|
Selasa, 03 Januari 2006
Penyakit jantung koroner dua kali lebih besar
mengancam orang-orang yang mempunyai kadar kolesterol 200-240 mg persen
dibandingkan mereka yang kadarnya di bawah 240 mg persen.
Kolesterol adalah komponen asam lemak yang terdapat dalam darah. Zat ini
sangat diperlukan oleh tubuh untuk proses-proses tertentu bagi
kelangsungan hidup. Di antaranya untuk membentuk hormon, membentuk sel,
dan merawat sel-sel saraf.
Tetapi, dalam jumlah berlebih kolesterol menjadi ancaman serius bagi tubuh,
bahkan bisa menyebabkan kematian. Penyakit yang disebabkan kolesterol
adalah aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), penyakit jantung
koroner, stroke, tekanan darah tinggi, dan hiperkolesterolemia.
Kadar kolesterol dalam darah bisa diatasi dengan pengobatan secara
tradisional dengan memakai aneka tumbuhan yang banyak hidup di Indonesia.
Praktik ini sudah berlangsung dari generasi ke generasi.
Yang biasa dimanfaatkan untuk pengobatan kolesterol tinggi adalah daun
jati belanda (Guazuma ulmifolia), kemuning (Murraya paniculata),
dan tempuyung (Sonchus arvensis).
Daun jati belanda dipercaya bisa meluruhkan lemak dan menurunkan kadar
kolesterol dalam darah. Tanaman yang berasal dari negara Amerika beriklim
tropis ini tumbuh secara liar di wilayah tropis lainnya seperti di Pulau
Jawa.
Jati belanda mengandung senyawa tannin, damar, triterpen, alkaloid,
karotenoid, flavonoid, dan asam fenol. Selain bisa menurunkan kadar
kolesterol, tanaman ini juga berkhasiat untuk melangsingkan tubuh,
astrigen, sebagai obat diare dan obat batuk.
Sedangkan kemuning mengandung atsiri, damar, tannin, glikosida, dan
meransin. Tanaman yang biasa tumbuh liar di semak belukar, tepi hutan,
atau ditanam sebagai tanaman hias dan tanaman pagar ini bisa dipakai untuk
mengobati radang buah zakar (orchitis), radang saluran napas (bronkhitis),
infeksi saluran kencing, kencing nanah, keputihan, sakit gigi, dan haid
tidak teratur. Juga untuk mengurangi lemak tubuh berlebihan, pelangsing
tubuh, nyeri pada tukak (ulkus), memar akibat benturan, rematik, keseleo,
digigit serangga dan ular berbisa, ekzema, dan luka terbuka pada kulit.
Tanaman tempuyung memiliki rasa pahit dan bersifat mendinginkan. Pada
prinsipnya semua bagian tanaman ini bisa dimanfaatkan. Tapi, yang paling
sering adalah bagian daunnya. Penurun kadar kolesterol tinggi dengan
kandungan kimia saponin, flavonoida, politenol, alfa-lactucerol, beta-lactucerol,
manitol, inositol, kalium, silika, dan taraksasterol adalah manfaat yang
bisa didapatkan dari daun tempuyung.
Bila diramu, jati belanda, kemuning, dan tempuyung bisa menjadi obat
herbal untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Inilah yang
dilakukan oleh PT Indofarma. Ketiga herbal tadi diramu menjadi sebuah
produk herbal yang diberi nama Prolipid. Sesuai dengan kandungan
bahan-bahan pembuatnya, herbal ini membantu menurunkan kadar kolesterol
yang tinggi dalam darah.
Hasil penelitian
Senyawa tanin dan musilago yang terkandung dalam daun Jati belanda
dapat mengendapkan mukosa protein yang ada di dalam permukaan usus halus
sehingga dapat mengurangi penyerapan makanan. Dengan demikian proses
obesitas (kegemukan) dapat dihambat.
Hasil penelitian tentang daun jati belanda memperkuat penggunaannya secara
ilmiah sebagai tanaman obat. Ekstrak daun jati belanda yang diberikan
secara oral dengan konsentrasi 15 persen dan 30 persen dapat menurunkan
kadar kolesterol total serum kelinci.
Sedangkan hasil penelitian pada daun kemuning menunjukkan, pemberian infus
daun ini sebesar 10 persen, 20 persen, 30 persen, dan 40 persen sebanyak
0,5 ml pada mencit dapat menurunkan berat badannya secara bermakna. Ini
menunjukkan telah terjadi peningkatan pembakaran lemak tubuh. Kolesterol
merupakan salah satu komponen dari lemak.
Beberapa teori yang lain menyebutkan bahwa khasiat daun jati belanda dan
kemuning adalah karena kandungan damarnya. Mekanismenya sebagai berikut,
kolesterol yang terbentuk menjadi asam empedu berikatan dengan damar dan
segera dieksresi melalui feses. Cepatnya asam empedu dieksresikan oleh
tubuh akan disertai oleh cepatnya pembentukan asam empedu sehingga
kolesterol dalam tubuh segera diubah menjadi asam empedu. Dengan demikian,
proses ini akan mengurangi kadar kolesterol.
Sementara itu, bahan simplisia yang digunakan berkhasiat meningkatkan
metabolisme tubuh sehingga pembakaran timbunan lemak dalam tubuh akan
meningkat. Dengan demikian akan mengurangi kadar lemak tubuh. Ini berarti
akan mengurangi terbentuknya kolesterol karena lemak merupakan faktor
risiko tinggi terhadap kolesterol.
Karena merupakan bahan-bahan alami, jika digunakan secara teratur dan
terukur, herbal-herbal ini bisa membantu menurunkan kadar kolesterol dalam
darah.
Pentingnya Mengendalikan Kolesterol
Lipid atau lemak terdapat dalam makanan kita sehari-hari. Lemak tidak
pernah larut dalam plasma darah. Kecuali bila berikatan dengan protein
tertentu, ia bisa menyatu dan mengambang dalam darah.
Kolesterol, ditinjau dari sudut kimiawi, diklasifikasikan dalam golongan
lipida (lemak) yang berkomponen alkohol steroid. Sebagian besar berfungsi
sebagai sumber kalori dalam makanan.
Lemak sangat dibutuhkan oleh tubuh. Selain sebagai cadangan makanan dan
pelarut vitamin A, D, E, dan K, lipid juga berfungsi untuk memelihara
jaringan saraf dalam tubuh. Tetapi, kadar lemak berlebihan akan memberikan
efek yang serius berupa kerusakan pembuluh koroner. Kolesterol berperan
dalam proses pengapura dinding pembuluh darah koroner.
Menurut Product Manager PT Indofarma, Agus Kuanto, unsur lemak dalam
plasma adalah kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas.
Tiga unsur yang pertama berikatan dengan protein tertentu membentuk lipo
protein. Sedangkan unsur lemak yang terakhir berikatan dengan albumin.
Lemak yang berasal dari makanan mengalami pemecahan menjadi asam lemak
bebas, trigliserida, fosfolipid dan kolesterol selama proses pencernaan
dalam usus karena di-assembling dan diserap ke dalam darah dalam
pembentukan kilomikron.
''Menurut penelitian di Amerika Serikat, kadar kolesterol dianggap tinggi
atau hiperkolesterolemia jika mencapai 240 mg persen,'' katanya.
Penyakit jantung koroner dua kali lebih besar mengancam orang-orang yang
mempunyai kadar kolesterol 200-240 mg persen dibandingkan mereka yang
kadarnya di bawah 240 mg persen.
Ancaman ini akan meningkat menjadi empat kali lebih besar apabila kadar
kolesterolnya di atas 300 mg persen. Kadar kolesterol dalam darah dapat
berubah-ubah setiap waktu tergantung pola makan. Namun, perubahan itu
tidak seberapa besar.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kolesterol adalah faktor genetik, umur,
jenis kelamin, dan lingkungan. Kadar kolesterol ini cenderung meningkat
pada orang-orang yang gemuk, kurang berolahraga, stres, dan perokok.
''Pola makan sehari-hari tidak dapat diabaikan begitu saja. Sebab diet
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya kadar
kolesterol dalam darah,'' ungkap Agus. (jar )
Sumber :
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=229459&kat_id=150
Back to Top
|
Home
|