari keluarga, masyarakat maupun pemerintah.

Upaya-upaya yang mendukung untuk tumbuh kembang optimal bagi anak sudah dan akan terus dilakukan bahkan dikembangkan ke arah yang lebih baik, salah satunya melalui kegiatan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan yang dilakukan di Posyandu, sebagai implementasi dari Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.
Gerakan Nasinal Percepatan Perbaikan Gizi adalah upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui penggalangan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi untuk percepatan perbaikan gizi masyarakat prioritas pada seribu hari pertama kehidupan, yaitu fase kehidupan yang dimulai sejak terbentuknya janin dalam kandungan sampai anak berusia 2(dua) tahun.

Orang tua memiliki peran strategis dalam mendidik dan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Beberapa informasi yang kiranya penting diketahui dan dilakukan  orang tua dalam mendukung tumbuh kembang optimal bagi anaknya adalah; 1) Memenuhi kebutuhan anak akan makanan yang memenuhi standar emas Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) yaitu; Melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), Memberikan ASI Eksklusif; Memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) mulai usia 6 bulan dan Melanjutkan menyusui sampai dua tahun atau lebih; 2) Menjaga kesehatan anak; 3) Berinteraksi dengan anak dengan penuh kasih sayang lewat berbagai kegiatan yang sesuai anak, orang tua dapat memberikan belaian, senyuman, dekapan, penghargaan dan bermain, mendongeng, menyanyi serta memberikan contoh-contoh tingkah laku sehari-hari yang baik dan benar kepada anak.

Dalam seminar yang digagas bersama antara Kemenkes bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bertujuan untuk meningkatkan peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, serta meningkatkan peran aktif Organisasi KOWANI dan PKK sebagai motivator dan fasilitator dalam tumbuh kembang anak. Peserta seminar sebanyak 300 orang yang terdiri dari 200 orang Organisasi Anggota KOWANI, 60 orang PKK Pusat dan Wilayah DKI serta 20 orang Dharma Wanita. Seminar ini diharapkan menjadi langkah awal yang akan diteruskan oleh masing-masing organisasi untuk melaksanakan kegiatan pelatihan bagi anggota organisasinya dan masyarakat.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

“Menyusui Kemenangan Untuk Kehidupan”

Tue, 08/12/2014 - 15:18

ASI

Direktorat Bina Gizi setiap tahun melaksanakan serangkaian kegiatan program kegiatan yang tujuannya adalah meningkatkan kesadaran semua pihak tentang ASI bagi bayi. Setiap minggu pertama bulan Agustus dijadikan sebagai “Pekan ASI Sedua”  (PAS). Tema yang diangkat adalah “Breasfeeding-A Winning Goal for life” dengan tema nasional Menyusui Kemenangan Untuk Kehidupan.

Deklarasi Innocenti tahun 1990 di Florence Italia mengamanatkan pentingnya mengkampanyekan Air Susu Ibu (ASI) sebagai bagian penting dari upaya “perlindungan, promosi dan dukungan menyusui”. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) adalah pemenuhan hak bagi ibu dan anak. ASI sebagai makanan bayi terbaik ciptaan Tuhan tidak dapat tergantikan dengan makanan dan minuman yang lain. Menyusui juga ha k seorang ibu dan terbukti meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup ibu di masa mendatang.

Rendahnya pengetahuan dan manfaat  tentang pemberian ASI menjadi persoalan pemeritah khususnya program gizi. Cara pemberian makan pada bayi yang baik dan benar adalah : Mulai segera menyusui dalam 1 jam setelah lahir; Menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan,   dan   mulai   umur   6   bulan: Bayi   mendapat   Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang bergizi sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya dan ; Meneruskan menyusui anak sampai umur 24 bulan.

Kementerian Kesehatan telah  menerbitkan   surat   keputusan   Menteri   Kesehatan   nomor: 450/Menkes/SK/IV/2004  tentang  Pemberian  ASI  secara  eksklusif pada bayi di Indonesia. Sebagai bentuk kepedulian dan sangat pentingnya ASI bagi bayi, pada tahun 2012 telah terbit Peraturan Pemerintah (PP) nomor 33 tentang Pemberian ASI Eksklusif dan telah diikuti dengan diterbitkannya 2 (dua) Peraturan Menteri Kesehatan yaitu   :   Permenkes   Nomor   15   Tahun   2013   tentang   Tata   Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu dan Permenkes Nomor  39 Tahun 2013 tentang Susu Formula Bayi dan Produk Bayi Lainnya.

Ibu menyusui yang pada awalnya sukses menyusui dapat mengalami kesulitan dan tantangan pada saat beberapa minggu atau beberapa bulan usai persalinan, yang terlihat dari grafik cakupan ASI Eksklusif yang  mengalami  penurunan pada  waktu  tersebut.  Saat  dimana  ibu tidak mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan adalah saat dimana dukungan dari komunitas sekitarnya sangat diperlukan.

Konseling oleh  teman sebaya  merupakan upaya  yang  efektif dalam menjangkau lebih banyak ibu untuk sukses menyusui. Konselor teman sebaya umumnya seseorang yang berasal dari komunitas sekitar ibu yang telah dilatih untuk membantu ibu menyusui. Kunci keberhasilan praktik menyusui adalah melalui dukungan yang terus menerus dan berkelanjutan kepada ibu menyusui baik di rumah dan komunitas sekitarnya.

Dukungan pihak/sektor kesehatan diantaranya melalui penerapan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) atau Fasilitas Kesehatan Sayang Bayi sangat penting dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI. Cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai 6 bulan meningkat dari 33,6 % pada tahun 2010 menjadi 38,5% pada tahun 2011. Namun cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0–6 bulan di Indonesia tahun 2012 menunjukkan penurunan dari 63,4 % menjadi 54,3%  pada  tahun 2013. Masih rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih terbatasnya  tenaga  konselor  menyusui  di  fasilitas  pelayanan kesehatan,   belum   maksimalnya kegiatan   edukasi,   advokasi Kampanye terkait pemberian ASI maupun MP-ASI,   masih rendah,  ketersediaan sarana dan prasarana KIE ASI dan MP-ASI serta belum optimalnya pembinaan kelompok pendukung ibu menyusui. Untuk itu dalam rangka terus mengkampanyekan dukungan terhadap ibu menyusui, pemerintah Indonesia akan melaksanakan serangkaian kegiatan Penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia Tahun 2014.

Tahapan Makanan Pendamping ASI

Mon, 08/11/2014 - 10:29

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selama enam bulan pertama, bayi dianjurkan tidak mengonsumsi apapun selain air susu ibu. Namun setelahnya, sang buah hati sudah bisa menyantap makanan selain ASI. Secara bertahap, bayi bisa menyicip menu lain yang cair, kemudian lembut, dan berlanjut ke makanan kasar.

Menurut dokter spesialis anak, Franda Prawita, proses pengenalan makanan pendamping ASI sebaiknya dilakukan sejak usia enam bulan ke atas. Sebab pada masa itu, sistem pencernaan bayi mulai terbentuk dan kebutuhan akan nutrisi semakin bertambah. Maka tidak heran jika bayi terlihat kerap memasukkan tangan ke mulut, karena rasa lapar yang tidak cukup dipenuhi oleh ASI.

“Kalau pemberian makanan pendamping ASI terlambat, bisa berakibat bayi tumbuh tidak normal. Seperti kekurangan berat atau tinggi badan,” kata dia kepada Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia, Jumat, 18 Juli 2014.

Untuk mulai memperkenalkan makanan kepada bayi, Franda melanjutkan, bisa dengan menu yang mengandung zat besi, protein, dan karbohidrat. Seperti pisang, wortel, alpukat, sayuran hiijau, buah-buahan, atau hati ayam. Upayakan, makanan awal yang diberikan masih bertekstur lembut. Sehingga saluran pencernaan buah hati tidak kaget saat menerimanya.

“Perhatikan reaksi bayi, jika ada tanda tidak suka ataupun alergi mungkin ada masalah pada jenis makanan atau tingkat kehalusannya,” kata dia. “Kalau terjadi respon negatif, jangan ragu bawa ke dokter untuk berkonsultasi.”

Apabila bayi menginjak usia 7-8 bulan, makanan pendamping dengan tekstur yang sedikit kasar sudah bisa diberikan. Kemudian berlanjut ke makanan yang lebih kasar ketika memasuki umur 9-10 bulan. “Tahapan ini untuk melatih pencernaan, sekaligus menambah kualitas asupan nutrisi secara perlahan sesuai kebutuhan bayi,” kata dia.

Tahap selanjutnya, sekitar usia 11-12 bulan bayi sudah bisa mengonsumsi bubur tim dengan ditemani sayuran pelengkap. Dengan catatan, racikan bumbu yang digunakan tidak terlalu banyak mengandung garam, merica, cabai ataupun memiliki bau yang sangat menyengat. Sebab meski telah siap menyantap makanan kasar, bayi tetap memiliki saluran percernaan yang sensitif. Menu dengan banyak bumbu bisa berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pada tubuh bayi.

“Perhatikan juga kebersihan alat makan, karena kuman sangat mudah masuk ke tubuh sang bayi dan berisiko terhadap kesehatannya,” kata dia.

 

sumber : https://id.she.yahoo.com/begini-tahapan-makan-pendamping-asi-161846032.html

Hasil Pertemuan Surveilans Gizi di 64kab/kota dan 9 Provinsi Prioritas MDGs

Thu, 06/12/2014 - 16:06

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Surveilans gizi dibuka oleh Bapak Ir. Doddy Izwardy, MA pada hari minggu tanggal 1 Juni 2014 yang bertempat di Hotel Salak The Heritage Bogor
mengundang 94 orang peserta, 21 orang perwakilan peserta pusat, 64 orang dari 64 kabupaten dan Kota prioritas MDGs dan 9 orang Dinkes Provinsi prioritas MDGs. Tujuan pertemuan adalah memperoleh gambaran pelaksanaan surveilans gizi di 64 kabupaten/kota dan 9 propinsi prioritas MDGs, dengan tujuan khusus:

  • Mereview capaian kegiatan pembinaan gizi tahun 2013
  • Mereview upaya kegiatan pembinaan gizi tahun 2014 untuk percepatan pencapaian target MDGs 2015
  • Sinkronisasi usulan kegiatan pembinaan gizi tahun 2015 untuk percepatan pencapaian target MDGs 2015.

Berdasarkan paparan pengalaman daerah dan hasil diskusi, terdapat beberapa hambatan dalam pelayanan gizi masyarakat untuk percepatan perbaikan gizi antara lain:

  • Jumlah dan kualitas tenaga pelaksana gizi belum memadai
  • Jumlah sarana dan peralatan baik di posyandu, puskesmas dan RS belum memadai
  • Kurangnya dukungan legalitas untuk mendorong perencanaan dan anggaran serta peningkatan pelayanan kesehatan dan gizi (Perda, Pergub, Pokjanal Posyandu dll)
  • Kegiatan surveilans gizi belum berjalan optimal, belum sampai pada tahap pemanfaatan informasi untuk pengambilan kebijakan dan tindakan.

Hasil kesepakatan dan rekomendasi terhadap percepatan capaian MDGs sebagai berikut:

  • Pemenuhan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) melalui pengajuan formasi di Badan kepegawaian daerah
  • Peningkatan kapasitas dan wawasan TPG terkait Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), pemantauan pertumbuhan balita, tata laksana anak gizi buruk dan surveilans gizi
  • Pemenuhan sarana (KIE: Food model, Lembar Balik, ruang perawatan gizi buruk), obat gizi (mikronutrient, mineral mix) dan antropometri kit untuk kegiatan konseling gizi baik di puskesmas Kecamatan maupun Kelurahan
  • Sosialiasi dan advokasi pelayanan gizi masyarakat melalui JKN
  • Koordinasi Linsek dan Linprog dalam rangka pemberdayaan masyarakat di bidang gizi
  • Penguatan aspek legalitas pelayanan gizi (Perda ASI, Pokjanal Posyandu, SK Gubernur pembiayaan pelayanan anak gizi buruk)
  • Penguatan surveilans dan sistem informasi kesehatan dan gizi.

Usulan kegiatan percepatan perbaikan gizi khusus di 64 kab/kota, 9 provinsi prioritas MDGs akan dibahas lebih lanjut oleh pimpinan masing-masing terutama untuk mengidentifikasi kegiatan yang paling dibutuhkan di daerah lokus dan penganggarannya baik dari dana dekonsentrasi maupun APBD.



E-MAIL LOGIN


@litbang.depkes.go.id

  


APLIKASI








L P B



E-Journal Berlangganan




U L P



PENGUNJUNG

hit counter