You are here

Jejaring Gizi Indonesia

Subscribe to Jejaring Gizi Indonesia feed
Jejaring Gizi Indonesia
Updated: 2 hours 34 min ago

Pertemuan Pembelajaran Program Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) Berbasis Masyarakat

Wed, 09/02/2015 - 18:02

Masalah gizi balita masih menjadi ancaman bagi kelangsungan dan kualitas hidup anak Indonesia. Riskesdas 2013 menunjukkan 37,2% balita mengalami pendek (stunting), 19,6% balita gizi kurang, 12,1% balita kurus, dan 11,9% balita mengalami gizi lebih. Kondisi ini disebabkan secara langsung oleh asupan makanan dan penyakit infeksi. Kedua hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pola asuh, ketahanan pangan dan pelayanan kesehatan. Praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan permasalahan gizi pada balita.

Sebagai upaya mengatasi masalah praktik pemberian makan bayi dan anak yang masih rendah, pemerintah bekerjasama dengan lembaga mitra telah menginisiasi program pelatihan PMBA berbasis masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Program ini diperkenalkan di Indonesia pada September 2011 dan sejak tahun 2012, paket pelatihan ini telah diadopsi oleh Kementerian Kesehatan dan diimplementasikan di berbagai wilayah oleh pemerintah dan lembaga mitra. Program ini bertujuan untuk meningkatkan praktik PMBA oleh ibu/pengasuh yang dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat (kader posyandu, tokoh masyarakat,dll)

Setelah melakukan implementasi program PMBA di berbagai daerah, maka pada hari Selasa-Rabu tanggal 18-19 Agustus 2015 di Ruang Mawar Lt. 2 Balai Kartini diadakan pertemuan sebagai sarana pembelajaran dari program PMBA yang telah dilaksanakan di Indonesia. Pertemuan ini dihadiri oleh pihak pemerintah, lembaga mitra dan perwakilan dinas kesehatan daerah yang telah melaksanakan program PMBA.

Dalam pertemuan ini perwakilan dari dinas kesehatan tiap daerah yang telah melaksanakan pelatihan PMBA (Kab. Jayawijaya, Kab. Tolikara, Kab. Biak, Kab. Keerom, Kab. Sambas, Kab. Sikka, Kab. Dompu, Kab. TTS, Kab. Garut, Kab. Sidoarjo, Kab. Malang, Kab. Klaten, Kec. Cilincing, Kota Jakarta Utara) didampingi dengan perwakilan lembaga mitra (UNICEF, Wahana Visi Indonesia, Plan International, Save the Children, WFP, MCAI) menyampaikan tentang pelaksanaan program MCAI di daerah masing-masing, seperti bentuk kegiatan yang dilakukan, pendanaan, inovasi serta faktor pendukung dan tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan program. Dari hasil pembelajaran program PMBA ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk peningkatan kualitas pelaksanaan program PMBA di berbagai wilayah Indonesia.

Makanan Khas Daerah Gorontalo: Enak, Bergizi dan Aman

Tue, 09/01/2015 - 14:43

GIZINET-Jakarta, Salam Svasta Harena, salam Pramuka..

Dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70, HUT Pramuka ke 54, dan HUT Saka Bakti Husada ke 30 Tahun 2015, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Gorontalo, melaksanakan Perkemahan Karya Bakti dan Disiplin Merah Putih III, yang melibatkan Satuan Karya Pramuka Bakti Husada.

Perkemahan Karya Bakti dan Disiplin Merah Putih III, dilaksanakan sejak tanggal 27 – 30 Agustus 2015 bertempat di Bumi Perkemahan “Bongohulawa Limboto”. Kegiatan yang dilakukan oleh Saka Bakti Husada Provinsi Gorontalo melaksanakan pengobatan gratis, pemberian makanan tambahan bagi anak sekolah, sosialisasi tentang kesehatan reproduksi (oleh Krida Bina Keluarga Sehat), sosialisasi tentang lingkungan sehat (oleh Krida Bina Lingkungan Sehat), sosialisasi tentang kesehatan tradisional (oleh Krida Bina Obat), sosialisasi tentang PHBS (oleh Krida PHBS), sosialisasi tentang KLB Penyakit dan sosialisasi tentang HIV AIDS (oleh Krida Penanggulangan Penyakit). Selain itu juga dilaksanaka lomba dan sosialisasi menu khas daerah Gorontalo yang dilaksanakan oleh Krida Bina Gizi.

Penilaian lomba menu khas daerah Gorontalo melibatkan tenaga gizi yang tergabung dalam Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Provinsi Gorontalo, Yayasan Nutrition, Sport And HIV AIDS Education (NUSAHAE), dan dikoordinir langsung oleh Seksi Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo. Saat penilaian lomba tersebut, dilakukan tanya jawab terhadap perwakilan peserta yang mendampingi hasil olahannya. Hal yang menarik adalah, pada saat tim juri menanyakan perbandingan antara makanan khas daerah dan makanan modern yang dijajakan di Super market, café atau restoran, ternyata seluruh regu menjawab bahwa makanan khas daerah lebih enak, bergizi, dan aman. Alasannya sangat simple bahwa makanan khas daerah menggunakan bahan-bahan alami, memiliki ciri khas yang menarik dan lezat, dan menggunakan bahan-bahan yang tersedia serta dapat menguntungkan bagi masyarakat terutama petani, nelayan dan peternak.

Ketua Pimpinan Saka Bakti Husada Dr. Arifasno Napu, S.SiT, M.Kes menyampaikan bahwa keterlibatan penuh Saka Bakti Husada pada kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Saka Bakti Husada Provinsi Gorontalo dalam upaya “bagaimana orang sehat tetap sehat” dan “bagaimana orang sakit bisa sehat” yang harus diketahui oleh anggota pramuka dari penggalang dan penegak, sehingga mereka dapat menyebarkan informasi tersebut kepada keluarganya, teman-teman di sekolah, dan masyarakat yang ada disekitarnya.

Akhirnya, marilah kita tanamkan kecintaan terhadap makanan khas daerah serta menggiatkan sehat melalui makanan khas daerah.

Demikian, semoga bermanfaat.

Salam Svasta Harena, salam Pramuka..

Penulis: Sofyan Tambipi, Gorontalo (30/08/2015)

Korelasi Positif Pemicuan STBM dengan Penurunan Stunting

Fri, 08/28/2015 - 15:15

Data Riskesdes 2013 , prevalensi Baduta 2013 cukup tinggi 32,9% disertai laporan dari beberapa penelitian antara 17-70% risiko stunting berkurang dengan adanya perbaikan sanitasi dan/ atau higiene berbanding lurus dengan pertumbuhan fisik.

Pada pertemuan  tanggal 3-8 Agustus 2015 di Hotel Santika  Surabaya, diadakannya technical meeting fasilitator STBM Tim Pemicuan di Kecamatan dan Desa Regional I (Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan) Direktur Kesling dr. Imran Nur Ali, SpKO menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program PKGBM (program kesehatan gizi berbasis masyarakat) dalam mengurangi prevalensi stunting, yang merupakan integrasi Direktorat Kesling, Promkes, Direktorat Bina Gizi dengan dukungan dari MCAI dan pelaksanaan sampai tahun 2018.

Tim pemicuan kecamatan (sanitarian, promkes, ahli gizi di puskesmas dan staf kecamatan ) dan tim pemicuan desa (bidan desa dan

dr. Imran Nur Ali, SpKO membuka acara pertemuan PKGBM

kader desa) melakukan pendekatan STBM 5 pilar (stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum di rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga). Diharapkan kegiatan ini akan  terus menjadi program integrasi di Kemenkes untuk menurunkan prevalensi stunting yang saat ini menjadi fokus  dalam program 1000HPK begitu komentar dari peserta daerah.

 (Sumber : Puspita, Tim Gizinet)

Peningkatan Kapasitas Petugas Enumerator PSG di Provinsi Maluku Utara

Mon, 08/24/2015 - 17:24

Pemantauan Status Gizi (PSG) merupakan kegiatan surveilans gizi yang sejak 2014 dilaksanakan oleh Poltekkes/Perguruan Tinggi Gizi, yang dimaksudkan untuk memantau kecenderungan status gizi dan capaian indikator kinerja pembinaan gizi.

Pada tanggal 14-15 Agustus 2015 dilaksanakan peningkatan kapasitas petugas enumerator Pemantauan Status Gizi di Provinsi Maluku Utara. Pertemuan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya dilakukan di 3 kabupaten di Maluku Utara, yaitu di Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Utara, dan Kota Ternate, pada tahun 2015 ini PSG dilakukan di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia, termasuk di Maluku Utara, sebanyak 10 kabupaten/kota dilibatkan dalam PSG ini.

Ada sebanyak 60 orang petugas yang dilatih atau ditingkatkan kapasitasnya sebagai enumerator atau pengumpul data di lapangan. Seluruhnya berasal dari mahasiswa jurusan gizi Poltekkes Kemenkes Ternate.

Diharapkan seluruh rangkaian kegiatan PSG mulai dari pengumpulan data, entry data, cleaning data, pengolahan dan analisis data, penyusunan laporan, sampai diseminasi hasil dapat berjalan dengan lancar dan bermanfaat untuk semua pihak. Hasil dari PSG ini akan dijadikan dasar dalam menentukan rencana operasional kegiatan dan rencana kerja kegiatan pembinaan gizi, yang spesifik lokal setempat. Selain itu, informasi hasil PSG merupakan dasar bagi Pimpinan dan Pengelola kegiatan pembinaan gizi di Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk “mengawal” tercapainya indikator sesuai target yang ditentukan dengan memantau status gizi dan cakupan kegiatan pembinaan gizi secara teratur setiap tahunnya.

Harga Tomat Petani Anjlok, Bagaimana Kandungan Gizi Tomat?

Mon, 08/24/2015 - 17:11

Beberapa waktu yang lalu diberitakan di berbagai media bahwa harga tomat di petani menurun drastis hingga mencapai Rp. 200/kg, sebenarnya apa saja kandungan gizi yang terdapat pada tomat dan apa bedanya dengan buah-buahan lainnya?

Inilah Manfaat Buah Tomat Bagi Kesehatan, dari mencegah pembekuan darah dan stroke hingga sebagai obat luka bakar alami (motherearthnews.com)

 

Tomat dapat dikonsumsi dengan dijadikan jus. Tidak jarang, irisan tomat juga diletakkan di atas makanan, seperti nasi goreng atau sajian lauk lainnya. Sebagian orang tidak menyukai tomat, mungkin karena rasanya yang tidak manis. Terlepas dari itu, tak ada salahnya kita mengonsumsi tomat karena begitu banyak manfaat tomat bagi kesehatan tubuh kita. Apa sajakah itu?

  1. Tomat mengandung antioksidan. Likopen di dalam tomat efektif dalam memerangi kanker prostat, kanker serviks, dan kanker perut.
  2. Tomat dapat melindungi jantung karena kaya akan kadar kolestrol baik. Mengonsumsi tomat secara teratur dapat mengurangi tingkat trigliserida di dalam darah yang akan membantu membentuk kolestrol baik. Tidak hanya itu, tomat juga dapat mencegah pembekuan darah dan stroke.
  3. Jika mengalami gangguan pencernaan, diare, dan serangan empedu, tomat dapat mengobatinya. Tomat juga mengurangi bahaya serangan hati.
  4. Kandungan vitamin A dan mineral di dalam tomat juga baik untuk kesehatan mata serta menyembuhkan kebutaan malam.
  5. Vitamin C juga terkandung di dalam tomat yang baik untuk kesehatan tubuh.
  6. Tomat pun kaya akan kalium, yang tentunya membantu menjaga kesehatan saraf dan zat besi.
  7. Tomat baik untuk paru-paru kita karena mengandung asam coumaric serta asam klogenat, sehingga mampu melawan nitrosames yang muncul di dalam tubuh (biasanya karena asap rokok).
  8. Tomat dapat mengurangi pembentukan batu empedu, hipertensi rendah, dan mencegah infeksi saluran kemih.
  9. Tomat terbukti menjadi antiseptic yang baik, mereka dapat melindungi tubuh dari infeksi.
  10. Tomat juga dapat membuat kulit menjadi halus dan bersih jika kita oleskan ke kulit secara teratur.
  11. Dengan menambahkan 2-3 sendok teh air jeruk nipis ke dalam tomat, maka itu dapat membantu mengurangi pori-pori besar di kulit.
  12. Tomat juga dapat mengurangi jerawat.
  13. Menambahkan timun ke dalam tomat akan berfungsi mengurangi minyak di kulit.
  14. Menempelkan tomat ke wajah secara rutin juga akan membuat wajah tampak bersinar.
  15. Jika kulit kita terbakar atau gatal-gatal, tomat dapat menjadi obat yang efektif untuk menyembuhkan.

(Sumber: Intisari-online.com, magforwomen.com)

Sebagai bentuk kepedulian terhadap petani tomat yang mengalami kerugian, bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-70 pada tanggal 17 Agustus 2015 digelar bazar tomat di lapangan Kementerian Kesehatan. Harga tomat di jual dengan harga Rp. 4.000/kg dengan ukuran minimal 5 kilogram yang dapat dibeli oleh seluruh pejabat dan pegawai di lingkungan Kementerian Kesehatan.

TELADAN TENAGA GIZI DARI PROVINSI JAMBI IBU BENGET SIHOTANG, SKM TERPILIH BERDIALOG LANGSUNG DENGAN PRESIDEN RI JOKO WIDODO

Mon, 08/24/2015 - 09:48

Ibu Benget Sihotang, SKM yang berdialog dengan Presiden RI Bapak Ir. Joko Widodo

 

Setiap tahun Kementerian Kesehatan RI secara rutin sampai ke Kabupaten/Kota melaksanakan penilaian teladan bagi tenaga kesehatan berprestasi. Kelompok tenaga kesehatan yang dinilai terdiri dari Dokter, Ahli Gizi, Paramedis, Kesehatan Masyarakat.

Pada tahun 2015, mewakili dari Provinsi Jambi sebagai tenaga kesehatan dari ahli gizi adalah Saudari Benget Sihotang, SKM dari Puskesmas Jambi Timur dengan program unggulan pembentukkan Kelompok Pendukung Air Susu Ibu (ASI). Alasan yang bersangkutan membuat KPA tersebut dilatarbelakangi oleh masih banyak ibu-ibu yang pengetahuannya yang masih rendah, penggunaan susu formula masih tinggi, kepedulian lingkungan dalam memeberi ASI rendah dan masih banyak petugas yang memberikan susu formula pada saat bayi dilahirkan yang menyebabkan kegaagalan dalam pemberian ASI.

Kepedulian Sdri Benget Sihotang, SKM dikarenakan cakupan pemberian ASI Eksklusif ditempatnya bekerja masih rendah, beliau sudah memahami peraturan yang ada seperti PP / 2012 tentang ASI Ekslusif, Permenkes 39/2014, Permenkes 15/2013 dll, ditambah lagi setelah beliau diajak  Dinas Kesehatan Provinsi Jambi dalam untuk mengikuti peningkatan kapasitas konseling menyusui dll, sehingga termotivasi untuk melakukan pembentukkan kelompok pendukung ASI.

Pembentukkan KPA telah dirintis sejak tahun 2012 dimulai dari 2 KPA  dari dana CSR Pertamina, selanjutnya Dinas Kesehatan Provinsi Jambi memberikan dana stimulan untuk pembentukkan KPA lainnya, hingga saat ini telah terbentuk 6 KPA.

Pada hari puncak kemerdekaan RI ke 70, beliau diundang oleh presiden RI Bpk. Joko Widodo, melalui Kementerian Kesehatan RI untuk mengikuti acara puncak pengibaran bendera dan penurunan bendera sangsaka merah putih. Pada hari berikutnya tepatnya tanggal 20 Agustus 2015 berkesempatan ikut beraudiensi dengan pressiden RI, dari 134 nakes yang hadir Bapak presiden diberi kesempatan untuk berdialog langsung dengan beliau, Bapak presiden menanyakan program apa saja yang telah dilakukan selama ini, presiden memberi apresiasi atas jawaban yang diberikan dan dilanjutkan sambutan hangat cium pipi kanan dan pipi kiri (cipika/cipiki) dari ibu Menteri kesehatan RI yang menyatakan kamu telah memberi jawaban terbaik untuk Bapak Presiden.

 

 

            Kami selaku pengelola program gizi Provinsi Jambi mengucapkan terima kasih kepada ibu Benget Sihotang, SKM, memberi nama haru bagi profesi gizi dan program gizi secara keseluruhan mulai Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota, selamat bekerja kembali ibu benget…., mudah-mudahan tahun depan profesi gizi mewakili kembali untuk berdialog.

Peningkatan Kapasitas Fasilitator (ToT) Surveilans Gizi

Wed, 08/19/2015 - 15:09
Dr. Abas Basuni Jahari, M.Sc sedang memberikan materi terkait surveilans gizi

Pembangunan sumber daya manusia yang sehat, cerdas dan produktif adalah komitmen global dan merupakan aset yang sangat berharga bagi bangsa dan negara Indonesia, yang antara lain diwujudkan melalui perbaikan status gizi dan kesehatan yang optimal. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, khususnya pada Pasal 141 mengamanatkan bahwa upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, yang dilaksanakan melalui: 1) perbaikan pola konsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang; 2) perbaikan perilaku sadar gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan; 3) peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi; dan 4) peningkatan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG).

Penyelenggaraan surveilans gizi didasarkan pada beberapa peraturan dan kebijakan berikut: 1) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang menjabarkan pembagian urusan Pemerintah, Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota bahwa salah satu kewajiban Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten dan Kota adalah melaksanakan surveilans; 2) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, yang menyatakan bahwa Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya; 3) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan. Peraturan tersebut menyebutkan dalam rangka meningkatkan kemampuan pengelolaan data dan informasi kesehatan diperlukan sistem surveilans kesehatan secara nasional agar tersedia data dan informasi secara teratur, berkesinambungan, serta valid sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan dalam upaya kesehatan, baik lokal maupun nasional, serta memberikan kontribusi terhadap komitmen global.

Saat ini Indonesia masih menghadapi beban gizi ganda (double burden) yaitu masalah kekurangan gizi (undernutrition) dan masalah kelebihan gizi (overnutrition). Keberhasilan upaya penanggulangan masalah gizi dipengaruhi oleh interaksi dinamis berbagai pihak terkait dengan mengembangkan surveilans gizi.

Surveilans gizi sangat berguna untuk mendapatkan informasi keadaan gizi masyarakat secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan, yang dapat digunakan untuk menetapkan kebijakan gizi. Kegiatan Pelatihan Bagi Pelatih (TOT) Surveilans Gizi di Lingkungan Kementerian Kesehatan RI ini dilaksanakan dalam rangka menyamakan persepsi dan meningkatkan pemahaman materi serta cara memfasilitasi dalam pelatihan bagi pelatih (TOT) Surveilans Gizi.

24 Fasilitator Tata Laksana Gizi Buruk sebagai Tenaga Profesional

Thu, 08/13/2015 - 14:54

Jakarta-Gizinet, Anak adalah generasi penerus bangsa, kualitas dari anak tergantung dari mulusnya suatu proses pertumbuhan dan perkembangan yang memerlukan asupan zat gizi yang optimal. Anak gizi buruk merupakan keadaan anak yang sangat kurus karena kurangnya asupan konsumsi makanan yang umumnya disertai  penyakit infeksi. Menurut data Riskesdas prevalensi balita sangat kurus  (indikator BB/TB) tahun 2007 6,2%, tahun 2010 6 % dan  2013 5,3 %, meskipun terjadi penurunan tetapi jumlah nominal anak gizi buruk masih besar sehingga diperlukan kesiapan tenaga kesehatan untuk melaksanakan tata laksana gizi buruk secara profesional  didukung oleh penyiapan sarana dan prasarana.

Pada tanggal 3-7 Agustus 2015 bertempat di Hotel Wiyata Depok, untuk kesekian kalinya direktorat bina gizi, kemenkes RI telah berhasil mencetak 24 fasilitator tata laksana anak gizi buruk. Peserta didatangkan dari daerah Kabupaten Serang, Kota depok, Sulawesi  Barat, Papua Barat, Kalimantan Utara, Bengkulu, Poli Gizi Badan Litbang, Poltekkes Bandung dan Poltekkes Jakarta II dengan berlatar pendidikan dokter spesialis anak, dokter umum dan ahli gizi. Diharapkan fasilitator-fasilitator ini dapat menjadi jembatan kemenkes ke daerah untuk penyelenggaraan pelatihan bagi pelaksana di daerah dengan dukungan pemerintah daerah dan lintas sektor. Penyebab terjadinya masalah gizi buruk sangat komplek  sehingga perlunya dukungan antara lain dana, program, penyediaan TFC  dan CFC serta ketahanan pangan dan gizi.  

Edaran terkait Pekan ASI Sedunia 2015

Mon, 08/10/2015 - 16:34

Dalam rangka memperingati Pekan ASI Sedunia tahun 2015 bersama ini kami informasikan hal-hal sebagai berikut:

1. Tema Global Pekan ASI Sedunia 2015 : “ Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work”
2. Tema Nasional Pekan ASI Sedunia 2015 : “ Mari dukung Menyusui di Tempat Kerja ”
3. Slogan Pekan ASI Sedunia 2015 : “ Ibu Bekerja Tetap Menyusui, Bayi Sehat Produktivitas Meningkat ”
4. Logo Pekan ASI Sedunia 2015 : (terlampir

Pures (Puskesmas Reporting Sytem) Dalam Pencatatan Pelaporan Tablet Tambah Darah (TTD) Pada Ibu Hamil

Thu, 08/06/2015 - 15:45

Pures (Puskesmas Reporting Sytem)

Dalam Pencatatan Pelaporan Tablet Tambah Darah (TTD) Pada Ibu Hamil di Kabupaten Muara Jambi

Provinsi Jambi


Provinsi Jambi merupakan salah satu Provinsi yang terpilih dalam uji coba Quality Reporting Sistem (QRS) untuk Tablet Tambah Darah (TTD). Lokasi uji coba QRS adalah Kabupaten Muara Jambi. Kabupaten Muara Jambi merupakan salah satu kabupaten yang terdekat dengan Ibu Kota Provinsi. Kabupaten Muara Jambi merupakan kabupaten yang mengelilingi Ibukota Provinsi dan Kota Jambi. Pengelola program gizi di Provinsi Jambi memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya ke Direktorat Gizi Kemenkes RI atas terpilihnya Kabupaten Muara Jambi sebagai daerah uji coba. Keberhasilan uji coba di Muara Jambi dan Provinsi lainnya akan dijadikan salah satu model dalam system pencatatan pelaporan program gizi yang bisa dikembangkan ke program lainnya.

Pencatatan pelaporan Tablet Tambah Darah (TTD) yang baik dan benar sangat diperlukan oleh pengelola program di Kab/Kota, Provinsi dan Pusat dalam pengambilan keputusan dan intervensi. Pencatatan pelaporan yang berkualitas dimulai dari kepedulian petugas (sumber daya manusia), sarana dan prasarana, Masih banyak terdapat permasalahan dalam pelaksanaan uji coba Puskesmas Reporting Systen (PuReS) diantaranya adala kesalahan input data (human eror) atau pengumpulan data di lapangan, kesalahan alat (eror system) pada saat evaluasi pertama yang dilakukan oleh Subdit Gizi Mikro Direktorat Bina Gizi Kemenkes. Hasil evaluasi perbulan ditegaskan oleh Dhian Proboyekti,SKM, MA mengarah ke yang lebih baik, dan dilakukan evaluasi lebih lanjut lagi pada bulan oktober 2015. Menyimak dari apa-apa yang disampaikan oleh narasumber untuk menghindari kesalahan yaitu kehati-hatian dalam input data dan software tidak eror.

Pada pelaksanaan bimtek  QRS di Kabupaten Muara Jambi diikuti, Pak Widi, SH, Ibu  Dra. Lily Musnelina,M.Si,Apt ( FKM UI), Della Rosa, SKM, MKM (Subdit Gizi Mikro), Ibu Arthi,,SE,MKM(Subbag Tata Usaha)

Motto dalam bekerja disampaikan oleh narasumber adalah “Bekerja dengan Cerdas dan Ikhlas”

 

Sumber: Dinkes Provinsi Jambi

1.918 Anak Menderita Gizi Buruk di NTT

Wed, 06/24/2015 - 10:02

Sebanyak 1.918 anak di Nusa Tenggara Timur menderita gizi buruk selama Januari-Mei 2015. Tercatat 11 anak berusia di bawah lima tahun meninggal akibat gizi buruk. Selain itu, masih ada 21.134 anak balita yang mengalami kekurangan gizi.

 

Kepala Seksi Perbaikan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur (NTT) Isbandrio, di Kupang, Senin (22/6), mengatakan, penderita gizi buruk dialami keluarga miskin yang tinggal di wilayah terpencil dan pedalaman. Mereka sulit dijangkau kendaraan bermotor karena ketiadaan jalan.

Pemahaman ibu terhadap gizi pun sangat rendah. Itu diperparah dengan kemarau panjang yang terjadi sejak tahun 2014 sehingga banyak petani gagal panen.

Kondisi itu menimbulkan krisis pangan sehingga makanan yang dikonsumsi anak pun berkurang, bahkan tidak bergizi. ”Kekurangan gizi itu membuat anak mudah terserang berbagai penyakit, seperti diare. Lalu menimbulkan kematian,” kata Isbandrio.

Kasus gizi buruk terjadi di hampir semua kabupaten di NTT. Kasus terbanyak di Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Timor Tengah Utara.

Kasus gizi buruk sebetulnya selalu terjadi setiap tahun di NTT. Tahun 2014, misalnya, tercatat 2.100 anak penderita gizi buruk dan 15 anak di antaranya meninggal, serta tercatat 3.121 anak balita mengalami kurang gizi.

Pracella Bone (2 tahun) dan Ulan Kaunan (10 bulan), misalnya, keduanya warga Desa Manusasi, Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, meninggal pada 12 Mei lalu akibat gizi buruk dengan penyakit penyerta keduanya berupa pneumonia berat, batuk pilek, demam, dan diare.

Desa Manusasi terletak sekitar 50 kilometer dari Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara. Akses dari desa itu ke Kefamenanu sangat sulit kecuali menggunakan jasa ojek dengan biaya Rp 200.000 per perjalanan.

Buruknya infrastruktur dan sulitnya akses transportasi membuat penderita gizi buruk tak terkontrol oleh petugas kesehatan. Akibatnya, penderita dengan mudah digerogoti berbagai penyakit lain.

Perawatan khusus

Kepala Dinas Kesehatan NTT Stefanus Bria mengatakan, kasus gizi buruk tak hanya tanggung jawab dinas kesehatan. Beberapa instansi pemerintah ikut bertanggung jawab karena gizi buruk erat kaitannya dengan masalah kemiskinan. ”Koordinasi antarinstansi pemerintah belum berjalan,” ujarnya.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi NTT telah memperkuat posyandu dengan pemberian makanan tambahan kepada anak balita agar tidak masuk kategori gizi buruk atau kurang gizi. Anak yang masuk kategori gizi buruk atau kurang gizi mendapat perawatan khusus di rumah sakit atau puskesmas terdekat. Penyebaran tenaga perawat ke puskesmas juga diperbanyak, selain dukungan instansi lain untuk pengadaan beras miskin serta program pemberdayaan masyarakat.

Ketua Komisi V DPRD NTT Winston Rondo mengingatkan Pemprov NTT untuk mewaspadai periode Juni-Desember yang merupakan puncak musim kemarau dan rawan pangan di sejumlah daerah NTT. Pemerintah harus mewaspadai meningkatnya kasus gizi buruk enam bulan ke depan.

”Kasus rawan pangan dan gizi buruk merata di hampir semua kabupaten,” ujarnya.

Pemahaman ibu

Selain faktor kemiskinan, tingginya kasus gizi buruk juga dipengaruhi rendahnya pemahaman ibu terhadap makanan bergizi. Ibu memberikan makanan asal kenyang kepada anak balita, tanpa memahami asupan gizinya.

Direktur Perkumpulan Inisiatif dan Advokasi Rakyat NTT Sarah Lery Mboik menilai, revolusi kesehatan ibu dan anak (KIA) yang diluncurkan pada 2012 dengan mengalokasikan anggaran miliaran rupiah tidak banyak berpengaruh terhadap masalah gizi buruk di NTT. Kasus gizi buruk di NTT sudah menahun, terjadi sejak 20 tahun silam, dan tidak pernah berubah sampai hari ini.

”Setiap penyusunan APBD antara pemda dan DPRD ujung- ujungnya untuk kepentingan mereka, melalui sejumlah proyek siluman. Rakyat selalu jadi korban. Kalau ada anggaran untuk rakyat, seperti Program Anggur Merah, pun hanya bagi kelompok warga yang mendukung kepala daerah itu, sementara rakyat yang dianggap lawan politik diabaikan begitu saja,” ujarnya.

Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menyatakan, persoalan gizi di NTT sangat kompleks karena banyak faktor terkait yang berkontribusi terhadap munculnya gizi buruk. Intervensi yang dilakukan tidak bisa memberikan dampak yang cepat dan tidak bisa menjangkau aspek pola asuh anak.

Status gizi buruk di NTT bukanlah gizi buruk dalam arti marasmus kwashiorkor, melainkan wasting atau kurus. Selain status gizi yang rendah secara umum, angka wasting dan stunting di NTT juga tinggi.

”Persoalan gizi buruk di NTT tak bisa diputus begitu saja. Pemerintah dan LSM telah berupaya melakukan berbagai intervensi. Namun, pemerintah tidak bisa mengintervensi pola asuh,” ungkap Anung.

Dia mengatakan, beberapa intervensi yang dilakukan selama ini adalah tambahan makanan bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis agar bayi yang dilahirkan memiliki berat badan yang cukup.

Selain itu, setelah lahir, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan dan makanan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) setelah enam bulan terus digalakkan. Ini ditambah dengan pemberian suplementasi zat gizi mikro untuk bayi. Adapun intervensi yang menyangkut aspek penunjang di luar aspek gizi ialah pemberian imunisasi dasar lengkap.(KOR/ADH).

Sumber: www.http://kompas.com, hari selasa tanggal 23 Juni 2015

Jumlah Kasus Gizi Buruk di Lapangan Jauh Lebih Banyak

Wed, 06/24/2015 - 09:51

Kasus kematian 11 anak berusia di bawah lima tahun, 2 anak balita mengalami marasmus kwashiorkor, 1.918 kasus gizi buruk, dan 21.134 kasus gizi kurang di Nusa Tenggara Timur merupakan bagian kecil yang dilaporkan petugas kesehatan. Selama ini, pemerintah daerah selalu memperkenalkan keberhasilan menekan angka kemiskinan dan peningkatan pembangunan di sektor-sektor strategis dengan angka yang luar biasa.

Direktris Yayasan Perkumpulan Inisiatif Advokasi HAM Rakyat Nusa Tenggara Timur Sarah Lery Mboeik, di Kupang, Selasa (23/6), mengatakan, data kematian 11 anak balita itu tak menunjukkan fakta sebenarnya di lapangan. Angka itu yang tercatat di rumah sakit dan puskesmas yang merawat korban, tetapi masih banyak anak balita yang meninggal akibat gizi buruk di rumah-rumah terpencil, jauh dari pantauan petugas pemerintah ataupun dari organisasi nonpemerintah.

“Masih banyak desa yang jauh dari jangkauan petugas kesehatan membuat kasus kematian anak balita akibat gizi buruk tidak terdata. Apalagi, kalau posyandu di desa itu pun tidak jalan karena tidak ada petugas kesehatan dan aparatur desa pun tidak menggalakkan posyandu desa karena tidak ada tenaga kesehatan di sana,” papar Mboeik.

Banyak desa di pedalaman sulit dijangkau angkutan umum kecuali ojek, dengan biaya yang relatif tinggi, yakni Rp 50.000-Rp 200.000 per perjalanan. Biaya ini sulit dijangkau warga miskin sehingga kebanyakan dari mereka memilih pasrah dengan keadaan yang ada. Ojek mampu menembus desa-desa hanya selama musim kemarau. Jika musim hujan, jalan sudah tak bisa dilewati karena hanya berupa jalan setapak dan berlumpur.

Jauhnya layanan kesehatan medis membuat warga bergantung pada pengobatan tradisional. Ketika kondisi anak balita sudah kurus kering dan digerogoti sejumlah penyakit, orangtua selalu menghubungkannya dengan kekuatan gaib yang sedang mengikat dan menyengsarakan anak. Proses pemulihan kondisi anak balita biasanya dilakukan secara tradisional dengan ramuan tradisional disertai doa-doa adat.

Ia mengatakan, kondisi seperti itu terjadi akibat kemiskinan dan keterbelakangan. Gagal panen karena kekeringan sebagai salah satu penyebab gizi buruk. Asupan makanan bagi anak balita pun berkurang karena keterbatasan pangan, selain tak ada upaya dari orangtua dan pemerintah memberikan asupan gizi terbaik bagi mereka.

Permainan data

Ketua Komisi V DPRD NTT Winston Rondo mengatakan, permainan data dari pemerintah telah mengelabui berbagai upaya membangun secara nyata di masyarakat. Pemerintah daerah mengeluarkan data tentang hasil pembangunan dengan angka yang sangat menggembirakan.

Misalnya, jagung sebagai makanan pokok orang NTT, sesuai data Pemerintah Provinsi NTT, mengalami peningkatan produksi, seperti disampaikan kepala dinas pertanian dan perkebunan, yakni dari 750.000 ton tahun 2014 menjadi 875.000 ton tahun ini, padi (gabah kering) dari lahan kering naik dari 500.000 ton menjadi 700.000 ton, dan umbi-umbian naik dari 2 juta ton menjadi 4 juta ton.

Sementara fakta di lapangan memperlihatkan, persediaan pangan di masyarakat sangat terbatas, terutama dari hasil pertanian dan perkebunan. Mereka dengan susah payah mendapatkan uang untuk membeli beras yang tersedia di pasar-pasar.

Sumber: http://www.kompas.com, hari Selasa, tanggal 23 Juni 2015

“ Nusantara Sehat” sebagai Tema Utama pada Lembar Berita Jejaring Info Pangan dan Gizi Edisi Pertama Tahun 2015

Fri, 06/19/2015 - 14:55

 

Penyebarluasan Informasi tentang Pangan dan Gizi disamping dilakukan secara langsung melalui pertemuan atau seminar, juga dilakukan secara tidak langsung melalui media cetak, elektronik ataupun teknologi Informasi yang lebih  canggih seperti internet. Mengingat  masih ada beberapa daerah yang belum mempunyai sarana komunikasi Informasi dan teknologi canggih, maka Buku Info Pangan dan Gizi serta Lembar Berita merupakan salah satu Media cetak sederhana yang digunakan dalam penyebaraluasan informasi tersebut. .

Bertempat di Ruang Rapat Direktorat Bina Gizi, tanggal 5 Juni 2015, dilakukan finalisasi penyusunan Buku Info Pangan dan Gizi dan Lembar Berita JIPG edisi pertama tahun 2015. Hadir sebagai kontributor dalam penyusunan buku tersebut adalah tim Koordinasi Jejaring Info Pangan dan Gizi yang terdiri dari perwakilan Balitbangkes, Pusat Komunikasi Publik, Pusat Data dan Informasi, Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Indonesia-LIPI, BPOM RI, Badan Ketahanan Pangan, FEMA-IPB, SEAMEO RECFON, Serta perwakilan seluruh subdit di Direktorat Bina Gizi.

Tema Nusantara Sehat merupakan Tema utama pada Lembar Berita edisi pertama 2015 diikuti dengan beberapa tema lain seperti: Global Nutrition Report; Desa Mandiri Pangan; Peraturan Pemerintah No. 17  Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi; Fakta-fakta Riskesdas 2013, Pangan Jajanan Anak Sekolah; Pelayanan Gizi di Puskesmas serta Pedoman Penanggulangan Kurang Energi Kronik pada Ibu Hamil. Sedangkan untuk Buku Info Pangan dan Gizi edisi pertama 2015 akan memuat sebanyak kurang lebih 55 abstrak penelitian yang bersumber dari hasil penelitian di Departemen Gizi Masyarakat FEMA-IPB, Departemen Gizi Kesmas FKM-UI, Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-LIPI, Direktorat Standarisasi Produk Pangan – BPOM, PTTK dan EK-Balitbangkes dan SEAMEO RECFON-UI.




APLIKASI








E-Journal Berlangganan




PENGUNJUNG

hit counter