You are here

Jejaring Gizi Indonesia

Subscribe to Jejaring Gizi Indonesia feed
Jejaring Gizi Indonesia
Updated: 1 hour 27 min ago

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas dalam Surveilans Gizi

Thu, 04/23/2015 - 16:54

Dalam rangka mendukung upaya program perbaikan gizi, Direktorat Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI mengadakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas dalam Surveilans Gizi. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 25 orang yang terdiri dari 18 orang peserta dari 9 provinsi (masing masing 1 orang dari Dinas Kesehatan Provinsi dan 1 orang dari Poltekkes) serta 7 orang  peserta pusat dari Direktorat Bina Gizi. Kegiatan dilaksanakan di Pusat Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik (Puslitbang Gizi), Bogor.

Pelatihan dilaksanakan selama 5 hari, yang dimulai pada tanggal 13 April dan diakhiri pada tanggal 17 April 2015. Hari pertama diawali pre test, laporan panitia penyelenggara yang disampaikan oleh Kasi Standarisasi Subdit Bina Kewaspadaan Gizi Bapak Eko Prihastono, SKM, MA dan dilanjutkan dengan Pembukaan sekaligus pengarahan dari Kasubdit Bina Kewaspadaan Gizi Bapak Galopong Sianturi, SKM, MPH.

Dalam pengarahannya Bapak Galopong menyampaikan bahwa pelatihan surveilans gizi ini merupakan pelatihan angkatan pertama di tahun 2015 dan merupakan pelatihan yang terakreditasi sehingga akan mendapatkan sertifikat surveilans gizi. Bapak Galopong juga menyampaikan harapannya kepada peserta agar dapat mengaplikasi ilmu yang didapat diaerah masing masing, serta mampu menjadi motivator dalam melakukan surveilans sebagai upaya perbaikan gizi di Indonesa.

Hari kedua dan selanjutnya diisi dengan materi pelatihan yang disampaikan oleh Fasilitator yaitu Bapak DR. Abas Basuni Jahari, M.Sc, Bapak Ir. Tatang S Falah, M.Sc, Bapak Ir. Eman Sumarna, M.Sc, Bapak Galopong Sianturi, SKM, MPH, Ibu Taty Prasetyati, SKM, dan Bapak Eko Prihastono, SKM,MA serta Nara Sumber yaitu Bapak Dany Rustandi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Materi yang diajarkan meliputi Materi Dasar tentang Kebijakan Program Gizi dan Sejarah Surveilans Gizi di Indonesia sebanyak 3 JPL, Materi Inti tentang Kompilasi dan Tabulasi Data, Pengolahan dan Analisis Data, Analisis dan Interpretasi Situasi Gizi dan Faktor Risiko, Laporan dan Diseminasi Hasil Surveilans Gizi sebanyak 31 JPL, serta Materi Penunjang yang terdiri dari Building Learning Commitment (BLC), Anti Korupsi dan Rencana Tindak Lanjut sebanyak 6 JPL.

Pelatihan diikuti dengan sungguh sungguh oleh peserta , dimana setiap praktek dan latihan dari materi yang diajarkan bisa diselesaikan dengan baik oleh masing masing kelompok. Pada hari terakhir di peroleh 2 (dua) peserta terbaik yaitu Widi Hastuti, SKM, M.Kes dari Poltekkes Kemenkes RI Bandung dan Andi Dian Purnama Sari Syafri, S.Gz dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan pelatihan ini dengan baik dan sungguh sungguh, semoga bisa menjadi motivator surveilans gizi di tempat masing masing.

Semangattt!!!

 

Materi Rakortek 2015

Tue, 03/24/2015 - 10:33

Kepada teman yang akan mengunduh atau mendownload file materi Rakortek 2015 Hotel Mason Pine Bandung, bisa download  Materi Rakortek 2015

Workshop II Hari Gizi Nasional “Pendekatan Multi-Sektor untukPerbaikan Gizi – The Way Forward”

Thu, 02/26/2015 - 10:42

Jakarta, GIZINET (25/2). Workshop masih dalam rangka peringatan Hari Gizi Nasional ke-55 kembali dilaksanakan pada tanggal 25 Februari yang lalu. Kali ini workshop secara khusus ditujukan pada pendekatan multisektoral dalam upaya mendukung percepatan perbaikan gizi. Workshop ini juga menghadirkan Public Health Nutrition – Roger Shrimpton sebagai narasumber. Sedikit berbeda dari workshop sebelumnya di tanggal 24 Februari, workshop yang dilaksanakan di Hotel Manhattan ini tidak hanya  memberikan paparan tetapi juga  juga dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang membahas keterlibatan multi sektor, seperti ketahanan pangan dan pertanian; pengentasan kemiskinan/proteksi sosial; air bersih, sanitasi dan higiene; pendidikan (khususnya PAUD dan UKS); Kesehatan dan KB; dalam rangka percepatan perbaikan gizi di Indonesia. Keluaran dari diskusi kelompok berupa identifikasi kegiatan dari masing-masing sektor  dalam RPJMN yang berkontribusi dalam percepatan perbaikan gizi serta identifikasi  program/kegiatan gizi spesifik dengan pendekatan terkini yang dapat dilaksanakan di tingkat provinsi dan kabupaten. Hasilnya kemudian akan menjadi masukan dalam pembuata n RANPG/Perencanaan Multi Sektor untuk Gizi 2015-2019. (YuniZ/redaksiGiziNet)

Materi paparan dapat diunduh secara lengkap disini:

15.02.25 HGN 2015

DRAJAT_HGN 25 FEB 2015_KETAHANAN PANGAN

Hari Gizi Nasional – pendekatan multisektor 25.02.2015

Multisectoral programmes for tackling the double burden of (Bahasa)

PAPARAN JAMINAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN MASY

PAPARAN JAMINAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN MASY_1

ProgramPeningkatanNutrisi_HGN Feb 2015_Satriawan

SEMINAR HARI GIZI NASIONAL KEMENKES DAN WFP, JAKARTA, 25 FEBRUARI 2015-tanpa foto

Workshop HGN 25 Februari 2015_edit tanpa foto

Workshop Hari Gizi Nasional (HGN) ke-55 “Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi”

Tue, 02/24/2015 - 18:55

Jakarta, GIZINET (24/2). Rangkaian peringatan Hari Gizi Nasional masih terus berlanjut. Hari ini di selenggarakan sebuah workshop di Balai Kartini, Jakarta dengan Direktorat Bina Gizi sebagai penyelenggara didukung oleh lintas kementerian, mitra pembangunan, serta dunia usaha.

Workshop ini mengambil tema HGN ke-55 “Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi” dengan mengedepankan peran intervensi penanggulangan masalah gizi dari luar sisi kesehatan dan gizi (dikenal dengan intervensi sensitif). Narasumber yang didatangkan berasal dari lintas kementerian (Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian) serta pengalaman penerapan intervensi secara langsung dari wilayah Depok (One Day No Rice) serta  NTT dan Papua (Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah).

Dari berbagai paparan yang disampaikan tentang intervensi spesifik tersebut, terlihat bahwa peran sektor di luar kesehatan memang sangat penting dan nyatanya secara tidak langsung berkontribusi cukup besar   terhadap penanggulangan masalah gizi di Indonesia. Dari sisi perikanan misalnya, kampanye gemar makan ikan yang makin digalakkan akan berkontribusi besar terhadap pemenuhan asupan protein masyarakat, begitupula bila program pemanfaatan pekarangan yang digalakkan oleh bidang pertanian dilaksanakan secara optimal dibarengi dengan pendidikan gizi untuk kesadaran konsumsi gizi seimbang termasuk makan cukup sayur dan buah, maka kualitas asupan konsumsi masyarakat kita akan semakin baik dan cukup gizi. Terlebih diperkuat dengan peningkatan kesadaran terhadap sanitasi lingkungan serta perlindungan terhadap masyarakat sebagai konsumen dari makanan berbahaya.

Penekanan pada koordinasi yang berkelanjutan dari sektor kesehatan dan non kesehatan membutuhkan komitmen kuat dan kesungguhan untuk menciptakan keberlangsungan upaya percepatan perbaikan gizi. Kedepannya, diharapkan percepatan perbaikan gizi mampu mendongkrak kualitas sumber daya anak bangsa untuk lebih maju dan berdaya saing di era globalisasi dengan produktivitas yang maksimal. (YuniZ/redaksiGiziNet).

GLOBAL NUTRITION REPORT, Dimana Posisi Indonesia?

Thu, 02/12/2015 - 17:35

Jakarta, GIZINET (12/2). Penyebarluasan informasi tentang Global Nutrition Report (GNR) dilaksanakan tanggal 9 Februari 2015 lalu di Bappenas dalam puncak peringatan Hari Gizi Nasional ke-55. Dalam acara ini selain para undangan dari pemerintahan, dunia usaha, akademisi, organisasi profesi, LSM dan NGO serta mitra pembangunan, hadir pula Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas.

Paparan GNR disampaikan secara langsung oleh Dr. Lawrence Hadad dan Prof. Dr. Endang L. Achadi yang merupakan bagian dari tim pakar penyusun. GNR sendiri telah di launching secara resmi November 2014 lalu pada International Conference on Nutrition (ICN) ke 2 di Roma-Italia, yang merupakan seri pertama laporan tahunan yang menjelaskan kemajuan perbaikan gizi di seluruh dunia. Dalam GNR 2014 yang dapat diunduh langsung di www.globalnutritionreport.org digambarkan data dan informasi terkait gizi secara global, dan berisikan pengalaman, best practices, serta dilengkapi dengan country profile dari 193 negara anggota PBB.

Membahas secara khusus tentang posisi Indonesia dalam GNR, Prof. Dr. Endang L. Achadi dalam paparannya menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia diantaranya: Indonesia termasuk dalam 17 negara diantara 117 negara yang saat ini memiliki 3 masalah gizi (stunting, wasting, dan overweight); Indonesia termasuk dalam 47 negara dari 122 negara yang mempunyai masalah stunting pada balita dan anemia pada WUS; dan cakupan 3 intervensi (IMD, ASI Eksklusif, TTD bumil) di Indonesia masih terbilang rendah.

Menilik potensi yang kita punya, peluang besar untuk penanggulangan masalah gizi diatas sebetulnya sangat besar dan bahkan beberapa intervensi spesifik dan sensitif yang direkomendasikan sudah dilakukan, namun cakupannya belum optimal. Dikatakan bahwa untuk mendongkraknya diperlukan kesatuan visi dan platform semua stakeholders terkait melalui penguatan koordinasi dan sinergi berbagai pemangku kepentingan untuk intervensi spesifik gizi, serta lingkungan yang mendukung dari semua stakeholders untuk intervensi sensitive gizi yaitu sektor pemerintah terkait (pertanian, perikanan, dikbud, BKKBN, agama, perdagangan, perindustrian, dsb), swasta, LSM, masyarakat, serta mitra pembangunan internasional. (YuniZ/redaksiGiziNet)

Tulisan merujuk pada paparan yang disampaikan pada diseminasi GNR, dan dapat diunduh secara lengkap disini:

FINAL Keynote Speech Menteri PPN -Ppt

GNR Presentation 8 Februari 2015_2mlm rev1

Jakarta roundtable

LAPORAN DEPUTI PPT

FINAL-KEYNOTE MK- DISEMINASI GNR – 9 FEB 2105 bag I

FINAL-KEYNOTE MK- DISEMINASI GNR – 9 FEB 2105 bag II

FINAL-KEYNOTE MK- DISEMINASI GNR – 9 FEB 2105 bag III

Momentum Peringatan Hari Gizi Nasional 25 Januari dan Hari Patriotik 23 Januari Tahun 2015

Fri, 01/30/2015 - 10:06

GIZINET – Bulan Januari merupakan momentum yang sangat berharga bagi ahli Gizi terutama di Indonesia dan lebih khusus lagi di Provinsi Gorontalo. Mengapa demikian?, karena pada bulan Januari ini tepat pada tanggal 25 Januari diperingati Hari Gizi Nasional, dan tanggal 23 Januari diperingati Hari Patriotik untuk daerah Gorontalo.

Saat ini, tengah dibahas Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo oleh Tim Pansus DPRD Provinsi Gorontalo. Perda tersebut bertujuan untuk 1) Meningkatkan perilaku masyarakat secara berjenjang tentang gizi dan kesehatan meliputi pengetahuan, sikap dan praktik konsumsi makanan khas daerah Gorontalo; 2) Sebagai upaya memutus mata rantai permasalahan gizi dan kesehatan yang disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi setiap hari; 3) Sebagai upaya pengembangan budaya makanan khas daerah Gorontalo dalam melaksanakan ketahanan pangan berbasis pangan lokal; dan 4) Sebagai upaya transformasi hasil-hasil riset kepada seluruh jenjang pendidikan dasar, menengah dan lapisan masyarakat tentang makanan tradisional oleh perguruan tinggi atau lembaga riset lainnya guna melaksanakan ketahanan pangan berbasis pangan lokal.

Ruang lingkup yang diatur dalam Ranperda adalah : 1) Penerapan ilmu gizi berbasis makanan khas daerah Gorontalo diintegrasikan dalam muatan lokal pada satuan pendidikan; 2) Peningkatan penganekaragaman bahan makanan menuju ketahanan pangan berbasis bahan pangan lokal; 3) Peningkatan status kesehatan masyarakat; 4) Pengembangan penganekaragaman makanan khas daerah Gorontalo; 5) Informasi dan Edukasi; 6) Pembinaan; 7) Pengawasan, Pembiayaan;dan 9) Sanksi administratif.

Dukungan atas kebijakan Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo mendapat respon yang baik dari berbagai kalangan, seperti halnya dari instansi terkait (Dinas/Kementerian Pendidikan) termasuk dari legislatif, budayawan, satuan pendidikan, serta dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan dan pemerhati Gizi, kesehatan dan pendidikan. Hal ini terlihat pada saat pembahasan yang dilakukan oleh tim Pansus Ranperda Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo DPRD Provinsi Gorontalo serta kunjungan ke Sekolah, Dinas Kesehatan, dan Kementerian Pendidikan serta Kementerian Kesehatan.  Hal ini tidak luput dari kesiapan dari Seksi Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, yang sejak tahun 2008 telah menerapkan Muatan Lokal Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo di satuan pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK), telah menyusun bahan ajar dan kurikulum, serta telah menyusun Naskah Akademik yang melibatkan unsur Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Perguruan Tinggi, dan Organisasi Profesi yakni Persatuan Ahli Gizi Indonesia Provinsi Gorontalo, atas kerjasamanya dengan Yayasan Nutrition, Sport and HIV-ADIS Education (NUSAHAE) Provinsi Gorontalo.

Kebijakan Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo tersebut sudah pasti membuka peluang dan kesempatan, namun juga menjadi tantangan yang besar bagi tenaga gizi.

Peluang ahli gizi, dari implementasi kebijakan publik tersebut adalah :

  1. Tenaga gizi dapat menjadi tenaga edukasi (guru) dari satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK, yang dapat tersertifikasi sesuai kompetensi.
  2. Pemerintah daerah (dalam Ranperda tersebut) akan membentuk Pusat Kajian Gizi, Kesehatan dan Makanan Khas Daerah Gorontalo.
  3. Promosi dan Pengawasan terhadap makanan jajanan, termasuk restoran dan hotel sebagai penyedia makanan.
  4. Upaya untuk memutus mata rantai permasalahan gizi dan kesehatan.

Tantangan bagi ahli gizi, dari implementasi kebijakan publik tersebut adalah :

  1. Kompetensi ahli gizi yang memahami tentang makanan khas daerah dan kaitannya dengan penyelenggaraan/pelaksanaan budaya atau tradisi-tradisi khususnya yang berhubungan dengan makanan.
  2. Komitmen bersama untuk mendukung dan mengawal kebijakan tersebut.
  3. Kemampuan dalam memberikan promosi dan pengawasan terhadap makanan jajanan.
  4. Pemahaman tentang makanan khas daerah yang memiliki nilai gizi yang aman, serta menjamurnya makanan siap saji yang tingkat keamanannya tidak terjamin.

Sebagai catatan akhir dari tulisan ini, momentum peringatan Hari Gizi Nasional 25 Januari dan Hari Patriotik 23 Januari tahun 2015. berikut 13 hal yang terkait dengan HGN ke-55 dan hari Patriotik 23 Januari :

  1. Lima rukun dalam rukun islam
  2. Lima orang rasul yang diberi gelar ulul azmi (nuh, ibrahim, musa, isa, muhammad)
  3. Lima dasar negara republik indonesia (yakni pancasila)
  4. Lima pulau terbesar di indonesia (sumatera, jawa, kalimantan, sulawesi dan papua)
  5. Lima pancaindra manusia (mata, telinga, hidung, lidah, kulit)
  6. Lima-lima (tahun 1955) pedoman gizi seimbang yang telah diimplementasikan di indonesia
  7. Lima kelompok makanan dalam pgs (makanan pokok, lauk pauk sumber nabati, lauk pauk sumber hewani, sayuran, dan buah-buahan)
  8. Lima zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral) ditambah dengan air sebagai sumber kehidupan manusia
  9. Lima kelompok rawan yang menjadi prioritas perbaikan gizi dalam uu kesehatan (bayi, balita, remaja perempuan ibu hamil, ibu menyusui)

10. Lima indikator kadarzi (menimbang berat badan, memberikan asi eksklusif, makan beraneka ragam makanan, menggunakan garam beriodium, memberikan suplemen gizi sesuai anjuran)

11. Limo lo pohalaa atau lima bersaudara dalam lokus bumi dan akar kebudayaan yang sama (Gorontalo, Limboto, Suwawa, Boalemo, Atinggola)

12. Lima merupakan hasil kurang dari tujuh dan dua (72 tahun gorontalo merdeka)

13. Lima angka akhir tahun 2015

Selamat memperingati hari gizi nasional ke- 55 dan hari patriotik 23 januari

Mari : bersama membangun gizi menuju bangsa sehat berprestasi.

Dengan adanya Peraturan Daerah Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo, maka upaya-upaya perbaikan gizi akan semakin membaik, sehingga berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang berprestasi.

Akhirnya, selamat memperingati Hari Gizi Nasional ke- 55 dan Hari Patriotik 23 Januari ke-72 tahun 2015, mari : bersama membangun gizi menuju bangsa sehat berprestasi.

Demikian, semoga bermanfaat.

Penulis : Sofyan Tambipi, Dinkes Provinsi Gorontalo 

Bahaya Mie Instant bagi kesehatan

Tue, 01/27/2015 - 10:15

 

REPUBLIKA.CO.ID, Mi instan merupakan makanan populer yang dapat dimakan siang dan malam, terutama bagi mahasiswa di akhir bulan. Murah dan mengenyangkan menjadi faktor mi instan populer.

Namun, penelitian yang dilakukan oleh Dr Braden Kuo dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, dapat membuat para penikmat mi instan berpikir ulang untuk kembali memakan mi. Dilansir dari laman Mercola, Ahad (25/1), berikut hasil yang mencengangkan dari penelitian Dr Kuo yang menggunakan kamera berukuran sangat mini untuk melihat apa yang terjadi dengan mi instan di dalam saluran pencernaan.

Mi instan tidak hancur dalam proses pencernaan berjam-jam
Mi instan, termasuk juga mie ramen asal Jepang, tidak hancur selama dua jam proses pencernaan di dalam tubuh. Bentuk mi yang masih utuh memaksa saluran pencernaan manusia bekerja ekstra keras untuk memecah makanan tersebut.

Jika mi instan tetap ada di dalam saluran pencernaan untuk waktu yang lama, akan sangat berdampak pada penyerapan nutrisi makanan lain. Selain itu, di dalam mi itu sendiri, tidak ada nutrisi yang bisa diserap tubuh. Sebaliknya, tubuh akan menyerap zat-zat aditif, termasuk zat beracun dari bahan pengawet, seperti tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ).

Pengawet TBHQ sangat berbahaya bagi tubuh
TBHQ merupakan bahan kimia yang sering disebut memiliki fungsi sebagai antioksidan. Hanya saja, TBHQ merupakan antioksidan yang berasal dari bahan kimia sintetis, bukan antioksidan alami. Zat ini berfungsi untuk mencegak oksidasi lemak dan minyak, sehingga dapat memperpanjang masa simpan makanan olahan, atau biasa disebut bahan pengawet.

TBHQ biasa digunakan di dalam makanan olahan instan. Tapi, bahan kimia tersebut juga bisa ditemukan di dalam bahan non-makanan, seperti pestisida, kosmetik, dan parfum, karena sifatnya yang bisa mengurangi tingkat penguapan.

Lima gram zat TBHQ dapat membahayakan tubuh manusia. Efek dari terlalu sering mengonsumsi TBHQ adalah mual disertai muntah, terjadi dering di telinga, mengigau, dan sesak napas.

Mi instan timbulkan gangguan metabolisme
Seseorang yang mengonsumsi mi instan lebih dari dua kali dalam seminggu berisiko mengalami gangguan metabolisme, yaitu gejala-gelaja tubuh seperti obesitas, tekanan darah tinggi, peningkatan kadar gula darah, dan kolesterol. Diketahui wanita 68 persen lebih berisiko dari pria.

Para konsumen mi instan memiliki asupan nutrisi lebih rendah, seperti protein, kalsium, fosfor, zat besi, kalium, vitamin A, niasin, dan vitamin C. Hal tersebut diperparah dengan ditemukannya zat Benzopyrene (zat penyebab kanker) di dalam sejumlah merk mi instan.

Selain itu, penyebab penyakit yang berasal dari mie instan lainnya adalah kandungan monosodium glutamat (MSG). MSG dapat menyebabkan disfungsi otak dan kerusakan berbagai organ. Selain itu, zat ini juga dapat menimbulkan sejumlah penyakit, seperti Alzheimer, Parkinson, dan bahkan penyakit kesulitan belajar.

 

sumber : Yahoo.com

 

LOGO HGN Ke 55 TAHUN 2015

Tue, 01/20/2015 - 08:48

Berikut adalah logo Hari Gizi Nasional ke 55 Tahun 2015

Kandungan Gizi Dalam udang

Mon, 01/19/2015 - 15:15

 

Vemale.com - Banyak orang suka dengan seafood, namun tak jarang juga yang alergi dengan seafood, apalagi udang. Bagi mereka yang alergi, mungkin tidak bisa menikmatinya, tapi bila Anda termasuk yang gemar dengan sajian udang, maka beberapa fakta gizi tentang udang juga perlu Anda ketahui.

Berdasarkan news.health.com, satu ekor udang mengandung sekitar 7 kalori dan jika Anda makan lebih dari 10 ekor udang saja, kalori yang Anda makan masih lebih sedikit dari jumlah kalori dada ayam yang mencapai 85 kalori. Hal ini menunjukkan bahwa udang merupakan makanan rendah kalori.

Kenyataan ini sangat baik, untuk menjaga keseimbangan berat badan. Jadi jika Anda ingin diet, udang adalah salah satu daging yang baik dikonsumsi. Selain itu, udang juga sumber dari protein. Selain kadar airnya yang tinggi, udang memiliki sekitar 20 gr protein dalam satu ekornya. Udang juga memiliki sedikit lemak serta karbohidrat.

Selain kaya protein, udang juga menyediakan berbagai macam nutrisi penting. Empat ons udang kukus mengandung lebih dari 100% kebutuhan harian selenium, lebih dari 75% untuk vitamin B12, lebih dari 50% kebutuhan fosfor, dan lebih dari 30% untuk kolin, tembaga, dan yodium. Selenium terutama berperan penting sebagai antioksidan yang membantu melawan kerusakan sel dan DNA yang menyebabkan penuaan dini, menjaga kekebalan tubuh dan fungsi tiroid.

Antioksidan lain yang terdapat di dalam udang disebut astaxanthin, juga telah terbukti membantu mengurangi peradangan, pemicu penuaan dini dan penyakit. Jadi, tidak ada ruginya memilih menu udang untuk makan weekend ini Ladies.

 

Sumber : http://www.vemale.com/kesehatan/77503-pecinta-udang-ini-3-fakta-gizi-udang-yang-perlu-diketahui.html




APLIKASI








E-Journal Berlangganan




PENGUNJUNG

hit counter