You are here

Feed aggregator

Statement on travel and transport in relation to Ebola virus disease (EVD) outbreak

WHO News - Mon, 08/18/2014 - 17:01
The current Ebola virus disease (EVD) outbreak is believed to have begun in Guinea in December 2013. This outbreak now involves community transmission in Guinea, Liberia and Sierra Leone and recently an ill traveller from Liberia infected a small number of people in Nigeria with whom he had direct contact.

On 8 August 2014, WHO declared the Ebola virus disease outbreak in West Africa a Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) in accordance with the International Health Regulations (2005).

World Humanitarian Day: WHO calls for protection of health workers in conflicts, disasters

WHO News - Mon, 08/18/2014 - 16:00
As major emergencies around the globe increase in scale, complexity and frequency, WHO is calling for an end to the targeting of health workers in conflicts and other humanitarian crises, which represent a breach of the fundamental right to health.

On tomorrow’s World Humanitarian Day, celebrated every 19 August, WHO will draw attention to the continued trend of attacks on health-care workers, hospitals, clinics and ambulances in Syria, Gaza, Central African Republic, Iraq, South Sudan and other areas.

Supervisi Hasil Puldat (Kuesioner) SDT 2014 Korwil V

B2P2VRP Salatiga - Sat, 08/16/2014 - 23:44

Pada hari Selasa  hingga Jumat, 12-15 Agustus  2014, Tim Mandat SDT yang terdiri dari Dr. Dwi Hapsari Tjandrarini, SKM, M.Kes, Ika Dhamayanti, SKM, M.Env, Lely Indrawati, S.Sos, MKM, A. Yudi Kristanto, S.Sos, dan Narendro Arifia, S.Kom berkesempatan mengunjungi B2P2VRP Salatiga dalam rangka supervisi hasil pengumpulan data (kuesioner) SDT 2014 Korwil V. Kegiatan yang dilakukan antara lain :

1.      Pengecekan  kesesuaian jumlah responden (Blok 4) antara Riskesdas 2013 dengan SDT 2014.

2.      Pengecekan  Jumlah Bahan Makanan Kurang dari 2 Jenis

3.      Pengecekan  Berat Badan Tidak Normal dan Berlebih 

WHO Ebola news

WHO News - Fri, 08/15/2014 - 08:27
The scale, duration, and lethality of the Ebola outbreak have generated a high level of public fear and anxiety, which extends well beyond west Africa. Such reactions are understandable, given the high fatality rate and the absence of a vaccine or cure.

Recent intense media coverage of experimental medicines and vaccines is creating some unrealistic expectations, especially in an emotional climate of intense fear. The public needs to understand that these medical products are under investigation. They have not yet been tested in humans and are not approved by regulatory authorities, beyond use for compassionate care.

Ebola virus disease update - west Africa

WHO Disease Outbreak News - Fri, 08/15/2014 - 07:00
Between 12 and 13 August 2014, a total of 152 new cases of Ebola virus disease (laboratory-confirmed, probable, and suspect cases) as well as 76 deaths were reported from Guinea, Liberia, Nigeria and Sierra Leone.

On 13-14 August, some airlines and social media and traditional media vehicles expressed concern that air travel to and from affected countries was a high-risk activity for the spread of Ebola. To correct this misunderstanding, WHO called a press conference at the UN Palais des Nations in Geneva on 14 August. Dr Isabelle Nuttall, speaking on behalf of WHO, said, “Air travel, even from Ebola-affected countries, is low-risk for Ebola transmission.”

WHO Ebola news

WHO News - Fri, 08/15/2014 - 03:27
The outbreak of Ebola virus disease in West Africa continues to escalate, with 1975 cases and 1069 deaths reported from Guinea, Liberia, Nigeria, and Sierra Leone.

No new cases have been detected in Nigeria following the importation of a case in an air traveller last month. Extensive contact tracing and monitoring, implemented with support from the US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), has kept the number of additional cases small.

WHO: Air travel is low-risk for Ebola transmission

WHO News - Thu, 08/14/2014 - 19:00
The World Health Organization (WHO) today reiterated its position that the risk of transmission of Ebola virus disease during air travel remains low.

“Unlike infections such as influenza or tuberculosis, Ebola is not airborne,” says Dr Isabelle Nuttall, Director of WHO Global Capacity Alert and Response. “It can only be transmitted by direct contact with the body fluids of a person who is sick with the disease.”

ORANG TUA KUNCI UTAMA TUMBUH KEMBANG ANAK

Jejaring Gizi Indonesia - Thu, 08/14/2014 - 10:29
Masalah kurang gizi di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan Riskesdas tahun 2013 prevalensi kurang gizi di Indonesia menunjukan peningkatan dari 17,9% tahun 2010 menjadi 19,6% pada tahun 2013. Prevalensi kurang gizi muncul pada saat bayi memasuki usia 6 bulan sampai dengan usia 2 (dua) tahun, kondisi ini sangat dipengaruhi oleh tumbuh kembangnya yang tidak optimal. Oleh karena itu, anak harus memperoleh hak dasar seperti pemenuhan kebutuhan makanan, sandang, dan perumahan serta perlindungan dan penghargaan terhadap hak asasinya.

Demikian disampaikan Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, dr. Anung Sugihantono saat membuka seminar Peran Keluarga dalam Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak, di Jakarta (12/8).

Ditegaskan dr. Anung bahwa dalam UU Nomor 36 tahun Tentang Kesehatan pasal 128  dinyatakan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu Eksklusif, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.

Kewajiban kita untuk menyiapkan anak sejak dini menjadi anak yang sehat, cerdas dan memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Persiapan harus dilakukan secara terencana, tepat, intensif dan berkesinambungan baik oleh keluarga, masyarakat, pemerintah maupun swasta. Salah satu upaya yang paling mendasar untuk menjamin pencapaian kualitas tumbuh kembang anak secara optimal sekaligus memenuhi hak anak adalah memberikan makanan terbaik bagi anak sejak lahir hingga usia dua tahun, kata dr. Anung.

Menurt dr. Anung, tahun pertama tumbuh kembang anak merupakan salah satu periode yang paling dinamis dan menarik, terjadi banyak perubahan besar dalam periode ini. Namun, setiap bayi memiliki kecepatan sendiri-sendiri dalam tumbuh kembangnya, oleh karena itu penting bagi para orangtua untuk mengenali pertumbuhan dan perkembangan anaknya.

Pertumbuhan anak yang baik ditandai dengan adanya perubahan ukuran dan bentuk tubuh atau anggota tubuh, seperti bertambahnya berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Sedangkan proses perkembangan biasanya ditandai dengan adanya perkembangan mental, emosional, psikososial, psikoseksual, nilai moral dan spiritual. Baik pertumbuhan maupun perkembangan keduanya perlu mendapatkan perhatian yang cukup, baik dari keluarga, masyarakat maupun pemerintah.

Upaya-upaya yang mendukung untuk tumbuh kembang optimal bagi anak sudah dan akan terus dilakukan bahkan dikembangkan ke arah yang lebih baik, salah satunya melalui kegiatan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan yang dilakukan di Posyandu, sebagai implementasi dari Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.
Gerakan Nasinal Percepatan Perbaikan Gizi adalah upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui penggalangan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi untuk percepatan perbaikan gizi masyarakat prioritas pada seribu hari pertama kehidupan, yaitu fase kehidupan yang dimulai sejak terbentuknya janin dalam kandungan sampai anak berusia 2(dua) tahun.

Orang tua memiliki peran strategis dalam mendidik dan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Beberapa informasi yang kiranya penting diketahui dan dilakukan  orang tua dalam mendukung tumbuh kembang optimal bagi anaknya adalah; 1) Memenuhi kebutuhan anak akan makanan yang memenuhi standar emas Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) yaitu; Melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), Memberikan ASI Eksklusif; Memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) mulai usia 6 bulan dan Melanjutkan menyusui sampai dua tahun atau lebih; 2) Menjaga kesehatan anak; 3) Berinteraksi dengan anak dengan penuh kasih sayang lewat berbagai kegiatan yang sesuai anak, orang tua dapat memberikan belaian, senyuman, dekapan, penghargaan dan bermain, mendongeng, menyanyi serta memberikan contoh-contoh tingkah laku sehari-hari yang baik dan benar kepada anak.

Dalam seminar yang digagas bersama antara Kemenkes bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bertujuan untuk meningkatkan peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, serta meningkatkan peran aktif Organisasi KOWANI dan PKK sebagai motivator dan fasilitator dalam tumbuh kembang anak. Peserta seminar sebanyak 300 orang yang terdiri dari 200 orang Organisasi Anggota KOWANI, 60 orang PKK Pusat dan Wilayah DKI serta 20 orang Dharma Wanita. Seminar ini diharapkan menjadi langkah awal yang akan diteruskan oleh masing-masing organisasi untuk melaksanakan kegiatan pelatihan bagi anggota organisasinya dan masyarakat.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.

Ebola virus disease update - west Africa

WHO Disease Outbreak News - Wed, 08/13/2014 - 07:00
Between 10 and 11 August 2014, a total of 128 new cases of Ebola virus disease (laboratory-confirmed, probable, and suspect cases) as well as 56 deaths were reported from Guinea, Liberia, Nigeria, and Sierra Leone.

Contact tracing in Guinea, Nigeria, and Sierra Leone has resulted in a range between 94% and 98% of contacts of EVD cases being identified and followed-up. In Liberia, efforts are underway to strengthen contact tracing, but help is needed in this area. The Liberian Army has also recently placed a third province under quarantine as part of the ongoing effort to stop transmission of EVD.

WHO Director-General briefs Geneva UN missions on the Ebola outbreak

WHO Director-General Speeches - Tue, 08/12/2014 - 17:15
Distinguished Member States of the United Nations, ambassadors, diplomats, ladies and gentlemen,

Thank you. I want to share WHO’s assessment of the Ebola outbreak and brief you on the response.

Ethical considerations for use of unregistered interventions for Ebola viral disease (EVD)

WHO News - Tue, 08/12/2014 - 17:01
West Africa is experiencing the largest, most severe and most complex outbreak of Ebola virus disease in history. Ebola outbreaks can be contained using available interventions like early detection and isolation, contact tracing and monitoring, and adherence to rigorous procedures of infection control. However, a specific treatment or vaccine would be a potent asset to counter the virus.

Over the past decade, research efforts have been invested into developing drugs and vaccines for Ebola virus disease. Some of these have shown promising results in the laboratory, but they have not yet been evaluated for safety and efficacy in human beings. The large number of people affected by the 2014 west Africa outbreak, and the high case-fatality rate, have prompted calls to use investigational medical interventions to try to save the lives of patients and to curb the epidemic.

“Menyusui Kemenangan Untuk Kehidupan”

Jejaring Gizi Indonesia - Tue, 08/12/2014 - 15:18

ASI

Direktorat Bina Gizi setiap tahun melaksanakan serangkaian kegiatan program kegiatan yang tujuannya adalah meningkatkan kesadaran semua pihak tentang ASI bagi bayi. Setiap minggu pertama bulan Agustus dijadikan sebagai “Pekan ASI Sedua”  (PAS). Tema yang diangkat adalah “Breasfeeding-A Winning Goal for life” dengan tema nasional Menyusui Kemenangan Untuk Kehidupan.

Deklarasi Innocenti tahun 1990 di Florence Italia mengamanatkan pentingnya mengkampanyekan Air Susu Ibu (ASI) sebagai bagian penting dari upaya “perlindungan, promosi dan dukungan menyusui”. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) adalah pemenuhan hak bagi ibu dan anak. ASI sebagai makanan bayi terbaik ciptaan Tuhan tidak dapat tergantikan dengan makanan dan minuman yang lain. Menyusui juga ha k seorang ibu dan terbukti meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup ibu di masa mendatang.

Rendahnya pengetahuan dan manfaat  tentang pemberian ASI menjadi persoalan pemeritah khususnya program gizi. Cara pemberian makan pada bayi yang baik dan benar adalah : Mulai segera menyusui dalam 1 jam setelah lahir; Menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan,   dan   mulai   umur   6   bulan: Bayi   mendapat   Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang bergizi sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya dan ; Meneruskan menyusui anak sampai umur 24 bulan.

Kementerian Kesehatan telah  menerbitkan   surat   keputusan   Menteri   Kesehatan   nomor: 450/Menkes/SK/IV/2004  tentang  Pemberian  ASI  secara  eksklusif pada bayi di Indonesia. Sebagai bentuk kepedulian dan sangat pentingnya ASI bagi bayi, pada tahun 2012 telah terbit Peraturan Pemerintah (PP) nomor 33 tentang Pemberian ASI Eksklusif dan telah diikuti dengan diterbitkannya 2 (dua) Peraturan Menteri Kesehatan yaitu   :   Permenkes   Nomor   15   Tahun   2013   tentang   Tata   Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu dan Permenkes Nomor  39 Tahun 2013 tentang Susu Formula Bayi dan Produk Bayi Lainnya.

Ibu menyusui yang pada awalnya sukses menyusui dapat mengalami kesulitan dan tantangan pada saat beberapa minggu atau beberapa bulan usai persalinan, yang terlihat dari grafik cakupan ASI Eksklusif yang  mengalami  penurunan pada  waktu  tersebut.  Saat  dimana  ibu tidak mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan adalah saat dimana dukungan dari komunitas sekitarnya sangat diperlukan.

Konseling oleh  teman sebaya  merupakan upaya  yang  efektif dalam menjangkau lebih banyak ibu untuk sukses menyusui. Konselor teman sebaya umumnya seseorang yang berasal dari komunitas sekitar ibu yang telah dilatih untuk membantu ibu menyusui. Kunci keberhasilan praktik menyusui adalah melalui dukungan yang terus menerus dan berkelanjutan kepada ibu menyusui baik di rumah dan komunitas sekitarnya.

Dukungan pihak/sektor kesehatan diantaranya melalui penerapan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) atau Fasilitas Kesehatan Sayang Bayi sangat penting dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI. Cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai 6 bulan meningkat dari 33,6 % pada tahun 2010 menjadi 38,5% pada tahun 2011. Namun cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0–6 bulan di Indonesia tahun 2012 menunjukkan penurunan dari 63,4 % menjadi 54,3%  pada  tahun 2013. Masih rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih terbatasnya  tenaga  konselor  menyusui  di  fasilitas  pelayanan kesehatan,   belum   maksimalnya kegiatan   edukasi,   advokasi Kampanye terkait pemberian ASI maupun MP-ASI,   masih rendah,  ketersediaan sarana dan prasarana KIE ASI dan MP-ASI serta belum optimalnya pembinaan kelompok pendukung ibu menyusui. Untuk itu dalam rangka terus mengkampanyekan dukungan terhadap ibu menyusui, pemerintah Indonesia akan melaksanakan serangkaian kegiatan Penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia Tahun 2014.

Ebola virus disease update - West Africa

WHO Disease Outbreak News - Tue, 08/12/2014 - 01:00
Between 7 and 9 August 2014, a total of 69 new cases of Ebola virus disease (laboratory-confirmed, probable, and suspect cases) as well as 52 deaths were reported from Guinea, Liberia, Nigeria, and Sierra Leone.

The recent treatment of two health workers, who were infected with EVD, with an experimental medicine has raised important questions about whether medicines or treatments that have never been tested or shown to be safe in humans should be used in this outbreak. Currently, quantities of the medicine are limited, which also raises questions about who should receive the treatment.

Tahapan Makanan Pendamping ASI

Jejaring Gizi Indonesia - Mon, 08/11/2014 - 10:29

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selama enam bulan pertama, bayi dianjurkan tidak mengonsumsi apapun selain air susu ibu. Namun setelahnya, sang buah hati sudah bisa menyantap makanan selain ASI. Secara bertahap, bayi bisa menyicip menu lain yang cair, kemudian lembut, dan berlanjut ke makanan kasar.

Menurut dokter spesialis anak, Franda Prawita, proses pengenalan makanan pendamping ASI sebaiknya dilakukan sejak usia enam bulan ke atas. Sebab pada masa itu, sistem pencernaan bayi mulai terbentuk dan kebutuhan akan nutrisi semakin bertambah. Maka tidak heran jika bayi terlihat kerap memasukkan tangan ke mulut, karena rasa lapar yang tidak cukup dipenuhi oleh ASI.

“Kalau pemberian makanan pendamping ASI terlambat, bisa berakibat bayi tumbuh tidak normal. Seperti kekurangan berat atau tinggi badan,” kata dia kepada Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia, Jumat, 18 Juli 2014.

Untuk mulai memperkenalkan makanan kepada bayi, Franda melanjutkan, bisa dengan menu yang mengandung zat besi, protein, dan karbohidrat. Seperti pisang, wortel, alpukat, sayuran hiijau, buah-buahan, atau hati ayam. Upayakan, makanan awal yang diberikan masih bertekstur lembut. Sehingga saluran pencernaan buah hati tidak kaget saat menerimanya.

“Perhatikan reaksi bayi, jika ada tanda tidak suka ataupun alergi mungkin ada masalah pada jenis makanan atau tingkat kehalusannya,” kata dia. “Kalau terjadi respon negatif, jangan ragu bawa ke dokter untuk berkonsultasi.”

Apabila bayi menginjak usia 7-8 bulan, makanan pendamping dengan tekstur yang sedikit kasar sudah bisa diberikan. Kemudian berlanjut ke makanan yang lebih kasar ketika memasuki umur 9-10 bulan. “Tahapan ini untuk melatih pencernaan, sekaligus menambah kualitas asupan nutrisi secara perlahan sesuai kebutuhan bayi,” kata dia.

Tahap selanjutnya, sekitar usia 11-12 bulan bayi sudah bisa mengonsumsi bubur tim dengan ditemani sayuran pelengkap. Dengan catatan, racikan bumbu yang digunakan tidak terlalu banyak mengandung garam, merica, cabai ataupun memiliki bau yang sangat menyengat. Sebab meski telah siap menyantap makanan kasar, bayi tetap memiliki saluran percernaan yang sensitif. Menu dengan banyak bumbu bisa berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pada tubuh bayi.

“Perhatikan juga kebersihan alat makan, karena kuman sangat mudah masuk ke tubuh sang bayi dan berisiko terhadap kesehatannya,” kata dia.

 

sumber : https://id.she.yahoo.com/begini-tahapan-makan-pendamping-asi-161846032.html

kUNJUNGAN KABADAN Ke B2P2VRP Salatiga

B2P2VRP Salatiga - Sun, 08/10/2014 - 17:49

Pada Kamis, tanggal 07 Agustus 2014, Kepala Badan Litbangkes, Prof. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, melakukan kunjungan ke Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit. Ini merupakan  kunjungan yang pertama kalinya bagi beliau setelah dilantik sebagai Kabadan Litbangkes pada bulan Mei lalu.  Kedatangan beliau langsung disambut  oleh Kepala B2P2VRP Salatiga, Ibu Dr. Vivi Lisdawati, M.Si.Apt serta para pejabat struktural.  Adapun tujuan dari kunjungan ini untuk lebih mengenal satuan kerja Badan Litbangkes yang berada di Kota Salatiga. Selesai beramah tamah dengan para pejabat struktural, Prof. Tjandra diajak berkeling melihat fasilitas yang dimiliki oleh B2P2VRP. Adapun tempat pertama yang beliau tuju adalah Museum Dunia Vektor dan Reservoir Penyakit (DUVER). Didalam, beliau di dampingi oleh Ibu Vivi Lisdawati berkeliling melihat isi dari Duver. Dalam Duver bisa didapatkan berbagai informasi dan dokumentasi terkait vektor dan reservoir di Indonesia, dilengkapi dengan spesimen serta display / peragaan ekobionomi pengendaliannya. Pendirian Dunia Vektor ini dimaksudkan agar menjadi tempat rujukan berbagai informasi tentang pengendalian vektor dan reservoir penyakit.

Barriers to rapid containment of the Ebola outbreak

WHO News - Sat, 08/09/2014 - 03:27
The outbreak of Ebola virus disease in west Africa continues to evolve in alarming ways, with no immediate end in sight. Many barriers stand in the way of rapid containment.

The most severely affected countries, Guinea, Liberia, and Sierra Leone, have only recently returned to political stability following years of civil war and conflict, which left health systems largely destroyed or severely disabled.

Ebola virus disease update - West Africa

WHO Disease Outbreak News - Fri, 08/08/2014 - 17:00
Between 5 and 6 August 2014, a total of 68 new cases of Ebola virus disease (laboratory-confirmed, probable, and suspect cases) as well as 29 deaths were reported from Guinea, Liberia, Nigeria, and Sierra Leone.

On Wednesday, 6 August and Thursday, 7 August, an Emergency Committee was held via teleconference to determine whether the current outbreak constitutes a Public Health Emergency of International Concern. After discussion and deliberation on the information provided, the Committee advised that:

WHO Statement on the Meeting of the International Health Regulations Emergency Committee Regarding the 2014 Ebola Outbreak in West Africa

WHO News - Fri, 08/08/2014 - 15:18
The first meeting of the Emergency Committee convened by the Director-General under the International Health Regulations (2005) [IHR (2005)] regarding the 2014 Ebola Virus Disease (EVD, or “Ebola”) outbreak in West Africa was held by teleconference on Wednesday, 6 August 2014 from 13:00 to 17:30 and on Thursday, 7 August 2014 from 13:00 to 18:30 Geneva time (CET).

Members and advisors of the Emergency Committee met by teleconference on both days of the meeting1. The following IHR (2005) States Parties participated in the informational session of the meeting on Wednesday, 6 August 2014: Guinea, Liberia, Sierra Leone, and Nigeria.

WHO to convene ethical review of experimental treatment for Ebola

WHO News - Wed, 08/06/2014 - 19:01
Early next week, WHO will convene a panel of medical ethicists to explore the use of experimental treatment in the ongoing Ebola outbreak in West Africa. Currently there is no registered medicine or vaccine against the virus, but there are several experimental options under development.

The recent treatment of two health workers from Samaritan’s Purse with experimental medicine has raised questions about whether medicine that has never been tested and shown to be safe in people should be used in the outbreak and, given the extremely limited amount of medicine available, if it is used, who should receive it.

Ebola virus disease update - West Africa

WHO Disease Outbreak News - Wed, 08/06/2014 - 17:00
Between 2 and 4 August 2014, a total of 108 new cases of Ebola virus disease (laboratory-confirmed, probable, and suspect cases) as well as 45 deaths were reported from Guinea, Liberia, Nigeria, and Sierra Leone.

A mission briefing with representatives from Member States was held on 5 August at the World Health Organization (WHO). Information about the nature of Ebola virus disease (EVD) was highlighted. This was followed by outlining the essential components for control, including the need for national leadership, improved care and case management, identifying transmission chains and stopping disease spread, and preventing further outbreaks. Among the critical issues are: cross-border infections and travelers; partners reaching the limits of their capacity and ability to respond rapidly, safely, and effectively; and concerns about the socio-economic impact of continued transmission.

Pages

E-MAIL LOGIN


@litbang.depkes.go.id

  


APLIKASI









E-Journal Berlangganan




U L P



PENGUNJUNG

hit counter