|
Senin, 31 Desember 2007 -
16:32 wib
Chicago, Senin - Tidur yang cukup dan
teratur setiap hari memang resep paling mujarab dalam menjaga kesehatan.
Dengan tidur cukup, tubuh dapat memulihkan diri dari rasa capek.
Organ-organ tubuh pun menjadi rileks dan beristirahat sehingga menetralkan
kerusakan yang terjadi akibat kegiatan sehari-hari.
Apa yang akan terjadi bila kita kekurangan tidur? Tubuh tentu akan
terganggu keseimbangannya, termasuk fungsi metabolisme. Hasil riset
terbaru membuktikan, tiga hari Anda mengalami kurang tidur, kemampuan
tubuh dalam memproses glukosa akan menurun secara drastis, sehingga dapat
meningkatkan risiko mengidap diabetes.
Adalah para ahli dari University of Chicago yang berhasil
mengungkap temuan ini. Menurut mereka, tidur tidak nyenyak selama tiga
hari berturut-turut akan menurunkan toleransi tubuh terhadap glukosa,
khususnya pada orang muda dan dewasa.
Dari riset juga disimpulkan, walaupun kemampuan tubuh memproses glukosa
dapat menyesuaikan diri saat gangguan tidur kronis, tetapi buruknya pola
tidur pada orang dewasa serta pengidap obesitas dapat memicu hadirnya
diabetes.
Tidur lelap atau ''slow wave sleep,'' merupakan jenis tidur yang
paling restoratif dan telah terbukti sangat penting bagi kesehatan mental.
Riset para ahli di University of Chicago ini merupakan bukti
signifikan pertama pentingnya tidur lelap terhadap fisik.
''Penelitian sebelumnya dari laboratorium telah menunjukkan beragam
hubungan antara gangguan tidur kronis maupun parsial, perubahan nafsu
makan, ketidaknormalan metabolime, obesitas, dan risiko diabetes,'' ungkap
Eve Van Cauter yang mempublikasikan temuannya dalam Proceedings of the
National Academy of Sciences edisi Rabu mendatang ini.
Riset ini melibatkan sembilan responden bertubuh sehat berusia 20 hingga
31 tahun. Mereka harus menginap selama lima malam di laboratorium dan
mulai tidur pukul 11 malam kemudian bangun pada pukul 7.30 pagi.
Pada dua malam pertama, respoden dibiarkan tidur nyenyak. Namun memasuki
hari ketiga, kamar mereka dipasangi speaker yang memperdengarkan
suara-suara rendah. Suara ini diperdengarkan ketika pola otak para
responden mengindikasikan mereka sedang memasuki fase tidur nyenyak.
Walaupun terdengar pelan dan tak cukup keras untuk membangunkan mereka,
suara rendah ini mengurangi kualitas tidur lelap mereka hingga sekitar 90
persen. Suara ini rupanya membawa mereka kembali dari fase tidur nyenyak
ke fase tidur ringan.
Pola tidur tipikal setiap reponden selama riset ini pun berbeda. Untuk
responden usia di atas 60 tahun, secara umum hanya mengalami fase tidur
nyenyak selama 20 menit saja, sedangkan pada orang dewasa 80 hingga 100
menit.
Dalam pengujian di laboratorium, sensitivitas insulin para responden
menurun hingga 25 persen setelah tidurnya terganggu. Artinya, mereka
membutuhkan lebih banyak insulin untuk mengatur kadar glukosa yang sama.
Meskipun ekresi insulin tidak mengalami peningkatan pada delapan responden,
mereka mengalami kenaikan kadar glukosa dalam darah sebanyak 23 persen.
''Riset ini merekomendasikan bahwa strategi dalam memperbaiki kualitas
serta kuantitas tidur dapat mencegah atau menunda timbulnya diabetes tipe
2 pada populasi yang berisiko,'' tandas Van Cauter. (AFP/ac)
Sumber :
http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0712/31/163209.htm
Back to Top
|
Home
|