You are here

Jejaring Gizi Indonesia

Subscribe to Jejaring Gizi Indonesia feed
Jejaring Gizi Indonesia
Updated: 23 min 22 sec ago

Rapat Reformulasi Perencanaan Program Gizi berdasarkan Analisis Hasil Perhitungan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) Tahun 2013

Tue, 05/12/2015 - 15:14

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) adalah kumpulan indikator kesehatan yang dapat dengan mudah dan langsung diukur untuk menggambarkan masalah kesehatan, sehingga dapat digunakan untuk menentukan peringkat provinsi dan Kab/kota dalam keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat dan dapat juga digunakan sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan kesehatan (dan terkait kesehatan) di pusat dan daerah.

Data IPKM 2014 diperoleh dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2013) dan Potensi Desa (Podes 2011). Data-data tersebut kemudian diolah menjadi 30 indikator yang dikatagorikan dalam 7 kelompok yaitu: (1) Kesehatan Balita, (2) Kesehatan Reproduksi, (3) Pelayanan Kesehatan, (4) Perilaku Kesehatan (5) Penyakit Tidak Menular, (6) Penyakit Menular, (7) Kesehatan Lingkungan.

Bertempat di Hotel Salak, Bogor, pada tanggal 7 – 9 Mei 2015, Direktorat Bina Gizi  melaksanakan Rapat Reformulasi Perencanaan Program Gizi berdasarkan Analisis Hasil Perhitungan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) Tahun 2013 untuk 13 Provinsi di Indonesia. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa permasalahan Kesehatan khususnya masalah gizi serta faktor penyebabnya sehingga bisa digunakan sebagai dasar untuk perencanaan kegiatan pembinaan gizi di Provinsi tersebut.

Acara dibuka oleh Direktur Bina Gizi Ir. Doddy Izwardy, dilanjutkan dengan diskusi mandiri dari masing masing kelompok. Hadir sebagai pembicara pada pertemuan itu yaitu dr. Mayangsari, MARS dan Larasati Indrawagita, SKM, MA dari Setditjen Bina Gizi dan KIA menyampaikan tentang Analisis IPKM sementara itu Suparmi, SKM,MKM dari Pusat Intervensi Kesehatan Masyarakat, Balitbangkes menyampaikan tentang Analisis Hasil Perhitungan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. Acara dilanjutkan kembali dengan diskusi mandiri masing masing kelompok dan diakhiri dengan paparan dari salah satu kelompok untuk melihat dan menyepakati format dan menu yang tepat dalam menyusun Perencanaan Program Gizi.

Bimbingan Teknis Terpadu Tim Direktorat Bina Gizi ke Provinsi Banten

Tue, 05/05/2015 - 15:29

Minggu ketiga April 2015, Tim Direktorat Bina Gizi yang terdiri dari perwakilan masing masing subdit dan bagian tata usaha di lingkungan Direktorat Bina Gizi melakukan bimbingan teknis terpadu ke Provinsi Banten. Tim diterima oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten (drg. Sigit Wardojo, M.Kes) berserta jajarannya kemudian dilanjutkan dengan pertemuan koordinasi dengan lintas program Dinas Kesehatan Provinsi Banten. Pada kesempatan tersebut Tim Direktorat Bina Gizi yang diwakili oleh dr. Yetty M.P, Silitonga memaparkan tentang IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) Provinsi Banten berdasarkan hasil Riskesdas 2013 dan Ir. Andry Harmany, M.Kes memaparkan tentang Cakupan Indikator Program Gizi tahun 2014.

Dalam paparannya dr. Yetty menyatakan bahwa berdasarkan IPKM Nasional tahun 2013, Provinsi Banten termasuk peringkat ke-6 dari 33 Provinsi di Indonesia dengan IPKM sebesar 0,5682 dan berada diatas rata-rata Nasional yaitu 0, 5404. Namun demikian masih ditemukan masalah kesehatan di Provinsi Banten yang  meliputi: Balita gemuk, kunjungan neonatal, penggunaan alat kontrasepsi (MKJP), Pemeriksaan kehamilan (K4), Kurang Energi Kronik (KEK) pada WUS, Persalinan oleh nakes di faskes, proporsi Kecamatan dengan kecukupan jumlah dokter/ penduduk, proporsi desa dengan kecukupan jumlah bidan/penduduk, kepemilikan jaminan pelayanan kesehatan, merokok, aktivitas fisik yang cukup, menggosok gizi dengan benar, cidera, diare pada balita, serta  ISPA pada balita.

Sementara paparan dari Ir. Andry Harmany, M.Kes menyatakan bahwa berdasarkan data cakupan 2014 angka cakupan Indikator Pembinaan Program Gizi Provinsi Banten sebagian besar masih berada dibawah rata-rata nasional kecuali cakupan D/S 83,4% (Nasional 80,8%) dan Cakupan ASI eksklusif bayi 0-6 bulan 65% (Nasional 52,4%).

Pada kesempatan tersebut juga didiskusikan tentang penanganan masalah pembangunan kesehatan di Provinsi Banten yang meliputi isu/masalah, kemampuan sumber daya, upaya yang telah dilakukan, akar masalah, rencana kegaiatan yang akan dilakukan, waktu, sumber dana serta peran yang diharapkan dari Kabupaten/Kota, Provinsi maupun Pusat.

Hari berikutnya Tim Direktorat Gizi didamping oleh Kepala Seksi Gizi Dinkes Provinsi Banten (Drs. H. Andy Suhardi, M.Si, M. Kes) melanjutkan kunjungan ke Kabupaten Pandeglang. Berdasarkan Indikator Kesehatan Balita, Kabupaten tersebut mempunyai masalah kesehatan Balita yang cukup tinggi yaitu angka gizi buruk dan gizi kurang 22,28%, balita pendek dan sangat pendek 38,57% dan balita gemuk 6,45%. Kegiatan yang dilakukan meliputi Pertemuan dengan lintas program Dinkes Kabupaten Pandeglang serta beberapa perwakilan Puskesmas. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang (Drs. H. Deden Kuswan, MM), paparan tentang Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Pandeglang oleh Kepala Seksi Gizi dan Usia Lanjut (Hj. Ika Rostika Marliah, S.Sos, M.Si.) paparan tentang IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) Provinsi Banten berdasarkan hasil Riskesdas 2013 dan Cakupan Indikator Program Gizi tahun 2014 serta diskusi tentang penanganan masalah pembangunan kesehatan di Kab. Pandeglang.

Dari Hasil diskusi di tingkat Provinsi maupun Kabupaten, diharapkan bisa menjadi acuan untuk melaksanakan kegiatan pembangunan kesehatan di wilayah masing masing.

Bimbingan Teknis Terpadu Direktorat Bina Gizi di Provinsi Banten diakhiri dengan kunjungan ke Puskesmas Kedu Hejo untuk melakukan uji coba indikator pembinaan program gizi dan kuesioner Pementauan Status Gizi (PSG). Dari hasil uji coba kuesioner PSG kepada 6 orang pengunjung Puskesmas (3 ibu yang mempunyai balita dan 3 ibu hamil) tidak ada kendala, semua responden paham dan tidak kesulitan dalam memberikan jawaban terhadap semua pertanyaan yang diajukan.

Peran ibu dalam implementasi Pedoman Gizi Seimbang guna mewujudkan generasi atau bangsa yang sehat, cerdas, berprestasi, dan unggul bersaing

Mon, 05/04/2015 - 10:27

Prinsip dasar tentang konsumsi anekaragam pangan, perilaku hidup bersih dan sehat, aktivitas fisik dan mempertahankan berat badan normal merupakan empat pilar dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS).

Pedoman gizi seimbang yang merupakan penyempurnaan dari Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) 2003 merupakan langkah kemajuan bangsa Indonesia dalam upaya memaksimalkan operasionalisasi Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) bagi masyarakat melalui petugas kesehatan termasukTenaga PelaksanaGizi (TPG) Puskesmas untuk lebih kreatif dalam mengembangkan strategi pendidikan gizi.

Upaya pendidikan gizi dan penyebarluasan informasi tentang gizi dan kesehatan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk satuan pendidikan termasuk jalur pendidikan formal, non formal, dan informal. Kegiatan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan yang bersifat mandiri. Salah satu anggota keluarga yang sangat penting peranannya dalam membina keluargaadalah ibu.

 “Ibu ibarat madarasah, jika kau persiapkan mereka maka sesungguhnya kamu sedang mempersiapkan bangsa yang agung dan unik dimasa depan”, kata Imam Syauqi. Sedangkan Baqir Sharuf al-Qarashi menyatakan bahwa  “ibu merupakan sekolah yang paling utama dalam pembentukan kepribadian anak, serta sarana untuk memenuhi mereka dengan berbagai sifat mulia”.

Merujuk dari kedua pendapat tersebut, maka jelaslah bahwa sosok ibulah yang merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan gizi dan kesehatan di lingkungan keluarga, karena sosok ibu :

  1. Dapat mengandung, melahirkan,menyusui,mengasuh dan membesarkan anak-anaknya.
  2. Merupakan orang yang pertama dalam kehidupan anak, sebagai tempat belajar,yang menyediakan makanan, melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), memberikan Air SusuIbu (ASI), yang merawat kesehatan anak secara keseluruhan.
  3. Memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moralitas dan pendidikananak secara utuh.
  4. Pengasuhan seorang ibu terhadap anak menjadi sangat penting karena melalui proses pengasuhan itulah anak tumbuh dan berkembang menjadi sosok individu dengan seperangkat karakteristik sejalan dengan yang ia terima selama proses pengasuhan berlangsung.

Demikian, semoga bermanfaat…!!!

Penulis :SugiartySoepardi, S.ST
(TPG Puskesmas Botumoito Kab. Boalemo Provinsi Gorontalo-Anggota PERSAGI Kab. Boalemo Provinsi Gorontalo)

 

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas dalam Surveilans Gizi

Thu, 04/23/2015 - 16:54

Dalam rangka mendukung upaya program perbaikan gizi, Direktorat Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI mengadakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas dalam Surveilans Gizi. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 25 orang yang terdiri dari 18 orang peserta dari 9 provinsi (masing masing 1 orang dari Dinas Kesehatan Provinsi dan 1 orang dari Poltekkes) serta 7 orang  peserta pusat dari Direktorat Bina Gizi. Kegiatan dilaksanakan di Pusat Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik (Puslitbang Gizi), Bogor.

Pelatihan dilaksanakan selama 5 hari, yang dimulai pada tanggal 13 April dan diakhiri pada tanggal 17 April 2015. Hari pertama diawali pre test, laporan panitia penyelenggara yang disampaikan oleh Kasi Standarisasi Subdit Bina Kewaspadaan Gizi Bapak Eko Prihastono, SKM, MA dan dilanjutkan dengan Pembukaan sekaligus pengarahan dari Kasubdit Bina Kewaspadaan Gizi Bapak Galopong Sianturi, SKM, MPH.

Dalam pengarahannya Bapak Galopong menyampaikan bahwa pelatihan surveilans gizi ini merupakan pelatihan angkatan pertama di tahun 2015 dan merupakan pelatihan yang terakreditasi sehingga akan mendapatkan sertifikat surveilans gizi. Bapak Galopong juga menyampaikan harapannya kepada peserta agar dapat mengaplikasi ilmu yang didapat diaerah masing masing, serta mampu menjadi motivator dalam melakukan surveilans sebagai upaya perbaikan gizi di Indonesa.

Hari kedua dan selanjutnya diisi dengan materi pelatihan yang disampaikan oleh Fasilitator yaitu Bapak DR. Abas Basuni Jahari, M.Sc, Bapak Ir. Tatang S Falah, M.Sc, Bapak Ir. Eman Sumarna, M.Sc, Bapak Galopong Sianturi, SKM, MPH, Ibu Taty Prasetyati, SKM, dan Bapak Eko Prihastono, SKM,MA serta Nara Sumber yaitu Bapak Dany Rustandi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Materi yang diajarkan meliputi Materi Dasar tentang Kebijakan Program Gizi dan Sejarah Surveilans Gizi di Indonesia sebanyak 3 JPL, Materi Inti tentang Kompilasi dan Tabulasi Data, Pengolahan dan Analisis Data, Analisis dan Interpretasi Situasi Gizi dan Faktor Risiko, Laporan dan Diseminasi Hasil Surveilans Gizi sebanyak 31 JPL, serta Materi Penunjang yang terdiri dari Building Learning Commitment (BLC), Anti Korupsi dan Rencana Tindak Lanjut sebanyak 6 JPL.

Pelatihan diikuti dengan sungguh sungguh oleh peserta , dimana setiap praktek dan latihan dari materi yang diajarkan bisa diselesaikan dengan baik oleh masing masing kelompok. Pada hari terakhir di peroleh 2 (dua) peserta terbaik yaitu Widi Hastuti, SKM, M.Kes dari Poltekkes Kemenkes RI Bandung dan Andi Dian Purnama Sari Syafri, S.Gz dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan pelatihan ini dengan baik dan sungguh sungguh, semoga bisa menjadi motivator surveilans gizi di tempat masing masing.

Semangattt!!!

 

Materi Rakortek 2015

Tue, 03/24/2015 - 10:33

Kepada teman yang akan mengunduh atau mendownload file materi Rakortek 2015 Hotel Mason Pine Bandung, bisa download  Materi Rakortek 2015

Workshop II Hari Gizi Nasional “Pendekatan Multi-Sektor untukPerbaikan Gizi – The Way Forward”

Thu, 02/26/2015 - 10:42

Jakarta, GIZINET (25/2). Workshop masih dalam rangka peringatan Hari Gizi Nasional ke-55 kembali dilaksanakan pada tanggal 25 Februari yang lalu. Kali ini workshop secara khusus ditujukan pada pendekatan multisektoral dalam upaya mendukung percepatan perbaikan gizi. Workshop ini juga menghadirkan Public Health Nutrition – Roger Shrimpton sebagai narasumber. Sedikit berbeda dari workshop sebelumnya di tanggal 24 Februari, workshop yang dilaksanakan di Hotel Manhattan ini tidak hanya  memberikan paparan tetapi juga  juga dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang membahas keterlibatan multi sektor, seperti ketahanan pangan dan pertanian; pengentasan kemiskinan/proteksi sosial; air bersih, sanitasi dan higiene; pendidikan (khususnya PAUD dan UKS); Kesehatan dan KB; dalam rangka percepatan perbaikan gizi di Indonesia. Keluaran dari diskusi kelompok berupa identifikasi kegiatan dari masing-masing sektor  dalam RPJMN yang berkontribusi dalam percepatan perbaikan gizi serta identifikasi  program/kegiatan gizi spesifik dengan pendekatan terkini yang dapat dilaksanakan di tingkat provinsi dan kabupaten. Hasilnya kemudian akan menjadi masukan dalam pembuata n RANPG/Perencanaan Multi Sektor untuk Gizi 2015-2019. (YuniZ/redaksiGiziNet)

Materi paparan dapat diunduh secara lengkap disini:

15.02.25 HGN 2015

DRAJAT_HGN 25 FEB 2015_KETAHANAN PANGAN

Hari Gizi Nasional – pendekatan multisektor 25.02.2015

Multisectoral programmes for tackling the double burden of (Bahasa)

PAPARAN JAMINAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN MASY

PAPARAN JAMINAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN MASY_1

ProgramPeningkatanNutrisi_HGN Feb 2015_Satriawan

SEMINAR HARI GIZI NASIONAL KEMENKES DAN WFP, JAKARTA, 25 FEBRUARI 2015-tanpa foto

Workshop HGN 25 Februari 2015_edit tanpa foto

Workshop Hari Gizi Nasional (HGN) ke-55 “Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi”

Tue, 02/24/2015 - 18:55

Jakarta, GIZINET (24/2). Rangkaian peringatan Hari Gizi Nasional masih terus berlanjut. Hari ini di selenggarakan sebuah workshop di Balai Kartini, Jakarta dengan Direktorat Bina Gizi sebagai penyelenggara didukung oleh lintas kementerian, mitra pembangunan, serta dunia usaha.

Workshop ini mengambil tema HGN ke-55 “Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi” dengan mengedepankan peran intervensi penanggulangan masalah gizi dari luar sisi kesehatan dan gizi (dikenal dengan intervensi sensitif). Narasumber yang didatangkan berasal dari lintas kementerian (Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian) serta pengalaman penerapan intervensi secara langsung dari wilayah Depok (One Day No Rice) serta  NTT dan Papua (Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah).

Dari berbagai paparan yang disampaikan tentang intervensi spesifik tersebut, terlihat bahwa peran sektor di luar kesehatan memang sangat penting dan nyatanya secara tidak langsung berkontribusi cukup besar   terhadap penanggulangan masalah gizi di Indonesia. Dari sisi perikanan misalnya, kampanye gemar makan ikan yang makin digalakkan akan berkontribusi besar terhadap pemenuhan asupan protein masyarakat, begitupula bila program pemanfaatan pekarangan yang digalakkan oleh bidang pertanian dilaksanakan secara optimal dibarengi dengan pendidikan gizi untuk kesadaran konsumsi gizi seimbang termasuk makan cukup sayur dan buah, maka kualitas asupan konsumsi masyarakat kita akan semakin baik dan cukup gizi. Terlebih diperkuat dengan peningkatan kesadaran terhadap sanitasi lingkungan serta perlindungan terhadap masyarakat sebagai konsumen dari makanan berbahaya.

Penekanan pada koordinasi yang berkelanjutan dari sektor kesehatan dan non kesehatan membutuhkan komitmen kuat dan kesungguhan untuk menciptakan keberlangsungan upaya percepatan perbaikan gizi. Kedepannya, diharapkan percepatan perbaikan gizi mampu mendongkrak kualitas sumber daya anak bangsa untuk lebih maju dan berdaya saing di era globalisasi dengan produktivitas yang maksimal. (YuniZ/redaksiGiziNet).

GLOBAL NUTRITION REPORT, Dimana Posisi Indonesia?

Thu, 02/12/2015 - 17:35

Jakarta, GIZINET (12/2). Penyebarluasan informasi tentang Global Nutrition Report (GNR) dilaksanakan tanggal 9 Februari 2015 lalu di Bappenas dalam puncak peringatan Hari Gizi Nasional ke-55. Dalam acara ini selain para undangan dari pemerintahan, dunia usaha, akademisi, organisasi profesi, LSM dan NGO serta mitra pembangunan, hadir pula Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas.

Paparan GNR disampaikan secara langsung oleh Dr. Lawrence Hadad dan Prof. Dr. Endang L. Achadi yang merupakan bagian dari tim pakar penyusun. GNR sendiri telah di launching secara resmi November 2014 lalu pada International Conference on Nutrition (ICN) ke 2 di Roma-Italia, yang merupakan seri pertama laporan tahunan yang menjelaskan kemajuan perbaikan gizi di seluruh dunia. Dalam GNR 2014 yang dapat diunduh langsung di www.globalnutritionreport.org digambarkan data dan informasi terkait gizi secara global, dan berisikan pengalaman, best practices, serta dilengkapi dengan country profile dari 193 negara anggota PBB.

Membahas secara khusus tentang posisi Indonesia dalam GNR, Prof. Dr. Endang L. Achadi dalam paparannya menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia diantaranya: Indonesia termasuk dalam 17 negara diantara 117 negara yang saat ini memiliki 3 masalah gizi (stunting, wasting, dan overweight); Indonesia termasuk dalam 47 negara dari 122 negara yang mempunyai masalah stunting pada balita dan anemia pada WUS; dan cakupan 3 intervensi (IMD, ASI Eksklusif, TTD bumil) di Indonesia masih terbilang rendah.

Menilik potensi yang kita punya, peluang besar untuk penanggulangan masalah gizi diatas sebetulnya sangat besar dan bahkan beberapa intervensi spesifik dan sensitif yang direkomendasikan sudah dilakukan, namun cakupannya belum optimal. Dikatakan bahwa untuk mendongkraknya diperlukan kesatuan visi dan platform semua stakeholders terkait melalui penguatan koordinasi dan sinergi berbagai pemangku kepentingan untuk intervensi spesifik gizi, serta lingkungan yang mendukung dari semua stakeholders untuk intervensi sensitive gizi yaitu sektor pemerintah terkait (pertanian, perikanan, dikbud, BKKBN, agama, perdagangan, perindustrian, dsb), swasta, LSM, masyarakat, serta mitra pembangunan internasional. (YuniZ/redaksiGiziNet)

Tulisan merujuk pada paparan yang disampaikan pada diseminasi GNR, dan dapat diunduh secara lengkap disini:

FINAL Keynote Speech Menteri PPN -Ppt

GNR Presentation 8 Februari 2015_2mlm rev1

Jakarta roundtable

LAPORAN DEPUTI PPT

FINAL-KEYNOTE MK- DISEMINASI GNR – 9 FEB 2105 bag I

FINAL-KEYNOTE MK- DISEMINASI GNR – 9 FEB 2105 bag II

FINAL-KEYNOTE MK- DISEMINASI GNR – 9 FEB 2105 bag III




APLIKASI








E-Journal Berlangganan




PENGUNJUNG

hit counter